Rabu, 11 Februari 2015

GURU PEMBELAJAR



Judul entri kali ini adalah tentang realitas guru di kampong Aceh Timur. Para Siswa/siswi SMA punya ajang bergengsi berupa OSN SMA.Tiap tahun even ini menjadi sangat prestisius. Inilah even dengan mengusung level "kepintaran". Siapa yang jadi juara, maka sekolah tersebut akan disegani baik oleh lawan maupun kawan. Betapa tidak, OSN mengadu kecepatan, ketepatan, dan kesiapan siswa dalam menjawab soal-soal yang susahnya sangat luar biasa (itu kata saya, anda bisa bilang dua kali sangat luar biasa susah).

Hari ini, 11 Februari 2015 kembali ajang OSN ini digelar. Kali ini bertempat di SMAN 1 Ransel (Rantau Seulamat). Meriah sih acara pembukaannya. Tapi ada beberapa kekeliruan. Pertama protocol salah menyebutkan acara, mestinya menyanyinkan lagu Indonesia Raya, tapi dibacakan Laporan dari panitia (Kabid Dikmen). Lalu saat sambutan Pembukaan Kadisdik, kali ini diwakili oleh Sekretaris Disdik Atim. Setelah panjang lebar berpidato, pak Sekretaris lupa menyebutkan kata-kata "Dengan ini acara OSN SMA 2015 dengan resmi saya nyatakan dibuka". Mungkin kegiatan OSN inilah yang saya tahu tidak dibuka pelaksanaannnya secara resmi tapi acara tetap jalan dan selesai.

Ada 400 lebih siswa yang ikut, dari seluruh SMA di Aceh Timur. Oh sorry, ada satu SMA yang tidak ikut, yaitu SMAS Bungongn Jeumpa. Tahu gak kenapa sekolah yang terletak dekat Koramil Idi ini tidak ikut? Ternyata, sekolah ini telah ditutup oleh Dinas Pendidikan. Penyebabnya adalah karena tidak dapat memenuhi 8 standard nasional pendidikan. Hehehe, kasian amat nasib mu Bungong. Para siswa yang datang selain membawa ilmu juga harus siap fisik. Upacara pembukaannya aja harus dijemur begitu, lumayanlah 1 jam kurang sedikit.

Sering sudah saya menjadi pengawas ruang OSN ini. Sejak jadi pengawas, sudah lebih dari 5 kali saya melakoni tugas "mata-mata" ini. Semangat rasanya melihat para siswa pintar dikumpulin jadi satu begini. Rapi-rapi, cerdas-cerdas, dan semangatnya itu, bikin guru dari sekolah lain pada iri. Para siswa peserta OSN ini pasti sudah diseleksi di sekolahnya. Rangkaian seleksi yang tentunya panjang, berjenjang dan sangat kompetitif. Di sekolah tertentu malah ada siswa yang harus menangis karena gagal, kalah bersaing dengan temannya untuk ikut di lomba tahunan ini. Begitulah, kadang sangat dramatis sekali.

Lalu apa pelajaran yang para guru bisa ambil dari kegiatan ini? Pertama, semua guru hendaknya memiliki target yang akan dicapai. Target yang tidak biasa. Kalau para siswa juara kelas ini berani memasang target jjadi juara di OSN tingkat kabupaten ini, mestinya para guru juga punya target semacam itu. Supaya tetap hidup.semangat belajarnya. Yang terjadi berbeda sangat, untuk peserta guru berprestasi yang dilaksanakan setiap tahun, biasanya payah guru yang mau diutus mewakili sekolahnya sebagai peserta. Alasan penolakan biasanya karena para guru belum punya Karya Tulis Ilmiah. Hehehe, kalau karya yang lain mungkin ada, banyak!

Kedua. para siswa yang datang ini optimis semua. Mereka yakin bisa jadi juara, baik juara I, Juara II, Juara III, dan juara Harapan. Juara harapan ini maksudnya selalu berharap bisa jadi juara. Intinya para siswa punya niat untuk selalu melakukan yang terbaik dan menjadi siswa yang terbaik pula, di sekolah, di kabupaten, malah kalau ada rezeki bisa jadi yang terbaik se Indonesia. Beda hal dengan para guru pembimbingnya, hehehe, "jadi guru biasa ajalah, kalau terlalu aktif atau banyak ide, nanti akan dikasih banyak tugas tambahan", begitu sebagian besar bisikan otak kecil para guru. Maka banyaklah para guru yang cukup ngajar aja, atau tugas-tugas pokok saja. Biar gak keluar dari zona aman.



Ketiga, para siswa kita selalu siap bila telah dipilih. Siap untuk berkorban waktu, belajar demi OSN ini. Siswa terpilih jadi peserta OSN pasti memikul beban yang lebih dibandingkan teman-temannya. Para siswa terpilih ini bekerja lebih, karena kerja lebih mereka dalam belajar maka mereka juga punya ilmu lebih, punya pengalaman lebih, punya teman lebih, dan juga dapat kasih sayang lebih dari guru pembimbing.Andai, para gur di sekolah ku semua mau berbuat lebih, secara terus menerus, pastilah kasih sayang para kepsek akan diberikan juga lebih besar lagi. Tambah insentif bukan hal yang mustahil. Tapi ada syaratnya, kepala sekolah juga jangan mau ketinggalan untuk melakukan yang terbaik juga. Kalau enggak, malu lah sama siswanya.

Guru harus terus belajar selama masih mau mengemban tugas mengajar. Guru pembelajar menjadi syarat penting seorang guru masuk dalam system. Sistem pendidikan yang bertugas memfasilitasi para siswa menjadi dirinya sendiri. Dengan segala kekhasan pada setiap individu siswa, sudah selayaknya guru berani untuk tetap belajar sepanjang hayat. jadilah guru pembelajar, kelak kita bisa menghasilkan siswa yang Juara.

salam OSN 2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar