Jumat, 14 November 2014

JEJAK LITERASI GURU SM3T DI SMPN 3 DARUL AMAN ACEH TIMUR



Hari ini saya dan Pak Supiono M.Pd. (Korwas DisdikAtim) serta pak Syafar, M.Ed. (Ketua APSI) Aceh Timur mengikuti kegiatan pertemuan Kepala Sekolah se UPTD Darul Aman dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur. Struktural dinas diwakili oleh para Kabid. Pak Kadis yang semula menyatakan akan hadir ternyata batal. Batalnya pak kadis ikut bersama kami disebabkan adanya kegiatan lain yaitu persiapan MTQ di Alun-alun Kota Idi.

Rombangan pengawas menggunakan "mobil Dinas Pengawas" BL. 889 JZ. Pak Korwas didaulat sebagai supir. Saya pun tidak mau menrima posisi itu, karena memang belum bisa nyetir. hemm. Dengan penuh percaya Diri pak Korwas tancap gas menuju lokas kegiatan. Saya tidak tahu banyak soal rencana pertemuan ini, maklumlah yang punya janji adalah Korwas dengan Kadis. Target lokasi diduga sudah benar dan sampailah kami ke SD Negeri 3 Idi Cut. Jalan masuk yang sempit dan melewati pasar Idi Cut. Sesampainya di lokasi kok tidak ada tanda-tanda keramaian. Karena ragu lalu kami Tanya pihak sekolah tentang pertemuan para kepsek, pihak SD 3 bilang "acaranya di SMP 3, pak!" Wah salah sasaran...

Kami pun putar haluan dan segera menuju lokasi yang benar "SMP Negeri 3 Darul Aman". Keluar dari pasar Idi Cut arah Banda Aceh, segera Nampak persimpangan menuju lokasi. "Belok kiri pak!" saya coba memberi aba-aba. Jalan mulus yang kami lalui kira-kira 200 meter telah menghadirkan simpang dua. Kali ini saya diam, Korwas belok ke kanan. Setelah 300 meteran jalan kami lewati muncul keraguan. "Ini nampaknya bukan ke SMP Negeri 3, rasa saya ini jalan ke SMP Negeri 2." Daripada ragu dan salah jalan lagi, kami pun bertanya kepada penduduk setempat. Ternyata benar, salah jalan lagi. Harus putar lagi dan kembali ke jalan yang benar.

Jalan menuju SMP Negeri 3 Darul Aman Aceh Timur begitu indah. Kiri kanan hijau. Sawah-sawah yang kami lalui mengeluarkan aroma bau Tanah yang baru selesai dibajak. Ada yagn menggunakan mesin (handtractor) dan ada juga saya lihat petani yang mencangkul menggunakan Pacul atau cangkul. Pemandangan yang mengingatkan romantisme masa kecil. Sudah lama sekali saya tidak pernah lagi menginjak Tanah sawah. Yah sudah 20 tahun lebih. Itupun jauh di Kampung sana, di Kota Tangerang. Kota yang sudah langka sawahnya. Kalau tidak sedang tugas, mau rasanya masuk ke sawah.

Beberapa sawah yang saya lihat di Aceh Timur memiliki kesamaan fenomena. Fakta yang membikin saya agak sedih, semua orang yang bekerja di sawah adalah orang tua yagn sudah sepuh. Orang tua yang lanjut usia. Malah ada sepasang tua renta yagn masih setia memegang cangkul. Sungguh luar biasa sekali pengabdian mereka. Bekerja untuk pangan ummat manusia tanpa keluh kesah. Hingga di senja hidup mereka masih setia menanam. Apalah artinya pengorbanan diri ini untuk sesame dibandingkan mereka yang seumur hidup berteman dengan lumpur di sawah.

SMP Negeri 3 Darul Aman ada di depan kami. Jalan masuk Tanah sawah yang dipadatkan tak membuat kendaraan dinas kami mundur. Maju terus, masuk, parkir di dalam sekolahan aja. Hehehe. Sambutan ramah Ibu Fatimah, S.Pd., Kepala Sekolah ini yang telah bertugas hampir 4 tahun, adalah hal pertama yang kami dapat. "Silahkan masuk pak, mau langsung ke Aula atau ke Kamar kecl dulu?" Kata Bu kepsek sambil tersenyum. Pak Supiono dan Pak Syafar langsung ke Aula. Saya sendiri memilih ke kamar kecil dulu, biar leibh tenang nantinya.

Masuk ke kamar kecil di ruang kepala sekolah yang bersih membuat saya rehat sejenak. Duduk di bangku tamu kepsek yang juga begitu sederhana. "Bersih sekali sekolah ini, apakah setiap hari kondisinya seprti ini ini atau dibersihkan karena ada kegiatan pertemuan?" Tanya saya pada Bu Kepsek. Beliau pun menajwab "bukan mau pamer pak, tapi memang ada program gotong royong kebersihan yang rutin kami lakukan 2 minggu sekali. Ini kebetulan baru siap gotong royong hari rabu kemarin". Jawaban bu kepsek ternyata menjadi pembuka diskusi selanjutnya.

Bu Kepsek yang luar biasa. Dua guru PNS saja yang ada di sekolahnya


"Berapa orang murid di SMP 3 ini, Bu?" Saya mulai membuka diskusi.
Bu kepsek menjawab "104 orang pak".

Wow, banyak juga muridnya (kata saya dalam hati). Untuk sekolah di pedalaman jumlah murid di sekolah ini termasuk banyak. Kaena ada sekolah di pedalaman lain yang hanya punya murid 12 orang saja. Tapi sekarang kepala sekolah tidak terlalu pusing. Walaupun murid sedikit, dana BOS nya tetap dihitung untuk 120 orang siswa. Maka amanlah sekolah...hehehe

Kami pun diskusi panjang lebar tenang banyak hal. Salah satu yang menjadi topic diskusi adalah tentang kegiatan Literasi siswa di sekolah ini. Betapa budaya literasi masih begitu jauh hadir di sekolah ini. Jangankan untuk hal lain, bahkan untuk membaca buku paket K-13 saja para siswa berat melaksanakannya. Rendahnya minat baca siswa ini ternyata dipengaruhi juga oleh budaya baca para cek gu yang belum optimal. Keadaan literasi membaca dan kegiatan kesiswaan justeru hidup saat guru SM3T tahun lalu bertugas di sekolah ini. Guru-guru yang jebolan UPI Bandung itu berhasil menghidupkan Majalah dinding. Siswa sudah mulai rajin menulis untuk mengisi majalah dinding. Malah yang membuat Bu kepsek terkejut, ternyata pada saat perpisahan dengan guru SM3T tersebut, para siswa di sekolah ini menyumbangkan sebuah teater atau drama singkat. Penampilan siswa dalam sebuah drama menunjukkan potensi siswa di sekolah ini sebenarnya ada. Tinggalah lagi bagaimana para guru mengelolanya. Namun sebelum hal itu dilakukan guru, adalah keharusan bagi pengawas sekolah melakukan pembinaan secara terprogram untuk para guru.

Persoalan-persoalan lain yang kami bicarakan tentu tidak mungkin saya ungkap di sini. Hanya saja ada satu kabar yang kami diskusikan telah membawa focus diskusi tiba di Tanah Tamiang...hehehe.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar