Rabu, 25 Februari 2015

PERAN LITERASI DI GANG DOLLY


Tempat bersejarah ini ada di sekitara Dolly. Sebuah cerita lama yang tak mudah lekang dalam ingatan warga Surabaya. Saking sudah melekatnya ingatan warga dengan gang Dolly, seorang guide di Surabaya, mas Bowo namanya, pernah bilang ke saya bahwa kalau datang ke Surabaya harus tahu sejarah wali dan juga sejarah Dolly. Hehehe, mas Bowo bisa aja ngeramu jembatan ingatan kita.

Apa yang ada di Dolly sebelum ditutup oleh Pemko Surabaya pada 2014 lalu adalah cerita duka. Duka kemanusiaan yang tak bisa dibayangkan daya penghancurnya. Menghancurkan moral, karena tidak ada lagi rasa malu atau merasa bersalah telah berkolaborasi mencari nafkah dari hasil penjualan, maaf, "kenikmatan sexual" para wanita. Menghancurkan kreatifitas laten manusia, sebab lingkungan hanya mengajarkan satu hal "prostitusi". "Jangan sok suci, bisnis tetap bisnis, om." Begitulah kalmiat pembelaan yang terlontar saat ada seseorang yang ooba memberi nasehat kebenaran, baik kebenaran sebagai pesan agama maupun pesan kemanusiaan.

Dolly memancarkan pesonanya di masa lalu. Banyak kepala yang hidup dari aktivitas para penghuni dan tamunya. Pendapatan yang tidak kecil. Satu orang pekerja sex nya bisa melayani 5 sampai 10 orang tamu (tamu khusus yang hidungnya belang) hehehe. Setiap tamu tentu rela menghibahkan (biar lebih menghiba kita pake istilah itu) puluhan lembar rupiahnya. Hibah yang tidak bebas nilai, tentu ada yang diharapkan dibalik hiibah. Mirip-miriplah dengan kasus hibah saat Tsunami lalu, katanya hibah tapi kok mau ditukar dengan kebebasan hukuman mati warga suatu Negara. Rupiah yang dikeluarkan juga berbeda-beda, tergantung pada usia pekerja sex yang diinginkan Pokoknya miriplah dengan menu-menu di resto-resto kota besar. Ada barang ada harga.

Bukan hanya pekerja sex. Memang ada pekerjaan yang secara umum dapat dikatakan sah, lumrah, dan di luar Dolly pekerjaan tersebut adalah halal. Misalnya, ibu-ibu pencuci seprai dan sarung bantal. Room service, security, tukang bikin kopi, jasa antar jemput, penjual rokok, bisnis karaokean. Dan masih banyak lagi lah kerjaan ikutan yang muncul apabila aktivitas Wisma aktif menjelang maghrib. Tentu saja pekerjaan halal itu menjadi tidak benar-benar halal tatkala sipelaku usaha tahu dan ngerti dia kerja untuk siapa dan dibayar pake uang "hibah" tadi. Saya gak berani dan ngeri membayangkan hal itu. Mendengar cerita ini dari warung kopi di depan gang tadi saja saya sudah geleng-geleng kepala. Tapi gelengnya pelan, jadi gak ada yang tahu.

Saat kebenaran datang, kebathilan pasti hancur. Ternyata tidak semua orang pasarah dengan apa yang terjadi di sekitara Dolly. Seorang sahabat bersama teman-teman di Taman Baca Masyarakat menolak segala bentuk aktivitas prostitusi di Dolly. Pak Karsono lalu berupaya menghimpun segala potensi yag ada untuk mendiirkan TBM di kampong nya itu. TBM yang menjadi Oase penyadaran memutus mata rantai usaha jual beli gairah sexual. Upayanya berhasil. Dolly sekarang sudah ditutup. Bahkan ada anak yang aktif  di TBM itu telah memberikan pesan moral pada ibunya yang seorang PSK, "Ibu, sampai kapan kamu menafkahi kami dengan uang haram?"

Kini TBM itu telah mengambil peran penting memutus mata rantai prostitusi. Bersama orang-orang yang tak ingin mewairisi usaha keluarga bisnis prostitusi, atau pengelolaan wisma sex, mereka telah menyampaikan pesan pentingnya generasi muda dididik dan diajar. Proses belajar melalui gerakan literasi terpadu di TBM Putat Jaya telah benar-benar menginspirasi saya. Ternyata gerakan literasi yagn sederhana itu bisa mendorong hilangnya bisnis haram di Gang Dolly.

Salam literasi

1 komentar: