Minggu, 16 November 2014

PESAN KERJA SAMA IGI DAN PGRI DI ACEH TIMUR


Sejak menjadi anggota PGRI 14 tahun lalu (otomatis sejak jadi Guru) ini adalah kali pertama saya hadir dalam konfrensi PGRI. Musyawarah tertinggi untuk pengambilan keputusan partai, eh maaf, maksud saya organisasi. Adalah pak M. Isa, M.Pd. yang mengundang secara resmi. Undangan dari ketua sterring committee ini tentu harus dihadiri. Mau ngelak juga gak bisa karena acara konfrensi ini dilaksanakan di Cot Geulumpang. Tepatnya di Aula SMA Negeri 1 Peureulak.

Kehadiran yang pertama dalam konferensi ini justru bukan dalam kapasitas sebagai pengurus ranting atau cabang PGRI, apalagi sebagai pengurus Kabupaten. Dan juga bukan sebagai anggota PGRI (kader yang akan dipromosikan jadi pengurus), saya datang mewakili Ketua Ikatan Guru Indonesia. Ya begitulah, saya mewakili salah satu organisasi guru yang setelah era reformasi. IGI adalah sebuah pilihan untuk dihadirkan mendampingi organisasi guru lain yang lebih tua dan tentu saja lebih dahulu lahir karena Rahim sejarahnya menghendaki demikian. Apapun jenis undangannya, nyatanya saya telah hadir dan menjadi satu-satunya orang yang berbaju biru yang ada tulisan Ikatan Guru Indonesia Kabupaten Aceh Timur.

Anggota PGRI yang berasal dari SD atau MI/MTs ada yang terkejut, bahkan ada yang bertanaya "apa itu IGI?" "Bapak tugas dimana", Tanya saya. Sipenanya menjawab "saya tugas di MTs". Oh pantas belum tahu. Karena memang IGI di Atim baru melakukan 5 kegiatan (2 diantaranya skala nasional). Jadi wajar kalau ada yagn belum tahu. Sedikti penjelasan dalam tempo urang lebih 10 menit sang penanya pun faham.

Dari atas "panggung", saat sesi sidang Paripurna pertama dibuka, Ketua PGRI Aceh, Drs. Ramli mengumumkan bahwa dalam konferensi dihadiri oleh undangan dari Pengurus Ikatan Guru Indonesia. Beliau juga meminta maaf karena pada opening ceremony tadi belum mengetahuinya. Beliau masih berpikir dan menganggap yang hadir adalah anggota PGRI. Memang saya mengikuti dan mencatat beberapa poin dalam kata sambutan Pak Ketua PGRI Aceh ini tadi. Antara lain tentang pentingnya kerja sama antara organisasi guru di Aceh. Janganlah sesama organiasi guru berantem. Bukankah kita memperjuangkan kepentingan yang sama yaitu kepentingan guru.

Salah satu komentar ketua PGRI Aceh yang sangat berbekas dalam ingatan saya adalah tentang sertifikasi. Betapa isu paling hot saat ini di kalangan guru adalah tunjangan profesi bagi guru bersertifikasi. Menurut data beliau, saat ini di aceh baru 36% guru yang memperoleh tunjangan profesi pendidik itu. Masih banyak lagi ternyata guru yang belum menikmati TPP. Kalau kita hitung jumlah guru pemilik NUPTK di Aceh berjumlah 143.000 orang guru. Dari data itu dapat diketahui bahwa ada 64% x 143.000 guru di Aceh belum menikmati sedapnya Tunjangan Profesi sebesar satu kali gaji pokok.

Dari paparan itu, tentunya tidak tepat juga kalau kita bilang tunjangan profesi ini tidak berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan di Aceh. Mengapa? karena ada satu hipotesis lagi yaitu "mungkin karena baru sebagian kecil guru yang menerima TPP maka mutu pendidikan Aceh masih rendah".

Sementara itu, pada sesi pembukaan sebelumnya, Kadisdik Aceh Timur Bapak Abdul Munir, SE., M.Ap. menyatakan jumlah guru di Aceh Timur saat ini sebanyak 4500 orang. Dari jumlah tersebut yang telah menerima TPP saat ini sebanyak 1600 orang. Data ini juga menunjukkan masih besarnya jumlah guru yang belum bersertifikasi dan belum juga merasakan "sedapnya" TPP.

Jumlah guru secara nasional saat ini ada 2.800.000 lebih. Jumlah yang besar dengan sebaran yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Jadi wajar kalau PGRI adalah organisasi besar dan dapat memainkan fungsi tekan terhadap pengambil kebijakan. Namun hal ini tentu butuh kerja keras. Dalam pandangan saya, PGRI harus benar-benar menjadi milik para guru. PGRI bukan hanya menjadi milik pengurus. Pertemuan sekelas konfrensi ini tentu menjadi momen penting bagi para anggotanya. Jangan sampai anggota hanya tahu telah ada pergantian pengurus tanpa mengetahui kapan proses pemilihannya. Kaderisasi partai bisa dijadikan prioritas bila PGRI ingin survive sebagai organsiasi yang bertugas sebagai penggedor.

IGI di satu sisi masih harus belajar untuk terus tumbuh menjadi organisasi nomor 2 di Republik ini. Di usia muda tentu saja IGI perlu belajar dari pengalaman PGRI yang telah matang. Talenta-talenta guru muda di IGI merupakan sumber daya manusia yang menjadi kekuatan IGI. Organisasi kecil memiliki ciri cepat bergerak, kompak, dan sangat dinamis. Keputusan bisa diambil dengan cepat.

Kelahiran organisasi guru, apapun bentuknya, apapun mereknya, harus bisa dipandang oleh PGRI sebagai mitra. Dan pandangan ini harus benar-benar bisa diwujudkan dalam sebuah sinergi dalam rangka memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan para guru. Saya mewakili IGI Aceh Timur menyatakan siap bekerja sama memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan guru tersebut selama dilakukan dengan professional, amanah, jujur, dan bermartabat (sesuai tema konfrensi).

Pesan kerja sama itupun berakhir di ruang makan. Kuah sop dan daging rending olahan guru-guru SMAN 1 Plk memang top. Sepotong irisan semangka merah menjadi pencuci mulut alami sebelum saya meninggalkan arena konferensi menuju ke ruang kerja Ketua IGI. Ruang kerja yang jadi saksi perjuangan guru.

Akhirnya, saya titp pesan kepada pengurus baru PGRI Aceh Timur "IGI menunggu anda di arena". Dan selamat bekerja, kerja, kerja. Kerja keras, Kerja Ikhlas dan Kerja sama...

Salam IGI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar