Minggu, 16 Februari 2014

KASIH SAYANG

Seperti umumnya penyakit latah, langsung ikutan apa yang mengejutkan. Orang latah biasanya mengucapkan kata-kata yang sama setiap terkejut. Ada aktor / selebritis yang latahnya selalu mengucap "...Tolong..", atau ada melakukan gerakan tertentu secara tidak sadar. Itulah latah, sebuah refleks yang tidak disadari tapi dilakukan secara berulang-ulang.

Tapi tulisan ini dibuat bukan karena latah. Melainkan muncul hasil bacaan dari fenomena yang ada setiap tahunnya di tanggal 14 ini. Hari ini, di televisi, di media sosial, di berbagai kesempatan orang banyak menyebut kasih sayang. Tak ada salahnya membiasakan kasih sayang, namun janganlah kalimat suci ini disandarkan pada sesuatu yang tidak suci. Kasih Sayang bagi ummat Islam, adalah awal dari setiap kegiatannya. Kasih Sayang dalam Islam disandarkan kepada Zat yang memilikinya dan Kepada Utusan yang terkasih Muhammad SAW.

Ada  yang menghubungkan kasih sayang itu dengan sebuah kisah cinta. Sah-sah saja kalau berpikiran begitu. Tapi sebagai manusia berpikiran normal mestinya kisah cinta yang diingat adalah kisah cinta terbaik. Kisah cinta terbaik salah indikatornya adalah cinta yang tercapai. Bukan cinta yang berakhir tragis pada kematian salah satu pasangan cinta, atau bahkan kematian kedua-duanya.

Kisah cinta paling romantis adalah kisah cinta sepasang insan sempurna cintanya, yaitu Muhammad SAW dengan Siti Asiyah. Kisah cinta tauladan ini salah satu indikator kualitas cinta tingkat tingginya adalah "selama hidup bersama, bahkan setelah Muhammad SAW wafat pun, tidak pernah ada keluhan dari Siti Aisyah tentang keburukan suaminya, tentang kejelekan suaminya, tentang kekurangan suaminya." Kisah cinta yang sempurna yang tidak pernah diwarnai pertengkaran tegang urat.saraf."

Muhammad SAW memiliki daya cinta yang sangat luar biasa, sehingga kecintaannya pada ummatnya di atas cintanya pada keluarganya. Contoh sempurna teladan cinta ini yang mestinya dijadikan rujukan terhadap apapun kegiatan yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang. Namun, setiap kelompok manusia tetap punya kebebaasn untuk meneladani dan menokohkan tokoh cinta idola mereka. Dan dengan begitu, maka izinkanlah juga kami mengikuti sang teladan cinta yang sempurna dan menyempurnakan cinta sejati.
Shalawat untuk Mu ya Rasulullah...

(dari sebuah draft yang terlewat)...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar