Kamis, 13 Februari 2014

PELAJARAN DARI KOTA MALANG

Tahun 2000 saya sempat mengunjungi Kota Malang yang sejuk ini. Kunjungan ke malang tahun itu adalah kelanjutan perjalanan dari sebuah kegiatan kecil di Hotel Ambarukmo Yogyakarta. Kota yang suasananya jauh beda dengan kota kecil kelahiran saya di Kota Tangerang. Malang kota pendidikan sedangkan Tangerang Kota Industri. Gak banyak waktu yang dihabiskan di Malang, tidak lebih dari 3 hari. Sempat keliling kota bersama penghuni Kota Malang, yang bersangkutan sekarang masih menjabat sebagai anggota DPRD Kota Tangerang. Selain mengunjungi kota, sempat juga mampir di Universitas Muhammadiyah Malang yang tersohor.

Kenapa saya cerita tentang Malang alias Ngalam si kota yang dingin? Ingatan tentang Malang saya dapat tadi pagi saat pertemuan dengan Kadis, Kepala SD, SMP, di sebuah kegiatan finalisasi Dapodikdas 27 sekolah yang belum selesai. Diikuti juga oleh seluruh pengawas (41 orang). Dengan semangat berapi-api, Pak Kadis menceritakan hasil Studi Banding BK2S Kabupate Aceh Timur ke beberapa sekolah terbaik di Malang. Saya menyimak ceritanya bukan tertarik sangat dengan apa yang ditemukan tim studi banding disana, melainkan karena ingatan tentang kota itu hidup kembali dalam memori otak ini.

Cerita perjalanan para kepala sekolah ini ke Malang dibuka dengan cerianya seluruh peserta menggunakan kereta beroda banyak - di aceh kereta adalah sebutan untuk sepeda motor beroda dua - dari Jakarta menuju Malang. Bagi orang di Pulau Jawa yang sering naik kereta api atau kereta listrik mungkin ini adalah hal biasa, tapi bagi beberapa peserta, ini adalah perjalanan luar biasa sekaligus mereka mengenang masa kejayaan Aceh di masa lalu yang juga pernah memiliki lintasan kereta dari BAnda Aceh sampai ke Medan.

Kisah mengharukan muncul saat pak Kadis menceritakan bagaimana kekaguman beliau terhadap pelaksanaan pembelajaran dan karakter siswa di sekolah-sekolah yang dikunjungi. SEtiap kelas terdapat rak yang berisi Alquran. SEtiap siswa wajib membaca Alquran (sekitar 4 ayat) sebelum memulai pembelajaran di jam pertama. Itu berlangsung setiap hari. "Padahal mereka tidak menerapkan syariat Islam seperti kita, tetapi apa yang mereka lakukan di dalam kelas justru sangat Islami sekali, berbeda dengan yang terjadi di Aceh Timur," begitu komentar Pak Kadisdik Aceh Timur. Beliaupun segera menyusun rencana untuk membuat sekolah project yang mencontoh salah satu model sekolah di Malang.

Keheranan pak Kadis juga terjadi saat mengetahui guru di sekolah tersebut bekerja sepanjang hari, masuk pukul 08.00 dan pulang dari sekolah pukul 6 Sore. Kok bisa ya? Begitu terheran-heran pak Kadis. Karena hal seperti itu langka sekali ditemukan di Aceh Timur ini. Lalu karakter siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi. Selalu siap saat diberikan tugas oleh guru. Malah kata pak Kadis, kalau guru tidak bikin tugas maka siswanya yang akan bikin tugas dan guru harus menyelesaikan tugas itu. Yah, itu memagn luar biasa.

Menutup kisah singkat itu, pelajaran yang bisa diambil dari Malang memang banyak. Hanya saja kita tidak bisa mencontoh apa adanya. Misalnya tentang pembinaan siswa di Malang. Mereka sudah dididik sejak kelas 1 Sekolah Dasar. Sehingga karakter siswanya memang sudah dibentuk sejak awal. Tidak ada lagi siswa yang datang ke sekolah hanya untuk menghindari pekerjaan harian di rumah, seperti berkebun, petik buah kelapa, panen padi, dan lain-lain.

Memang, semakin jauh perjalanan akan semakin banyak yang bisa dilihat. Semoga pelajaran dari Kota Malang dapat memberikan warna pendidikan Aceh Timur ini jadi lebih cerah dan lebih hidup di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar