Minggu, 15 September 2013

Ayo kita pindah ke Jakarta

Ayo kita pindah ke Jakarta", seperti ajakan yang sangat provokatif. Jakarta yang sudah padat karena manusianya tambah banyak, akan menjadi tambah padat lagi kalau ajakan ini didengar dan diikuti banyak warga negara di peolosok-pelosok atau pedalaman-pedalaman kabupaten/kota. 

"Siapa sih yang teriak ngajak warga pindah ke Jakarta." Bukan siapa-siapa, yang teriak itu yah Bang Jakarta sendiri. Terang-terangan Jakarta merayu orang agar datang padanya, dari banyak sisi dan banyak faktor. Ini kami alami saat 10 hari berada di Jakarta, gak bener-bener di Jakarta sih, tapi di pinggirannya.

Sisi Ekonomi
 Tarikan Jakarta dai sisi ekonomi sangat kuat agar orang mendekat. Anda akan merasa terpanggil saat belanja, baik itu belanja pakaian lebaran, belanja untuk pesta, belanja keperluan sehari-hari, atau bahkan saat beli sarapan pagi. Di kampung saya, sarapan pagi umumnya dibeli dengan harga Rp.10,000, ada juga yang Rp.8.000, tetapi standar di Jalan Banda Aceh-Medan adalah Rp,10.000. Tapi di Jakarta, dengan Rp. 10.000 kami bisa sarapan pagi bertiga, dengan sarapan  yang sudah oke, dan variatif menunya. Hehehe.
Contoh lain yang sederhana adalah saat membeli nuget ayam. Harga nuget di warung kampung, ukuran terkecil merek yang sama, harganya Rp.13.000. Di kampung saya, nuget itu harganya jadi Rp.23.000,-. Ada beda Rp.10.000. 

Tidak usah ditanyakan lagi gimana suara ajakan "Ayo  pindah ke Jakarta" kalau kita belanja di Tanah Abang. Harga pakaian satu stel di kampung saya harganya Rp.250.000, tapi di tanah abang cukup anda bayar Rp.85.000. Itu sama saja kita dipaksa pindah ke Jakarta 1x 24 jam.

Sisi pendidikan
Pendidikan di Jakarta gratis, karena dana BOS dan tunjangan daerah untuk pendidikannya luar biasa. Tunjangan pengawasnya saja lebih besar dari gaji pokok saya. Hehehe. Jakarta punya kampus terbaik di Indonesia, Universitas Indonesia di Salemba. Kampus-kampus bagus lainnya juga dekat-dekat situ. Jadi kita seperti diajarkan oleh Jakarta agar segera bergabung dengan penduduk sana yang sudah jarang penduduk lokalnya. Belajar di tempat terbaik, fasilitas kampus yang oke punya, dosen-dosennya asyik. Dan seabreg fasilitas lainnya yang gak ada di kampung saya.

Transportasi
Dengan Rp.3.500, saya bisa keliling Jakarta dari jam 5 subuh sampai jam 11 malam. Kalau mau. Tiket busway yang murah seolah sedang diantar pindah ke Jakarta. Belum lagi naik commuter line, kereta listrik dalam kota yang gak ada di mana-mana kecuali di Sana. Kita dipaksa masuk gerbongnya dan bergerak cepat pindah ke Jakarta. Karena tiket commuter line yang sangat murah. Jakarta-Bogor tidak sampai Rp.6.000. Tentu saja murah karena disubsidi negara.
DI kampung saya, dengan ongkos Rp.10.000, saya belum tentu sampai ke tempat kerja, bisa-bisa diturunkan di tengah jalan. 

Mati listrik
Di kampung saya sekarang sedang musim mati listrik. Setiap sabtu pagi sampai siang, dan minggu pagi sampai siang selalu ada jadwal mati listrik. Kebiasaan ini sudah hilang beberapa bulan, lah sekarang kambuh lagi. Di kampung saya tetap tenang walau listrik padam, tapi coba di Jakarta, listriknya mati sebentar saja PLN sudah gak sanggup nerima telpon "hidupkan listrik secepatnya." 
Bicara tentang listrik ini kan ibaratnya kita disetrum agar segera pindah ke Jakarta bila hidup mau terang dan masa depan yang lebih baik sesuai dengan mottonya PLN. 

Kalau mau dipaparkan satu per satu secara lebih detail, masih terlalu banyak. Tapi untuk apa, pembaca juga bosan kalau kepanjangan artikelnya. Tapi sekarang orang-orang di kampung saya mulai tidak telalu menghiraukan lagi Ajakan "Ayo pindah ke Jakarta" sejak ada polisi di tembak di depan gedung KPK, ada polisi ditembak di Depok. Belum lagi kasus kecelakaan lalu lintas si Dul di Jagorawi. Wah bikin ngeri.

Makanya, kalau ingin tenang dan bahagia jangan kita datang ke Jakarta, kalau bisa ni, Jakartanya aja kita bawa ke kampung...hehehe, ada yang setuju!

4 komentar:

  1. kagak setuju, peureulak harus orisinal pak haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang aseli tapi harus modern dan profesional, ya Mr...

      Hapus
  2. hal positif harus menyebar ke semua permukaan bumi...jangan di jakarta doank...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat...terima kasih atas komentarnya...

      Hapus