Sabtu, 08 Februari 2014

GURU BK SAYA

Berita tentang kiprah para guru sebagai tenaga pendidik di sekolah saat ini memang banyak sudah mengisi lembar demi lembar media di tanah air. Berbagai aktivitas guru di sekolah memang sudah menjadi "konsumsi berita" khalayak ramai, mungkin karena pendidikan ini sudah disadari rakyat Indonesia sebagai sesuatu yang penting.
Media akan makin ramai sekali membicarakan tentang isu pendidikan ini pada saat-saat special, misalnya : menjelang UN, penerimaan siswa/mahasiswa baru, dan kejadian-kejadian luar biasa yang ada di sekolah. Dari sekian banyak pemberitaan tentang peristiwa yang ada di sekolah ternyata masih ada satu yang kurang terkabarkan yaitu tentang guru Bimbingan dan Konseling.
Bagaimanakah keberadaan guru Bimbingan Konseling (BK) saat ini di sekolah?
Rapat persiapan MGMP BK-SMK Atim bersama BK SM3T
Pembaca yang baik hati, jujur saja saat ini sulit sekali saya menemukan guru BK di Kabupate Aceh Timur, Khususnya guru BK di SMK. Ada banyak persoalan yang meneybabkan keberadaan guru BK di SMK di Kabupaten Aceh Timur menjadi langka. Penyebab pertama adalah ketiadaan suplai guru BK dari Kampus-kampus ternama di Aceh yang diangkat sebagai PNS (Guru BK) di SMK.  Mungkin saat ini sudah kembali dibuka jurusan Pendidikan Guru BK di beberapa kampus, sebuah kabar baik tentunya. Di masa lalu, meskipun sekolah tidak mempunyai guru BK yang berstatus PNS, sekolah masih bisa mengangkat guru non BK atau guru honor sebagai pelaksana tugas konseling di sekolah. Sejak berjalannya proses sertfikasi guru yang mensyaratkan kerja guru harus sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya, keberadaan guru BK semakin bertambah langka, mendekati angka nol.
Penyebab kedua adalah kekurangtahuan para pemangku kepentingan, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, DInas Pendidikan dan Pemerintah Daerah, tentang urgensi keberadaan guru BK bagi keberhasilan pelaksanaan sistem pendidikan yang ada di sekolah. Masih sering diartikan kalau fungsi BK ini hanya bersifat penyuluhan - dulu dikenal sebagai guru Bimpen (BP). Sehingga fungsi BK dirasakan cukup dilakukan oleh satpam sekolah untuk mencegah kenakalan siswa, atau dapat saja dilaksankaan oleh guru Agama yang memberikan nasehat pada siswa yang melakukan kesalahan karena melanggar tata tertib di sekolah. Yang sebenarnya fungsi BK lebih jauh dari itu, mendampingi anak selama menjalani masa pendidikan di sekolah sehingga dapat mencapai prestasi maksimal secara terbimbing. ITulah makanya setiap 150 siswa diwajibkan mendapakan bimbingan dari 1 orang guru BK. Bayangkan saja kalau ada sekolah yang muridnya sampai 500 orang lebih namun tidak memiliki 1 orang pun guru BK di sekolah itu. Siapa yang memberikan layanan konseling pada anak yang begitu beragam persoalan yang dihadapinya.
Penyebab ketiga, baru sebatas praduga, memudarnya tingkat kepedulian sebagian besar guru terhadap kerja-kerja pemberian layanan konseling. Hal ini ada kaitannya dengan pemberlakuan peraturan tentang hak anak. Sebagian besar pendidik tidak ingin lagi masuk untuk membenahi persoalan siswa yang teramati selama proses pembelajaran.
"Ngapain ngurusin urusan siswa, toh mereka pasti akan naik kelas, pasti akan lulus UN juga", begitu salah satu komentar guru. 
Ada juga guru yang psimis dan mengatakan "siswa bermasalah bikin repot, kalau dinasehati dan gak nerima akhinrya kita yang dimusuhi oleh siswa itu, lebih baik dikeluarkan saja pindah ke sekolah lain."
Persoalan psikologi yang dihadapi oleh remaja di sekolah memang harus ditangani oleh ahlinya. Guru BK adalah guru profesional yang terdidik dan dipersiapkan secara khusus untuk menangani persoalan ini. Oleh karena itulah, saya memaksimalkan keberadaan guru BK dari program SM3T yang kini sedang bertugas di Kabupaten Aceh Timur untuk memberikan peningkatan kapasitas guru BK, khususnya guru BK yang bertugas di SMK.
Langkah awal yang sudah kami lakukan adalah membuat persiapan kegiatan. Alhamdulillah semua guru BK SM3T siap memberikan dukungan penuh bagi kelancaran kegiatan ini. Semoga kegiatan ini akan memberikan sedikit pencerahan bagi guru BK saya yang ada di sekolah-sekolah binaan. Besar harapan saya ke depannya siswa mempunyai konselor profesional yang ada pada sosok guru BK. Semoga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar