Senin, 16 Februari 2015

PROGRAM LITERASI, BIKIN SISWA BERPRESTASI


Asrama Haji Surabaya, Gedung A.2 Lantai 2, Kamar Nomor 219. Itulah tempat yang menjadi peristriahatan saat kegiatan belajar Literasi selesai dilakukan seharian ini. Hari ini adalah hari kedua IGI Aceh Timur dan saya berada di Kota Literasi Surabaya. Kegiatan padat hari ini dimulai dari pertemuan di Ruangan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Pukul 09.00 WIB kegiatan dimulai. Salut, tepat waktu. Meskipun pak Kadis, Dr. Ichsan terlambat 15 menit, tidak mengganggu jalannya pertemuan. Bu Eko sebagai Kabid Dikdas mewakili presentasi pak Kadis. Beliau terlambat karena sedang menerima tamu. Orang penting, selalu dibutuhkan orang lain. Secara detil, kegiatan di Dispendik Kota Surabaya dapat dibaca di sini.

Lepas dari Dispendik Kota Surabaya, perjalanan berlanjut di Balai Pemuda. Di gedung ini terdapat Perpustakaan Kota Surabaya yang tak kalah fenomenal dibandingkan dengan keberadaan Dinas Pendidikannya. Begitu banyak actor hebat, hehehe wajar kalau Kota ini berani, gak malu-malu, dengan terang-terangan menyatakan sebagai kota Literasi. Kota yang memang siap menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin belajar lebih dalam tentang literasi. Adalah Bu Arini Pakistianingsih yang memberikan presentasi kegiatan literasi kota Surabaya. Perpustakaan menjadi ujung tombang dalam pemberian pendampingan program literasi sekolah maupun TBM (Taman Bacaan Masyarakat). TBM yang ada di Kota inipun luar biasa, sudah 1000 lebih TBM berhasil dibentuk. Bukan hanya dibentuk, TBM ini aktif dalam mendorong peningkatan budaya baca di Kota Surabaya.

Pertemuan di perpus dipersingkat. Hal ini berhubungan dengan jadwal di sekolah. Khawatir para siswa udah pulang, bisa gak kecapai maksud. Segera meluncur ke SMAN 5 Surabaya. Sekolah hebat. Orang-orang besar banyak yang jadi alumni di sekolah ini. Ada Bung Karno, Tri Risma (Walikota Surabaya), Rudi Hartono, dan sederet nama tenar lainnya. "Gila!" gumam saya dalam hati. Sekolah ini ternyata bukan sekolah sembarangan.Gedung tuanya tidak boleh dirombak karena merupakan sekolah dengan status cagar budaya. Dibuat pada zaman belanda, tahun 1925. Pantas saja suasana pujangga lama terasa kuat di sekolah ini.

Romongan diterima langsung oleh Ibu Sri Widianti. Kepala sekolah perempuan yang punya prestaasi segudang. Tak diragukan lagi bahwa beliau terpilih karena prestasi.Beda dengan di kampong sebelah. Kata Pak Satria Dharma (ketua Komite Sekolah), seleksi kepala sekolah di Surabaya ini melebihi seleksi calon pimpinan KPK. Hehehe, bisa aja pak Ketua IGI ini berkelakar.

Segudang prestasi yang dicapai di sekolah ini, ternyata tidak lepas dari masukan sang ketua komite. Mereka melaksanakan program literasi dengan sangat baik. Program literasi di sekolah ini dipimpin oleh seorang Koordinator literasi. Wah, jabatan yang gak ada konversi jam tatap muka. Mau gak yah sekolah di Aceh Timur menduduki jabatan tanpa konversi jam mengajar. ini. Hehehe.

Orang besar selalu saja punya banyak pengalaman. Setelah memberikan makan siang kepada delegasi tim SMA IGI Aceh Timur, kami pun pamit. Di ruang kesenian, Ibu Kepsek yang sedang puasa ini memberikan pesan pada saya. Terima kasih Ibu, saya akan ingat pesan itu. Bahwa jabatan yang mestinya saya terima adalah jabatan yang bisa mengambil keputusan. Hehehe....

Yang tidak habis pikir, program literasi membaca di SMAN 5 Surabaya ini sampai dapat menghitung berapa kecepatan membaca siswa selama 3 tahun mengikuti program ini. Luar biasa. Kecepatan membaca ini ternyata punya kolerasi terhadap prestasi siswa. 100% siswa lulusan sekolah ini diterima di perguruan tinggi negeri dalam dan luar negeri.

Salam literasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar