Senin, 12 Januari 2015

HIDUP MEMILIH MATI

Sertijab Kepsek SMPN 5 Ranto Peureulak (Tanjung Tani) Aceh Timur


Buku "Hidup Sekali, Berarti, Mati" hadiah sohib yang calon pengawas matematika itu masih saya baca hingga sekarang. Pak Khairudin mengirimi buku tersebut melalui Bu Siti, guru matematika SMPN 1 Peudawa. Saya terima buku putih mulus itu masih di dalam segel plastic transfaran. Alangkah senangnya mendapatkan buku Best Seller yang gak dijual di Kota Tua ini. Maklum, warga sudah cukup dengan membaca dua merek Koran ternama yaitu Waspada-Serambi.

Lembar-lembar pertama buku itu saja sudah membuat saya lambat membaca. Lambat karena harus mengulang kalimat demi kalimat yang begitu singkat namun padu sekali, "kita termasuk kelompok yang mana". Membaca buku itu seolah membawa masuk pikiran kita ke otak si penulis buku tersebut, Bang ARR. Sebelum puas mengulang-ulang tiap lembarannya, dijamin gak bakalan saya lanjut ke halaman yang laen. Hehehe

Meski memilih membaca santai tapi bisa dinikmati sampai puas, sampai juga saya ke tulisan yang berjudul "B-C-D". Sang penulis yang hobi baca buku ini ternyata menyisipkan satu tulisan tentang ini. B adalah inisial dari Birth. Kalau kita liat kamus artinya lahir. Maksudnya setiap kita yang ada diunia berarti telah melewati tahapan itu, tahapan B. Lalu yang C, ini huruf awal dari kata Choise, artinya kalo kata guru bahasa Inggris adalah "pilihan" atau "memilih". Kata terakhir yang diawali dengan huruf D adalah Death, artinya "mati".

Jadi, sejak kita lahir ke dunia sampai mati dan masuk kuburan, ada sebuah tahapan yang mengharuskan kita untuk memilih. Tidak bisa tidak, kita semua harus memilih. Bahkan hari-hari yang kita lewati - termasuk hari ini - pasti berlalu dengan berbagai macam pilihan. Pagi-pagi kita sudah memilih mau makan apa. Atau memilih mau pake baju warna apa. Kecuali PNS, hari ini di Aceh Timur akan memilih warna yang sama "warna linmas".

Pilihan bukan hanya pada hal yang simple, hal yang rumit sekalipun tetap harus dipilih. Misalnya guru di sekolah, mereka akan memilih menggunakan media apa ya hari ini supaya murid mudah menguasai materi pelajaran. Atau, mau pake metode yang mana, agar para peserta didik bisa blelajar dengan efektif. Tentu saja ada juga yang tidak memilih kedua-duanya, daripada pusing mending anak-anak disuruh mencatat saja. Alasannya kan gampang, biar anak ada bahan belajar di rumah, maka harus kasih catatan yang banyak.

"Hidup Memilih Mati" adalah rangkaian peristiwa yang telah menjadi setingan penguasa semesta jagat raya ini. Bersyukur kita, telah diberikan hidup, beragam pilihan, dan kematian yang akan menjadi pintu bagi keberlanjutan kehidupan lain. Dari tiga kata tersebut, tentu kita tidak bisa memilih lahir dimana, dari keluarga apa, dan dengan cara apa kita dilahirkan. Semua sudah terjadi di masa lalu. Tapi menghadapi kematian yang akan datang tanpa waktu yang kita tahu, kita masih bisa memilih untuk mati sebagai apa. Bagi kaum muslimin dan muslimat tentu satu pilihan yang tak boleh tiada yaitu mati dengan membawa Iman dan Islam, mati dalam keadaan Khusnul Khotimah. Bila keinginan untuk mati dalam keadaan demikian, tentu selama hidup kita akan menghindari hal-hal yang akan menjauhkan kita dari cita-cita tersebut. Kita pastinya akan memperbanyak kegiatan yang positif dan mendukung niat suci tadi.

Semoga, para guru khususnya di Aceh Timur ini banyak yang mulai memilih untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat buat masa depan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Bukan malah memilih hidup nyantai kayak pantai yang penting gaji tiap bulan diterima. Sekolah-sekolah akan kering kerontang dari kreatifitas akademik penghuninya tanpa ada yang memilih untuk berbuat lebih.

Jangan sampai kita mati tapi belum sempat melaksanakan pilihan-pilihan positif . Hidup sekali, Mati juga sekali, namun anda bisa memilih apapun diantaranya tanpa batas.

Selamat memilih.

2 komentar:

  1. sebuah pilihan yang bijak b Zwar, berarti untuk manusia lain...semoga

    BalasHapus