Rabu, 03 Oktober 2012

BURUH PABRIK DAN PENGAWAS SEKOLAH

REALITAS KEHIDUPAN DUA PROFESI DI REPUBLIK

Presidium Majelis Pekerja Buruh Indonesia atau MPBI Said Iqbal mengatakan mogok nasional buruh yang dilaksanakan pada Rabu, mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB melibatkan 2,8 juta orang di seluruh Indonesia. "Selain melakukan mogok kerja/stop produksi, aksi juga berbentuk unjuk rasa di DPRD di berbagai daerah di Tanah Air," katanya di Jakarta, Rabu pagi. Menurut Said Iqbal yang juga Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), aksi terbesar dipusatkan di tujuh kawasan industri Bekasi, Jawa Barat, khususnya di Ejip, Jababeka, MM 2100, dengan massa sebanyak 500 ribu orang (Antara, 3 Oktober 2012).

Membaca petikan berita yang dapat kita baca berita Yahoo.om ini, menyiratkan adanya satu kenytaan bahwa hidup harus diperjuangkan bila kita ingin sejahtera. Hari buruh kali ini, 3 Oktober 2012, menjadi pengalaman intelektualitas tersediri bagi saya,dimana saat ini saya bisa menyaksikan langsung pergulatan pemikiran kaum buruh Indonesia dalam memperbaiki standar hidupnya. 
Tuntutan pada demonstrasi hari buruh 2012 ini masih mengusung perjuangan lama "kenaikan upah buru", dan hal-hal kontemporer lain kaum buruh. Untuk menaikan upah kerja sebesar uang receh seklaipun, buruh harus turun ke jalan, berteriak pada penguasa dan pengusaha agar dikabulkan. Mereka menuntut bukan untuk kaya, tetapi untuk sekedar bertahan hidup, melawan inflasi, menghadapi peningkatan kebutuhan hidup karena bertambahnya anggota keluarga. Jadi, bukan untuk kaya mereka turun ke jalan. 
Saya saja tidak sanggung membayangkan, dengan upah Rp.1.400.000,- per bulan, kualitas hidup seperti apakah yang dilakoni kaum buruh. Miris rasanya melihat kenyataan ini, melihat betapa sanak saudara kita, sesama anak bangsa harus menjalani kerasnya hidup di kota dengan kondisi keuangan yang minim seperti itu.

Mengapa tema ini saya angkat pada postingan kali ini? Karena ada satu kenyataan tak terbantahkan bahwa semua kaum buruh itu adalah buah proses sistem pendidikan negara kita yang "belum matang." Idealnya para alumni kita itu menjadi tuan di negeri sendiri yang begitu luas dan kaya sumber daya alamnyal. Sewajarnya bila mereka adalah para pemilik atau setidaknya menduduki jabatan manajer di perusahaan-perusahaan yang sebagian besarnya milik asing, bukanlah malah menjadi bawahan rendah, dan dapat dipecat kapan saja tanpa kompensasi, maklum lah status kerja pun hanya pegawai Out sourching. Miris, sedih, dan marah, setelah para guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, menyatakan telah melaksanakan 8 Standar Nasional Pendidikan, ternyata pusat-pusat pendidikan kita hanya menghasilkan para buruh yang justru bisa bekerja sebagai buruh walau tanpa lulus sekolah sekalipun. Biaya sekolah yang teramat mahal -- untuk ukuran kaum miskin kota -- agar bisa menyekolahkan putera-puterinya ke sekolah terbaik, dengan harapan dapat memperbaiki kualitas hidup generasi nantinya melalui pendidikan, menjadi mimpi-mimpi buruk yang kerap mendatangkan penyakit stress di kampung saya di Kota Tangerang. Hal sama juga saya yakini banyak terjadi di daerah-daerah lain di kota-kota seluruh Indonesia.

Lalu apa sumbangan kita para pengawas sekolah menyikapi situasi ini? Sudahkah kita memperjuangkan kepentingan profesi kita seperti kaum buruh? Berhasilkah kita menyumbangkan keilmuan kita untuk sekolah binaan, sebagaimana para buruh mampu membuat laptop, mobil, sepeda motor, televisi, dan lain-lain produk yang kita manfaatkan setiap hari. Marilah, kita jadikan momentum hari buruh ini, sebagai pelajaran penting tentang begitu strategisnya posisi pengawas sekolah. Kalaupun profesi kita ini dianggap belum penting, tidak populer, tentu harus disikapi positif bahwa perubahan itu harus kita perjuangkan bila memang kita ingin pengawas lebih dihargai di masa depan.

Jujur, lebih mudah menuntut pada pengusaha, karena mereka bukanlah "raja" di negeri ini, dibandingkan kita, pengawas sekolah, yang terlebih dahulu berhadapan dengan "raja" nanggroe meskipun hanya hal sepele yang hendak kita minta. Betapa hanya untuk menuntut uang transport Rp.100.000 per bulan saja, agar kinerja para pengawas lebih optimal, kita dipaksa menunduk dan pulang membawa kekecawaan.

Tapi patut pula kita berbangga, bahwa sampai detik ini, ditengah berbagai kasus  penyimpangan di republik tercinta, kasus korupsi, perselingkuhan kekuasaan, intrik-intrik politik, nama pengawas masih bersih. Marilah kita jaga kesucian ini melalui performa maksimal memajukan dunia pendidikan. Jadikan keterbatasan ini sebagai modal untuk mempersembahkan yang terbaik. Paling tidak para buruh akan tenang bekerja di pabrik-pabrik, sebab anak-anak mereka di sekolah akan terjamin hak-hak pendidikannya, karena masih ada pengawas sekolah terbaik yang melakukan pembinaan, pemantaaun, penilaian, di setiap satuan pendidikan tempat anak kaum buruh berada.

Selamat hari buruh, 3 Oktober 2012. 

wassalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar