Selasa, 10 Februari 2015

Hari butuh energi

Pagi ini saya berangkat meninggalkan RSUD Aceh Tamiang menuju kota Peureulak Aceh Timur. Jam 5 pagi lewat sedikit, saya bergerak dengan Honda plat merah milik pemerintah Aceh. Perjalanan pagi yang sangat segar sekali udaranya mengajak saya singgah di Mesjid Tualang cut, sholat subuh dan rehat sejenak sambil mengirimkan beberapa sms rindu untuk isteriku tercinta (melankolis dikit lah, jangan serius melulu).

Selesai shalat saya segera melanjutkan perjalanan yang masih kira-kira 85% lagi jarak tempuhnya. Matel hujan kuning tua pun harus saya kenakan, hujan tak lagi mau menunggu saya sampai di rumah, iapun turun sepanjang perjalanan, mulai dari tualang cut hingga ke Alu Lhok di Peureulak Timur. Pukul 8 lewat 5 menit saya pun tiba di rumah.Tak terasa ternyata belum ada seteguk air dan sebutir nasi pun yang masuk dalam perut saya. Seperti sedang puasa saja rasanya. Hehehe.

Saya pun bersiap, mandi, dan tancap gas kembali ke Peureulak barat. Di peureulak barat singgah di 2 tempat. Pertama di SMPN 1 Peuruelak barat, dan kedua di SMKN 1 Peureulak. Saya pun menyempatkan berdiskusi dengan Pak Feri, yang kebetulan sedang jaga pintu pagar sekolah. Piket pagi yang unik, karena ada banyak kejadian lucu. Termasuk siswa yang telat tetapi takut masuk ke sekolah dan memilih kabur di depan kami. Mereka 3 orang dalam satu sepeda motor. Tak malu untuk meninggalkan sekolah karena terlambat. Yah begitulah, sebagian siswa sekarang tidak fair play. Banyak yang mau enak-enaknya saja datang ke sekolah. Tak tau aturan lagi, mana yang boleh dan mana yang tidak.

Sejenak dengan pak Fery, datang lah bu Helvi, salah seorang guru yang ingin berkonsultasi tentang PTK nya. Maklum, dia mau naik golongan katanya dalam tahun ini. PTK pun saya bawa, mudahan malam ini bisa diperiksa. Besok pagi pun agenda agak jauh, ke SMAN Rantu Seulamat, menjadi salah seorang pengawas ruangan.

Selesai di Alu Bu Peureulak BArat, saya kembali tancap gas menuju SMAN 1 Peureulak. Ada beberapa hal yang ingin saya klarisfikasi, terutama tentang SKP. ADa penjelasan saya yang sepertinya kurang tepat, jadi harus saya luruskan kembali dengan kepala sekolahnya. Namun, karena kepala sekolahnya sedang ada rapat di SMAN 1 Idi, maka pertemuan pun tidak bisa dilanjutkan. Digeser ke waktu lain yagn lebih tepat. Pak Kepsek ingin ikut dalam pertemuan itu juga.

Saat di simpang Ranto, saya menerima panggilan telpon dari SMKN Taman Fajar, Pak wahab ngebel, minngir kekiri dan berhenti disimpang itu, saya pun bicara sebentar dengan pak Wahab. Ketika itu pula ada yang menyentuh pundak belakang saya, "mari pak, kita minum dulu". Ah, ternyata Pak Mustafa Kepala SMPN 2 Ranto Peureulak yang menegur saya. Kami pun menuju ke warung kopi terdekat. Di sana sudah Duduk manis menunggu kami, pak Anis Kepala SMPS Dayah Amal. Seklah swasta ini jadi satu-satunya SMP di Aceh Timur yang boleh melaksanakan K-13. Luar biasa.

Pak mus membagi pengalamanya saat berurusan dengan media yang memberitakan kasus rehab sekolah lamanya, SMPN 4 Ranto Peureulak. Menarik mendengar kisah beliau. Salut saya. Maka wajar kalau sekarang pak Mus mendapatkan sekolah baru yang berada di pinggir jalan Banda Aceh - Medan, semoga bisa lebih banyak berkreasi. Teh hangat habis saya teguk, 3 potong kue khas Aceh pun telah menyusul, masuk ke dalam perut. Pengganti sarapan pagi, perut sudah terisi, saatnya saya ke tempat tugas selanjutnya SMKN Taman Fajar.

Taman Fajar, ada beberapa surat yang harus saya teken. Selesai bercengkrama dengan guru-gurunya yang ramah, saya pun segera berlalu menuju satu kelas. Ada siswa kesurupan. Yah, fenomena kesurupan ini memang menjadi salah satu pengganggu aktivitas sekolah. Beruntung tidak massal.
Keletihan badan ini tak bisa saya lawan. Letih dan ngantuk mengajak saya untuk pulang. Pukul 12.30 saya meninggalkan taman fajar, pulang, shalat zuhur, makan siang dan tidur. Hari yang butuh energy ekstra.

Sampai jumpa besok di Rantau Seulamat "OSN SMA 2015".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar