Kamis, 27 September 2012

INOVASI SUPERVISI

  MODEL-MODEL PENGAWASAN

Mahasiswa Magister Kebijakan Pendidikan FISIP UI hari ini begitu sumringah. Betapa tidak, diskusi hari ini mengangkat sebuah teori "Attachment Theory" yang ada pada sebuah Jurnal dengan judul "Attachment-informed Supervision for Social Work Field Education." Ya, hari ini kami diminta untuk mengupas jurnal itu berdasarkan 5 pertanyaan pokok diskusi, yaitu:
  1. Gambaran umum penelitian
  2. Gap research
  3. Inti dari attachment theory dan perkembangan risetnya
  4. Hubungan tugas supervisi dengan attachment theory
  5. Gagasan implementasi attachment theory dalam praktik supervisi akademik dan supervisi manajerial
M. Ilyas, S.Pd. (asal Kalsel) Sedang melakukan Individual Coaching
di SMA Negeri Unggul Aceh Timur
 Namun, kali ini saya tidak bermaksud menjelaskan itu semua, karena kita kan bukannya sedang melakukan perkuliahan. Namun ada satu pemikiran hasil diskusi dengan teman-teman yang penting untuk ditulis di sini, tentang model baru kepengawasan dengan menerapkan prinsip PAIKEM (Pengawasan Aktif, Inovatif, Islami, Kreatif, Efektif, Menyenangkan.

Melirik pada jam sejarah, pelaksanaan pengawasan/supervisi di Aceh Timur saya rasa belum banyak menyentuh prinsip itu (untuk tidak mengatakannya belum sama sekali). Saya merasakan masih banyak kekurangan yang pengawas lakukan, antara lain:
  1. Perencanaan tidak terpadu,
  2. Tindakan pengawas reaktif sporadis, belum responsif analitis,
  3. Mulai mampu kerja bertim, namun masih butuh sinergisasi,
  4. Didominasi oleh intruksi atasan, belum pada strategi pengawasan untuk penjaminan mutu pendidikan,
  5. Sedikit sekali --tidak ada-- mengembangkan entrepreneurship supervisi,
  6. Adopsi prilaku semut, saat jumpa disentuh, setelah itu lepas tak berbekas.
Enam poin itu sebagian kecil hasil perenungan saya terhadap kerja-kerja pengawasan yang ada di Aceh Timur. Namun, saya juga tidak ingin ini berhenti sampai di sini, metamorfosa kepengawasan di Kabupaten Aceh Timur  akan menjadi lebih baik apabila pemangku kebijakan memang mau mendukung keberadaan pengawas sekolah secara maksimal. Keberadaan pengawas sekolah yang makin strategis ini pada saatnya akan sangat menentukan peningkatan sekaligus penjaminan mutu pendidikan di Aceh Timur, begitu juga di daerah lainnya.

Inovasi pengawasan yang saya rencanakan ingin kita terapkan ini terinspirasi dari pembahasan attachment theory saat perkuliahan. Saya mendaftar ada 8 model/pendekatan pengawasan yang bisa dilakukan untuk merubah kerja-kerja kepengawasan ini diterima secara faktual atau realita di sekolah dan selaras dengan aktualita hasil pemikiran logis berpikir serba sistem.

Delapan invoasi itu adalah:
Kepala SMAN Unggul Aceh Timur Drs. M. Thaib M. Syah, M.Pd.
sedang membuka acara Pelatihan untuk guru se Kab. Aceh Timur
1. Continous supervision, Lakukan pengawasan secara berkelanjutan, terencana, dan dievaluasi secara bersama antara pengawas dengan guru binaan. Minimal dilakukan dalam 3 semester. Asusmsinya, pada semester pertama dilakukan eksplorasi masalah, diikuti dengan perencanaan tindak untuk penyelesaiannya. Semester kedua kita mulai melakukan aksi untuk perbaikan. Dan terakhir pada semester 3 dilakukan penguatan keberhasilan yang dicapai pada semester 2. Prinsip ini didukung oleh prinsip Attachment Theory yang menganut longitudinal. Dalam Continous supervision ini juga menghendaki apabila ada pergantian pengawas, maka pengawas lama mesti melaporkan atau menyampaikan program pembinaan yang sedang dilaksanakan pada guru tertentu, sehingga pengawas pengganti/pengawas baru dapat meneruskan program pembinaan yang sedang dijalankan.

2. Individual coaching. Pembinaan guru sebaiknya dilakukan secara individual, karena proses pembelajaran akan dilakukan oleh guru sebagai the leader of learning in the class. Sehingga jika dilakukan dengan individual coaching, pengawas akan dapat membina banyak aspek, bukan hanya kognisi, tapi emosi guru pun bisa dibina.

3. Dialektik komunikatif. Pola komunikasi menjadi dialektis komunikatif, artinya guru binaan bisa saja menyampaikan pertanyaan, masukan, saran, bahkan menawarkan sebuah solusi dari permasalahan yang ditemukan di sekolah kepada pengawas. Selama ini komunikasi amat kaku (nondialektif), dimana guru sering kali hanya menjalankan instruksi pengawas. Sehingga terasa ada unsur pemaksaan dalam relasi komunikasi yang satu arah.

4. Informal collaboratif supervision. Pengawas membuka diri seluas-luasnya dalam melakukan bimbingan. Tidak terbatas hanya di sekolah, tapi di segala tempat dan segala situasi. Unsur kolaboratif menekankan adanya kesetaran dan kerja sama dalam melaksanakan kepengawasan. Selama ini pengawasa dilakukan dengan sangat formal sekali, bahkan cenderung menganut faham birokrasi, dimana kuat sekali penekanan pada hubungan atasan dan bawahan antara pengawas dan guru binaan di sekolah.

5. Modelling based case. Pengawas harus mampu menjadi model bagi guru dalam melaksanakan tugas, terutama mampu menjadi model bagi penyelesaian sebuah kasus pembelajaran. Contoh sederhana, apabila guru kesulitan menyajikan materi pembelajaran KD tertentu, maka pengawas harus mampu tampil sebagai model bagi guru untuk menyelesaikan persoalan itu jika guru memintanya.

6. Mastery supervision. Pembinaan harus dilakukan sampai masalah yang dihadapi guru binaan dapat diselesaikan dengan tuntas.

7. Tambahan Persyaratan Menjadi pengawas. Setiap calon pengawas, diharuskan melakukan penelitian tindakan menggunakan pendekatan dari sebuah theory.

8. Teachers background center oriented. Pengawasan dilakukan berdasarkan latar belakang guru dan sekolah. Tidak boleh bertentangan dengan norma dan nilai-nilai yang ada di sekolah tempat guru bertugas. Ini dalam rangka menjadikan proses pengawasan lebih bermakna dan dapat diterima oleh semua.

 Pembaca yang saya hormati, terutama teman-teman pengawas, ada sebuah kenyataan yang pengawas tidak bisa hindari adalah dunia saat ini berbeda keadaannya dengan keadaan dimana kita dulu menjadi guru. Perubahan-perubahan itu menuntut kita juga untuk berubah, adaptif bukan reaktif, responsif jangan sporadis. Ada hal-hal yang mesti kita perbaiki dalam metode dan teknik supervisi akademis dan manajerial. Buat teman-teman pengawas di Kabupaten Aceh Timur, terima kasih atas semua pengorbanannya bagi kemajuan pendidikan di daerah kita. Teruskan perjuangan sampai SK pensiun datang. 

Semoga bermanfaat, Wassalam.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar