Selasa, 18 Februari 2014

NASIB PETANI KITA

Mungkin judul di atas terkesan sederhana, malah agak sedikit kampungan. Gini hari, di era teknologi jadi raja dan teman akrab kehidupan manusia kok masih ngomongin petani. Berlumpur ke sawah, gak jaman lagi kata anak muda masa kini. "SAya saja bersekolah tinggi-tinggi sampai ke luar negeri yah supaya gak disuruh si mbok bantu-bantu di sawah," kata seorang mahasiswi yang baru saja di wisuda. 

Bicara tentang petani kok seperti masuk dalam kehidupan negara dunia ketiga, yang tertinggal, bodoh, dan miskin. Tidak banyak yang tahu bahwa sehebat apapun peran teknologi tidak akan pernah bisa membuat pabrik padi. Padi hanya bisa dihasilkan di sawah, atau di media lain yang memungkinnya untuk tumbuh. Tetapi intinya tetap, padi harus dibudidayakan dan tidak bisa dibuat dengan teknologi canggih buatan Indonesia masa depan. Itulah kenapa diskusi tentang petani ini menarik untuk saya postingkan.

Tak sengaja pada beberapa minggu lalu saya bertemu sahabat lama. Dia adalah seorang guru Sosiologi yang telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai guru PNS. Sayang memang menyaksikan seorang dengan kompetensi lengkap untuk menjadi guru harus keluar dari profesi ini dan sekaligus keluar dari keluarga besar Aparatur Sipil Negara. Dia keluar karena merasa ada benturan ideologi antara kerja formal (PNS) dengan kerja di lembaga sosial yang memang sudah dilakoninya sejak dari bangku kuliah di Universitas Syiah Kuala. SEbagai kawan diskusi yang sudah lama tak bersua kami pun melakukan obrolan santai di rumahnya yang terletak di Kota Langsa, Gang Mawar Lorong D.

Beginilah kira-kira petikan pembicaraan ringan kami yang berlangsung sore hingga menjelang shalat Isya.
Teman (T) : Dimana sekarang posisi, Be (dia memanggil saya Babe)
S : Pulang S.2 diangkat jadi pengawas lagi, tapi gak di SMA atau SMP, melainkan di SMK.
T: Makin mantap lah itu.
S : Mantap sih mantap, tapi jaraknya jauh-jauh kali antara satu SMK dengan SMK lain.
T : Berapa orang pengawas SMK di Aceh Timur
S : Cuma saya, sendirian.
T : Gimana kegiatan di SMK, maksud aku di SMK pertaniannya!
S : SMK pertanian tidak banyak di Aceh Timur, yang secara khsusus membuka jurusan pertanian kalau tidak salah ada 3 sekolah.
T : Apa kegiatan mereka? Maksud aku apakah ada kegiatan seperti pengembangan pertanian organik, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu.
S : yang ke arah pertanian organik belum ada. Paling-paling juga kegiatannya seputaran praktek-praktek pertanian biasa.
T : berarti sama dengan kegiatan di Fakultas pertanian, ya?
S  : begitulah kira-kira. Kan para gurunya juga tamatan dari kampus itu.
T : Aku pikir ada kegiatan yang berhubungan dengan pertanian organik. Karena kulihat sekarang ini padi lokal kita itu makin susah dicari bibitnya. Kalau SMK ini lembaga pendidikan seharusnya ada upaya pelestarian bibit lokal ini, paling tidak untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. SMK mestinya mengembangkan demplot-demplot bibit lokal itu.
S: Dari pemantauan selama ini, belum ada SMK yang punya kegiatan itu.
T : kalau kita tidak selamatkan bibit lokal kita, suatu saat kita tidak bisa menanam padi lagi. Bibit padi sekarang harganya mahal. yang 5 Kg saja sekarang harganya sudah Rp. 250.000. Bukan mustahil kalau permintaan makin banyak harganya bisa 1 juta tahun depan.
S: mestinya memang begitu. lembaga sosial juga tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, belum ada di kurikulum kita yang spsesifik bergerak pada kegiatan petanian organik. 
T : Betul, makanya ini momen yang sangat baik untuk menindak lanjuti. Di diklat kita sekarang fokus pada budidaya padi lokal kita. Khawatir kita dengan keadaan ke depan. Kalau petani tidak diberikan bibit, suatu saat bisa saja petani kita tidak punya uang untuk melakukan kegiatan pertanian.
S: jelas, modal bertani semakin lama kan semakin besar. harga makin tinggi sementara inflasi juga jalan terus.
T : itulah, belum lagi sudah mulai itu gerakan pembuatan sertifikat murah, mobil larasita sudah keliling kampung. Bagus memang petani punya sertfikat atas tanahnya, tetapi nanti sertifikat itu kan bisa saja digadaikan karean petani butuh modal untuk kegiatan bertani. 
S : bisa jadi, apalagi kebijakan subsidi terhadap petani juga makin dikurangi.
T : ada negara yagn sudah siap itu membeli semua sertifikat kita. Ujung-ujungnya nanti petani kita jadi buruh atau kuli di tanahnya sendiri.
S : parah betul kalau sampai itu terjadi, dimana negara?
T : semoga saja tidak sampai itu terjadi.
S : ia, mudah-mudahan begitu.
T : jadi kapan kita bisa diskusi lagi di diklat.
S : insya Allah, nanti kalau ada waktu saya coba kunjungi diklat.
Kira-kira itulah hal-hal utama yang terekam dari diskusi singkat di rumah sobat lama. Semoga keluarnya dia dari PNS membawa kebaikan untuk para pahlawan pangan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar