Senin, 17 November 2014

GURU MISKIN REFERENSI MURID KENA GETAHNYA



Diskusi informal tim penilai KTI Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur sering terjadi tanpa direncanakan. Kadang setelah selesai satu kegiatan kami bincang-bincang banyak hal tentang kondisi Pendidikan Aceh Timur, termasuk kondisi terkini para guru yang bertugas di Aceh Timur. Memang tidak semua guru Aceh Timur yang berjumlah 4500 orang itu kami bahas, karena itu pasti tidak mungkin dilakukan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Diskusi ini juga tidak menuntut tempat khusus, kadang di kantin, kadang di ruang pengawas (ruang darurat), atau bahkan terjadi di dalam mobil pribadi Pak Korwas yang sudah seperti mobil dinas itu. Seperti yang terjadi hari jumat lalu, 14 Nopember 2014. Waktu itu ada pertemuan kepala sekolah UPTD Darul Aman dengan pihak dinas di SMPN 3 Darul Aman.

Pembicaraan saya buka dengan rencana Ikatan Guru Indoensia (IGI) Kabupaten Aceh Timur yang akan melaksanakan seminar Hasil Penelitian Tindakan Kelas pada akhir tahun ini. Diskusi panjang akhirnya terfokus pada kualitas hasil Karya Tulis atau Laporan PenelitianTindakan Kelas guru Kabupaten Aceh Timur. Sejak menyelesaikan tugas belajar, saya memang baru satu kali mengikuti kegiatan Guru Beprestasi di Kabupaten Aceh Timur. Pada kegiatan tersebut ada penilaian tentang KTI PTK. Nah dari situ juga saya dapat bahan yang bisa didiskusikan bersama tim penilai KTI Kabupaten Aceh Timur.

Kualitas PTK yang pernah saya nilai tahun 2013 memang tidaklah lebih baik dari hasil PTK teman-teman guru Aceh Timur yang pernah saya baca pada tahun 2009. Kalau mau adil dalam menilai tentu bisa dikatakan yang tahun 2009 itu masih lebih baik. Menapa? Karena pada tahun 2009 tersebut masih sedikit sekali contoh PTK yang bisa dibaca oleh. Sehingga PTK yagn dibuat pada saat itu sangat kekurangan referensi. Apalagi pada saat itu perekmbangan teknologi informasi - termasuk didalamnya jumlah warkop yang memiliki wifi - belum memadai seperti sekarang.

Namun fakta yang ada saat ini dapat kita lihat pada hasil laporan PTK teman-teman guru di Aceh Timur. Bukan bicara pada kualitas atau keaslian PTK itu hasil tindakan ril atau rekayasa, tetapi dari sisi bahan bacaan atau referensi pendukungnya. PTK itu terkesan banyak yang asal-asalan dalam hal referensinya. Kalaulah para guru masih miskin referensi bagaimana mungkin bisa kaya dalam berbahasa tulisan berbentuk Laporan PTK.

Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan. Guru harus diberikan bahan bacaan yang memadai. sehingga kemampuan literasi menulisnya juga akan bertambah. Guru yang kaya literasi ini tentu akan membuaskan dahaga para siswa dalam belajar. Tanpa Literasi tinggi yang dimulai dari bahan bacaan yang tersedia, murid kemungkinan akan kena getahnya.

Sudahkah kita membaca sesuatu yang penting hari ini...?

Salam IGI