Selasa, 11 November 2014

BLUSUKAN AKHIR TAHUN KADISDIK PROPINSI ACEH


Bersama Kepala Dinas Pendidikan Aceh

Lama terasa penantian para Kepala Sekolah SMP, SMA, SMK, MTs, dan MA pada hari itu. Senin 10 Nopember 2014 di SKB Peudawa Kab. Aceh Timur. Penantian yang harus dilakukan oleh Direktur sekolah dan madrasah karena intruksi Kadisdik Aceh Timur melalui Kabid Dikmen. "Jam 3 Sore harus sudah berada di SKB!" begitu bunyai sms singkat Pak Drs. Ridwan Kabid dikmen Disdik Aceh Timur.

Para Pengawas Sekolah yang sejak Sabtu, 8 Nopember 2014 sudah mengetahui instruksi itu, telah juga ada di lokasi. Saya sendiri yang datang ke SKB pukul 14.30 WIB langsung diminta bergabung oleh pak Korwas di Kedai air tebu tepat di samping gerbang SKB. Segelas air tebu murni menghilangkan dahaga sekaligus menambah stamina. Persiapan mengikuti acara "blusukan" kadisdik prop Aceh.

Penantian panjang berakhir. Ketika pukul 3 sore (lewat sedikit lah) pak Kadisdik Aceh memasuki ruang SKB.Sosok kadis yang sudah tidak muda lagi tetapi sehari ini saja sudah blusukan di 3 tempat. Pertama menjadi pembina upacara bendera di SMA Negeri 4 Kota Langsa, Lalu membuka seminar MGMP di STAIN Cot Kala Kota langsa, setelah itu menyempatkan diri berdialog dengan para Kepala Sekolah se Kota Langsa di STM Langsa. Sore ini giliran kami yang diblusukin.

Acara sedrhana ini langsung dibuka oleh protokol yaitu Pak Rian Kasikur Dikmen. Setelah membaca diikuti sambutan pak Kabid dikmen, Pak kadisdik aceh timur, setelah itu langsung pak Drs. Anas Adam, M.Pd. menyampaikan presentasinya.

Banyak hal yang beliau sampaikan. Tetapi saya mungkin hanya bisa mencatat beberapa poin saja yang saya anggap penting, anara lain:

1. Anggaran Pendidikan Dinas Pendidikan Aceh
Anggaran pendidikan untuk dinas pendidikan Aceh terus terjadi peningkatan. Pada tahun 2012 anggaran yang dikelola Dinas Pendidikan sebesar 63M. tahun 2013 naik menjadi 131M, dan tahun 2014 meningkat lagi menjadi 295. Besarnya anggaran ini tentu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan di Aceh. Sementara ini, mutu pendidikan Aceh masih berada di posisi ketiga (dari bawah).
Dinas pendidikan menggunakan dana itu antara lain untuk meningkatkan mutu guru. Berbagai pelatihan diberikan kepada guru, mulai dari skala local. nasional, maupun mengirim guru-guru aceh mengikuti pendidikan / pelatihan di luar negeri. Semoga saja peningkatan anggaran ini akan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pendidikan di Aceh.

2. Kualitas Alumni
Pak Anas Bilang "memang ada orang Aceh yang jadi menteri, tapi lihat lulusan manakah pak menteri itu? Lulusan Aceh atau dari luar." Bila ditelusuri memang hampir semua meteri yang dari Aceh adalah lulus universitas ternama di Indonesia. Ada yang lulusan ITB, UI, atau UGM. Jadi dari sisi alumni kampus kita memang kalah bersaing. Oleh karena itu, harus ada lulusan sekolah menengah kita yang melanjutkan ke universitas top. Untuk itu pemerintah aceh membuat jatah beasiswa untuk 150 alumni sma/smk yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi ternama Tanah air. Tetapi apa yagn terjadi, dari 150 kuota yang ditawarkan hanya terisi 45 orang. Dari 45 orang yang lulus tersebut hanya menyisakan 43 orang yang kuliah.
Banyaknya siswa yagn tidak lulus itu dikarenakan tidak lulus mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri yang dituju.

3. Kepala Sekolah tidak pernah supervise
Berdasarkan info yang diperoleh pak Anas dari berbagai sumber, diketahui bahwa salah satu factor penyebab rendahnya mutu guru di Aceh karena Kepala Sekolah tidak pernah melakukan supervise. Kalau ada yang melakukan supervise paling-paling setahun satu kali saja. Tanpa ada supervise maka kepala sekolah dan kita semua tidak pernah tahu "APA YANG DILAKUKAN" guru di kelas. Sehingga guru bisa saja melakukan kesalahan seumur hidupnya saat mengajar. Kenapa bisa begitu? karena kesalahan guru itu tidak diketahui oleh orang lain, termasuk oleh kepala sekolahnya.
maka dari itu, pak Anas berpesan agar kepala sekolah melakukan supervise guru secara rutin satu bulan satu kali untuk seluruh guru.

4. Pengawas tidak professional
Beliau juga menyampaikan kalau pengawas sekolah di Aceh belum menjalankan profesinya atau belum professional. Masih banyak pengawas yang diambil dari kepala sekolah gagal atau bermasalah. Pengawas tidak tahu apa yagn harus dikerjakannya. Maka dari itu pengawas juga hendaknya selalu dibeirkan pelatihan. Pak Anas telah mengirim pengawas propinsi untuk belajar melaksankaan sueprvisi klinis ke Malaysia. Yang di Propinsi sudah, yagn kabupaten kapan pak..hehehe.

5. Revitalisasi MGMP dan KKG
Banyak guru yang tidak mau belajar lagi setelah jadi guru. Padahal pengetahuan dan persoalan yagn ada di sekolah begitu dinamis. Seandainya MGMP dan KKG bisa hidup, tentu persoalan itu bisa diatasi dalam waktu singkat.

6. Oreintasi pada mutu
Kini saatnya kita (di Aceh) berorientasi pada mutu, tidak lagi pada bangunan semata. Membangun pendidikan pada intinya adalah membangun mutu bukan hanya gedung. Memagn sarana itu penting, tetapi bila mengejar membangun fisik dan mengabaikan mutu, inilah hasil yang kita dapat, pendidikan kita kalah mutuya dibandingkan daerah lain.

Ada beberapa hal penting lainnya yang disampaikan oleh pak Kadisdik Propinsi Aceh. Ini adalah 6 poin yagn menurut saya penting untuk dicatatt. semoga bermanfaat untuk kita semua.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar