Selasa, 13 Januari 2015

CERITA BUAYA DI SEUMANAH JAYA


Proses sertijab Kepala SMPN 4 Ranto Peureulak selesai menjelang pukul 12 siang WIB. Tugas mengantarkan kepala baru dan membawa pulang kepala sekolah lama bersama pak Kasie Kurikulum Dikmen Disdik Aceh Timur usailah sudah. Seremonial yang tidak bisa tidak memang harus dilaksanakan. Tidak peduli lokasi sekolah yang jauh. Bukan halangan walaupun hujan merendam sebagian jalan menuju tempat tugas. Kepala baru tetap harus diantar dan yang lama ditarik pulang untuk ditempatkan sebagai kepala di sekolah yang lain.

Alhamdulillah, proses ini lancar, malahan cenderung cepat berlangsungnya. Ucapan terima kasih pak Mustafa (dua dari kiri) sebagai kepala SMPN 4 Ranto Peureulak yang lama segera disambut dengan ucapan mohon kerja sama semua pihak dari Pak Suryadi (3 dari kiri). Dan pak Rian Kasiekur segera menutup dengan wejangan, petuah, dan kalimat nasehat kepada warga sekolah, "bekerjalah dengan ikhlas agar beban tugas menjadi ringan".

Selesai pertemua di ruang guru, kami bergerser ke ruang kepala sekolah. Ruangan yang kecil dan begitu sederhana, namun bersih dan tenang suasananya. Kesempatan emas saya ngobrol dengan kepala Dusun yang telah menghibahkan tanahnya untuk kepentingan sekolah. Banyak sekali beliau memberikan cerita. Satu cerita yang paling teringat sampai sekarang adalah tentang sepak terjang buaya di sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung sekolah. Maklumlah, sungai tempat buaya itu beraksi melewati rumah kos-kosan saya di Kota Peureulak. Jauh memang jaraknya, tapi kalo buaya itu sempat pergi merantau ke sini kan bisa geger penghuni pesisir. Hehehe

"Apakah pernah ada korban, Pak Kadus?" saya bertanya spontan saja. "Pernah", kata pak Kadus. Cerita aksi buaya pun mengalir. Ada dua orang memancing di pinggir sungai dekat sekolah. Dua orang, dan dua-duaya adalah lelaki. Menjelang maghrib, pemancing 1 meminta kawannya agar segera pulang. Tapi karena sedang syur mincing, pemancing 2 meminta injury time, tambahan waktu. Singkat cerita saat sedang menggulung benang, disaat itu juga seekor buaya menerkam kaki pemancing 2. Pemancing 1 berniat menolong, tapi datang seekor buaya lain, pemancing 1 takut dan lari minta pertolongan kepada masyarakat. 2 Hari kemudian pemancing 2 ditemukan tewas dan telah mengapung jauh dari lokasi TKP (tempat kejadian penerkaman).

Ada beberapa cerita lain yang kalo diceritakan pasti panjang. Memang ada yang selamat dari penerkaman. Namun, berbagai kisah ini mengisyaratkan kebenaran legenda adanya buaya di Krueng Peureulak. Kita harus waspada.

Selamat bertugas pak Suryadi, semoga terhindar dari para buaya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar