Jumat, 30 Januari 2015

KREATIVITAS TINDAKAN WALI KELAS


Menarik. Setidaknya itulah yang ada di benak saya saat berada di salah satu kelas. Saya memang sedang melaksnakan tugas pemantauan PBM di SMPN 1 Pante Bidari. Menarik, karena dari seluruh kelas yang saya "intip", cuma kelas yang dipimpin bu yus ini ada bingkai foto di dindingnya. Malah di sekolah lain pun belum pernah saya temukan kondisi kelas dengan hiasan dinding begitu.

Bingkai foto lazimnya ada di kantor dewan guru. Foto-foto mantan kepala sekolah yang pernah bertugas di sekolah itu, akan dipajang, supaya bisa dikenang jasa-jasanya. Di ruangan kepala sekolah aktif, wajib ada foto kepala pemerintahan, yaitu : Presiden, wakil presiden, dan tambahan foto pemimpin daerah, propinsi atau kabupaten/kota. Tentu kalau pemandangan seperti itu sudah tidak asing lagi di mata kita.Tetapi di kelas ini lain, foto-foto siswa dalam bingkai besar. Hehehe, mungkin mereka semua bercita-cita ingin jadi seorang pemimpin public kelak ketika dewasa.

Sang wali kelas yang punya inisiatif ini ternyata memberikan keterangan lebih mengejutkan lagi. Saat saya mengunjungi kelas itu bersama Ibu Hamidah Rokayana, kepsek yang baru 1 bulan ini bertugas di SMPN 1 Pante Bidari, bu wali menyatakan bahwa latar belakang ide itu muncul dikarenakan dia sulit mengingat anak yang jarang masuk. Ada seorang siswa yang sering sekali tidak masuk sekolah. Maka timbullah ide untuk membuat bingkai foto seluruh peserta. Hal ini ternyata membantu bu Yus yang wali kelas enerjik itu, siswa yang jarang masuk ternyata tidak ada bingkai foto di dalam kelas tersebut.

Kegiatan pemasangan bingkai foto ini juga membangkitkan kemandirian siswa dalam bergotong royong. Siswa didorong untuk memiliki kelas, menjaga kelas, karena para penghuninya telah menyatakan diri secara sah sebagai penduduk di kelas itu melalui visualisasi bingkai fotonya. Jadi, kalau di ruangan kepala sekolah gambar dalam bingkai foto menunjukkan orang yagn sudah tidak ada lagi di ruangan itu, tetapi di kelas ini bingkai foto bermakna lain. Makna yang paling jelas bisa ditangkap adalah "ini kelas kami, kami ada di sini, jangan kalian ganggu kelas ini, AWAS"...Hehehe.

Terbayang saya saat masih menjadi wali kelas dulu di Sekolah tempat saya bertugas, biasanya foto siswa hanya ada di denah, di atas meja guru. Ukurannya pun paling gede 3 x 4 cm. Malah ada siswa yang ngasih foto ukuran Kartu Pelajar. Biasalah, alasannya "negatifnya udah ilang pak". Begitulah, foto yang kecil ukurannya itu tidak bisa membuat saya ingat wajah siswa dengan cepat. Belum lagi siswa zaman dulu jumlahnya jumbo, satu kelas berisi 45 peserta didik. Malah pernah ada yang satu kelas diisi 65 orang siswa. Ampun, kalo kita panggil namanya satu persatu, bisa habislah 1jam pelajaran.

Selalu ada ide bagi orang-orang yang berpikir kreatif. Kreatifitas untuk menyelesaikan persoalan, menjawab segala kebutuhan. Yah, dunia pendidikan butuh guru-guru kreatif yang bisa menghasilkan sesuatu buat siswanya. Kreatif dalam menyuguhkan pembelajaran bermakna bagi seluruh anak didiknya. Kita tentu tidak mau, dan malu, kalau dunia pendidikan malah banyak diisi para pendidik bermental seperti pegawai kantoran. Masuk jam 8 dan pulang jam 2. Miskin kreatifitas karena semua rutinintas telah ditentukan dalam job description masing-masing. Guru atau pendidik, menghadapi manusia yang punya aktivitas fisik dan mental. Sangat dinamis, hari ke hari selalu berbeda. Maka, dbutuhkan kreatifitas yagn berbeda juga untuk memberikan layanan yagn sesuai dengan kebutuhan tiap siswa.

Apa yang dilakukan oleh Bu Yus sang wali kelas kreatif ini tidak bisa dianggap remeh. Penempelan bingkai foto ini ternyata berbuntut panjang. Kelas menjadi kompak, dan mereka menyisihkan uang jajannya setiap hari.. Uang ini dikumpulkan oleh bu Wali setiap  hari, berapapun jumlah yang disetor oleh siswa. Mirip tabungan harian, namun penggunaannya telah disepakati untuk kegiatan akhir tahun. Luar biasa, masih ada anak yagn perncaya pada wlai kelasnya dan menitipkan uang satu kelas kepada sang wali. Rasa saling percaya ternyata bisa tumbuh setelah setiap siswa merasa menjadi bagian kelas tersebut. Ah, rasanya akan banyak kreativitas lain yang bisa muncul bila semua unsur di sekolah ini satu visi. Mulai dari sswa, guru,kepala sekolah, pengawas dan dinas pendidikannya. Saya menjadi makin tidak sabar untuk datang kali kedua ke sekolah itu.

Mari berbuat, sekecil apapun yang kita lakukan, jika niatnya baik pasti akan menghasilkan produk yang baik juga. Insya Allah.

salam kreativitas guru




5 komentar:

  1. kapan aku jadi guru kreatif ya???

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Babeh Nurdin@ Briliant, saya akan memberikan sebuah buku sebagai hadiah buat Bu Yus sang wali kelas kreatif.
    Azwar@ jangan tanya kapan tapi mulailah dari yang kecil hingga yang super jumbo. sebagai guru yg masih muda jangan sampe kalah kreatif dengan Guru Sepuh.

    BalasHapus
  4. Bang Zwar, berbuatlah sekarang, besok atau lusa, dan mungkin suatu saat nanti, semua kreativitas itu akan "berbicara".

    BalasHapus
  5. Ditunggu hadiahnya om Deden @Chairuddin...

    BalasHapus