Selasa, 01 April 2014

LAGI OSN LAGI

Dapat undangan tadi siang dari Korwas dan Kasie Kurikulum Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur. Undangan sebagai pengawas ruangan dalam kegiatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA se Kabupaten Aceh Timur. Undangan yang hampir setiap tahun juga saya terima sejak tahun 2009. Jadi hampir datar saja menerimanya, langsung kebayang seperti apa kegiatan sebagai pengawas ruangan besok.

OSN terdiri dari  beberapa mata pelajaran yang dipertandingkan, atau lebih tepatnya dilombakan, karena tidak ada yang berhadapan. Semua peserta duduk menghadap ke pengawas ruangan. Mata pelajaran yang ada dalam OSN adalah : Matematika, Fisika, KImia, Biologi, TIK, Ekonomi, Geografi, Astronomi, dan Kebumian. Sembilan mata pelajaran ini menjadi ajang pembuktian siapa siswa yang terbaik di jenjang SMA. Adu kecerdasan atau kemampuan kognisi siswa ini memang masih mampu menjadi magnet pemicu bagi siswa untuk terus belajar dengan giat dan menjadi pemenang di tingkat kabupaten, propinsi, dan nasional.

Suasana Pembukaan
Dari tahun ketahun, belum ada siswa SMA Kab. Aceh Timur yang lolos OSN ke tingkat nasional. Prestasi tertinggi baru pada level propinsi. Itupun hanya mata pelajaran tertentu. Hal ini mestinya menjadi masukan atau bahan evaluasi khususnya bagi dinas pendidikan agar peserta OSN dari SMA Kabupaten Aceh Timur dapat masuk ke tingkat nasional dan bila perlu menjadi juara. Hasil pengamatan saya nampaknya pelaksanaan tahun ini pun tidak banyak perbedaan dengan tahun lalu, dan hampir bisa diprediksi (model quick count pemilu) hasilnya juga mendekati hasil tahu lalu. Kalaupun meleset hanya sedikit saja melesetnya.

1. Kurang belanja Referensi penunjang OSN
Kualitas soal OSN tidak diragukan lagi, baik validitas, reabilitas, maupunn kontennya yang selalu uptodate. Soal-soal tidak ada yang sama persis dari tahun ke tahunnya. Ini salah satu yang membedakan soal OSN dengan soal UN. Jadi, kalau menghadapi UN para pembimbing atau guru cukup mengandalkan buku paket yang ada di sekolah ditambah dengan kumpulan soal-soal UN dari tahun ke tahun, maka untuk menghadapi OSN tidak cukup dengan buku teks yang ada. Referensinya harus benar-benar sesuai dengan referensi yang diapakai tim pembuat soal. Ini kunci awal keberhasilan siswa SMA Kabupaten Aceh Timur bila ingin sukses dalam OSN dan juara di tingkat nasional.
Betapa kita semua tahu minimnya buku referensi yang dimiliki sekolah
Ruang Biologi OSN 2014 SMA Atim
khususnya untuk menghadapi OSN. Boleh aja pake buku Erlangga, tapi bukan Erlangga untuk kelas XI, XII, apalagi buku untuk siswa kelas X. Referensi kita mesti mengacu juga buku-buku yang dipakai di dunia internasional. Untuk biologi misalnya, buku yang digunakan untuk membuat soal oleh tim dari Universitas Gajah Mada tahun 2010 adalah karangan dari Mr. Solomon, harganya saat itu Rp. 500.000,-. Dan buku ini memang tidak dijual di Indonesia. Buku-buku karangan tersebut dijual di negara-negara persemakmuran saja dan semuanya ditulis dalam bahasa Inggris. Begitu juga referensi yang lain. Tanpa referensi sekelas itu, maka sama saja kita mengikuti OSN bermodalkan semangat kuat dan sedikit ada unsur NEKAT.

2. Tidak ada program peningkatan kompetensi tim pembimbing 
Keberhasilan siswa dalam lomba maupun pertandingan tentu tak lepas dari mumpuninya seorang pembimbing atau pelatih. Kita mungkin tak bisa menyangkal tim sehebat Barcelona, Real Madrid, maupun TImnas U-19 tak bisa lepas dari peran tim pelatih yang mumpuni. Pembimbing adalah orang yang paling tahu apa yang paling dibutuhkan siswa bimbingannya. 
Sportif dan tetap tampil semangat
Kapasitas pembimbing mesti mendapat perhatian khusus dari pihak pembina, yaitu Dinas Pendidikan. Sudah bertahun-tahun sebuah sekolah tidak pernah satu mata pelajaran pun di dalam OSN, tetapi tetap memaksakan diri ikut, alasannya untuk berpartisipasi. Untuk apa mengirim tim yang selalu kalah. Artnya setiap sekolah tidak memberikan perlakuan apapun kepada para pembimbing yang tidak pernah menang. Alasannya kelasaik "tidak ada guru lain" di sekolah itu. Kalau selalu mengirim tim yang sama, maka tujuan peningkatan kualtias siswa melalui ajang OSN ini tidak akan tercapai.
Jadi bukan salah guru atau pembimbing bila selalu gagal menjadi juara, semua itu karena memang batas kemampuan para pembimbing itu yang tidak pernah ditingkatkan. Dengan kesukaran soal yang semakin tinggi mestinya diimbangi juga dengan pelaksanaan program peningaktan kompetensi para pembimbing.

3. Insentif pembimbing
Apapun hasilnya, sebuah OSN tetap menghasilkan pemenang dan pencundang. Kalah dan menang adalah pasangan serasi yang selalu tampak dalam setiap kegiatan lomba maupun pertandingan. Setiap tim/sekolah tentunya tidak ingin menjadi tim yang kalah, takluk dari para pesaing. Semua normalnya menginginkan kemenangan. 
Selalu ada kebersamaan
Bagi tim yang menang, tentu saja kepuasan sebagai pemenang tidak bisa diukur dengan uang, namun bagaimana dengan tim yang kalah. Proses bimbingan yang panjang, tentu menyita waktu, pikiran, tenaga, dan biaya dari tim pembimbing, juga para siswa. Karena itu wajar saja bila setiap pembimbing mendapatkan insentif atau bolnus. Ada sekolah yang membeirkan bonus cukup walaupun timnya kalah. Hal ini berdampak posisitif terhadap pelaksanaan proses pembimbingan tahun berikutnya. Namun bagi sekolah yang lain tentu lain pula peraturannya "kalau kalah maka tidak ada honor pun untuk pembimbing." Dampaknya adalah kemalasan dalam proses pembimbingan tahun berikutnya.

4. OSN anak emas ekskul lain anak pungut
Kadang sering ditemukan perhatian manajemen sekolah terhadap OSN begitu tinggi. Segala kebutuhan peserta OSN dipenuhi. Hal ini berbeda dengan kegiatan yang lain, misalnya O2SN. Fasilitas latihan yang seadanya, kurang pemantauan dari manajemen sekolah, penghargaan yang minim, dll. Kita tentu tidak mengharapkan muncul ketidak adilan di dalam sekolah. Bukankah semua bidang yagn dilombakan itu pada dasarnya untuk menjadi wadah bagi perkembangan bakat dan kecerdasan siswa.
Kesetiaan dalam penantian


Demikianlah catatan saya. Tentu para pembaca punya catatan lain seputar OSN ini. Semoga OSN ini benar-benar dapat meningkatkan kualitas siswa/siswa SMA khususnya di Kabupate Aceh Timur. Selamat bertanding dalam OSN Tingkat SMA se Kabupaten ACeh Timur, 2 April 2014 di SMAN 1 Darul Aman.