Kamis, 18 Desember 2014

"GERAK" SEBAGAI PILAR PEMBENTUK KARAKTER (Bagian I)


Medan, 16 Desember 2014

Mas Dwi (yang duduk menghadap ke peserta) adalah salah seorang WI PPPPTK Penjas dan BK Parung - Bogor. Beliau adalah salah seorang Fasilitator pada kegiatan PKB-KSM ProDEP Kabupaten Aceh Timur. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari, dimulai dari tanggal 14 dan berakhir pada tanggal 16 Desember 2014 di PPPPTK Bangunan dan Teknik Medan. Pertemuan dengan Mas Dwi ini terjadi karena saya menjadi salah satu pengawas yang mendampingi 5 orang kepala sekolah binaan saya.

Sekolah binaan yang saya damping di kegiatan ProDEP kali ini adalah : 1. SMPN 1 Lokop, 2. SMPN 1 Peunaron, 3. SMPN 1 Julok, 4. SMPN 4 Ranto Peureulak, dan 5 SMPN 2 Ranto Peureulak. Dari 5 sekolah binaan, 1 orang kepala sekolah binaan saya tidak bisa hadir. Ketidakhadiran itu dikarenakan Kepala Sekolah tersebut harus mendampingi orang tuanya yang sakit di Rumah Sakit Zainal Abidin Kota Banda Aceh.

Di sesi akhir - saat pelaksanaan post test - saya mendapat kesempatan berdiskusi panjang lebar dengan Mas Dwi yang ternyata punya wawasan sangat luas. Namanya juga WI, memang harus luas yah wawasannya. Perbincangan dimulai dengan pertanyaan sederhana saya ke mas Dwi,
        "kenapa tidak ada lagi materi Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) di sekolah?"
Mas Dwi senyum-senyum dan langsung memberikan tanggapan pertanyaan itu dengan penuh semangat. Menurut beliau SKJ dihentikan karena beberapa alasan, antara lain:
1. Membutuhkan slot waktu terlalu panjang. Satu paket SKJ bisa membutuhkan waktu 2 bulan, bahkan lebih untuk pembelajarannya. Sehingga bila tetap diajarkan maka materi Penjas (Gerak) lain tidak memiliki waktu yang cukup untuk dibelajarkan.
2. Bergerak dengan berpikir. Anak-anak (khususnya SD) memerlukan gerak yang tanpa berpikir. GErak tanpa berpikir ini akan membuat anak-anak bergerak dengan gembira, ini berbeda dengan SKJ yang gerakannya sudah baku. Memang ada daerah yang menjadwalkan HARI GERAK, mislanya pada hari Sabtu. Pada hari itu peserta didik diajak bergerak tetapi gerak yang dipraktekkan adalah gerak bebas (aerobic). Jadi gerak yang dilaksanakan mendatangkan keceriaan.

Itulah antara lain penjelasan ilmiah sehingga saya tidak lagi melihat ada SKJ di sekolah-sekolah binaan saya...hehehe, tksh Mas Dwi.

Selain itu, ternyata gerak dalam pembelajaran di sekolah-sekolah dapat dikelompokkan menjadi 3,
1. Gerak untuk bebas / rekreasi (memunculkan keceriaan)
2. Gerak untuk kebugaran tubuh
3. Gerak untuk prestasi

Gerak bebas / rekreasi ini yang mestinya mendapat porsi lebih banyak. Gerakan-gerakan ini biasanya kita temukan dalam permainan-permaintan tradisional rakyat Indonesia. Seperti permaintan gobak sodor, bentengan, dan lain-lain. Karena banyak melakukan gerakan rekreasi inilah anak-anak pada zaman dahulu hidup bersama dalam kegembiraan tiada tara. Meskipun tidak segemerlap saat ini, namun dunia anak pada masa saya dulu tak kalah ceria. Selalu ada canda dan tawa saat beragam permainan di lakukan, di sekolah bahkan di luar sekolah. Malah tak jarang berbagai gerak-gerak kami lakukan di pinggilan kali sipon, atau bahkan di gupakan kerbau sekalipun.
Gerakan rekreasi pada masa lalu juga bisa dilakukan pada malam hari. Terutama pada malam minggu, kami sering main petak umpet rombongan. Wah serunya, kita lari ke barat, ke timur, utara dan selatan untuk tetap bersembunyi. Tak jarang permainan penuh gerak lari ini berakhir menjelang tengah malam. Kalau sekarang ada sekelompok anak - anak lari di malam hari malah dicurigai sebagai pelaku tindak criminal.

Selain gerak rekreasi, ada gerak yang diajarkan di sekolah dengan tujuan kebugaran tubuh. Gerakan-gerakan ini dirancang agar siswa yang melakukan gerakan itu memiliki kondisi tubuh yang fit sehingga mampu belajar dengan baik, memiliki hasil belajar yang tinggi. Di antara gerakan ini misalnya peregangan, latihan fisik ringan dan gerak latihan liannya. Tujuan gerakan ini bukan untuk mendapatkan siswa yang punya ketahan fisik paling tinggi, atau punya keahlian terbaik pada gerakan tertentu. GErakan pada tipe ini adalah untuk menjaga agar kondisi siswa fresh dan siap untuk belajar, bukan malah sebaliknya. Seringkali ditemukan di sekolah-sekolah, siswa justru tidak siap mengikuti pelajaran selanjutnya setelah jam penjaskes berakhir.

Gerak prestasi juga diajarkan di sekolah. Gerak prestasi ini justru terlalu besar porsinya. Sehingga kadang kala mengabaikan alokasi waktu gerak untuk rekreasi dan kebugaran. Menurut Mas Dwi, dampak dari pembelajaran gerak prestasi ini misalnya siswa hanya tahu yang namanya lari itu ke depan. Kenapa? Karena dia diajarkan lari untuk gerak prestasi yaitu lomba lari cepat dalam cabang Atletik. Mestinya kan yang namanya lari itu bisa lari mundur ke belakang, ke samping kiri dan kanan serta lari zig-zag. Kalo anak diajarkan terlebih dahulu macam-macam gerak lari dengan penuh gembira, tentu kemampuan larinya bervariasi bukan cuma bisa lari ke depan. Inilah latihan yang sesungguhnya dapat menentukan kualitas sebuh tim sepakbola. Tapi apa yang terjadi sekarang di sekolah.

Pembelajaran Penjaskes di sekolah biasanya seragam. Yaitu siswa dikumpulkan, diabsen, lalu diberikan bola. Seringkali juga guru Penjaskes tidak mendampingi siswa yang sedang bermain, sehingga hasilnya tidak maksimal.

Panjang memang diskusi yang kami lakukan, tapi di akhir-akhir pembicaraan ada satu informasi yang penting bagi saya. Mas Dwi bilang "pada saat dilahirkan setiap anak memiliki potensi sama antara tangan kiri dan tangan kanan. Kitalah yang membentuk anak dominan menggunakan tangan kanannya saja sehingga tangan kirinya menjadi kalah kemampuan geraknya dibandingkan tangan kanan. Dalam permainan kasti misalnya, anak hanya diajarkan melempar bola dengan tangan kanan dan tidak pernah atau jarang diajarkan untuk melempar bola dengan tangan kiri. Karena sering dilatih yang kanan maka tangan kananlah yang "hidup". Sementara tangan kirinya hanya berfungsi sebagai pelengkap." Begitu kata Mas Dwi.

Lalu apa hubungan gerak dengan karakter seorang anak? Ternyata, kerja tangan kanan itukan dikendalikan oleh otak kiri. Jadi kalau tangan kanan bergerak atau dilatih gerakan apa saja, itu sama dengan kita melatih otak kiri untuk bekerja. Sehingga otak kiri kita fungsikan secara maksimal dan sehatlah otak kiri kita. Otak kiri yang sehat dan berfungsi itu akan mendorong pemiliknya memiliki sifat kritis, logis dan sistematis sesuai dengan fungsi otak kiri yang mengendalikan sifat atau karakter itu. Begitupun sebaliknya terhadap otak kanan.

Ada ahli otak yang menggolongkan otak menjadi otak kiri dan otak kanan. Nah otak kanan ini katanya berhubungan dengan intuisi, rasa sayang, empati, dan sikap positif lain. Untuk itu otak kanan perlu dilatih atau diaktifkan. Salah satu caranya adalah dengan menggerakkan organ-organ gerak kiri (tangan kiri dan kaki kiri). Nah, selama ini dalam pembelajaran seringkali porsi gerak kebanyakan untik tangan kanan yang berarti juga mengaktifkan otak kiri. Sementara otak kanannya jarang dilatih. Jadi wajarkan kalau para siswa sejak kecil telah kehilangan potensi untuk memiliki rasa sayang, empati, sikap hormat, dan karakter positif lainnya.

Begitu pentingnya menyeimbangkan aktifitas otak kanan dan otak kiri. Lalu "Adakah gerak dalam KD Penjaskes atau dalam keseharian kita, yang menyeimbangkan keduanya???

Salam Gerak