Sabtu, 26 Maret 2022

KISAH SEKOLAH RAKYAT JAMAN BOKAP

 

Sumber : https://antikjadullangka.blogspot.com/


Sejak kecil kami sudah sering bersama, saya, bokap, dan abang saya yang sekarang biasa dipanggil Ayah Sadam, punya budaya diskusi. Ngobrol bareng ala betawi yang juga lazim dikenal dengan istilah kongkow. Setiap kongkow berlangsung selalu tanpa agenda, tak direncanakan dan bahkan gak punya durasi. Selama mata masih kuat melek, kongkow bisa berlangsung semalam suntuk, dari siap shalat isya bisa sampai azan subuh baru bubar.

Suatu malam saat kongkow, waktu tepatnya gak inget saya tapi itu terjadi setelah saya kuliah di Unsyiah (USK), antara 1994 s.d 2000, terjadi obrolan tentang pengalaman bokap (sekarang beliau sudah almarhum) bersekolah di Sekolah Rakyat (SR). Tahun 1950an memang di kampung kami tidak ada SR. Sekolah terdekat tersebut ada di tanah tinggi, di seberang aliran kali cisadane yang mengalir dari pintu air Tangerang menuju Kalideres Jakarta. Bokap harus berenang menyebrangi sungai. Maklum, saat itu belum ada jembatan Batuceper seperti sekarang. Kata bokap, baju dan celana dibuka, lalu diikat diatas kepala agar tidak basah saat berenang. Titik start berenang disesuaikan dengan kecepatan arus kali Cisadani saat itu.

Saya dan Ayah Sadam gak heran sih kalau bokap berenang, karena memang beliau terkenal jago berenang di kampung kami (Desa Batujaya yang sekarang menjadi Desa Batusari). Selain jago berenang, beliau juga ahli menyelam, kalau kedalaman kali Cisadane yang mengalir ke Kalideres serta deras airnya itu bukan masalah besar buat bokap. Hanya karena biayalah maka bokap gak tamat SR. Kembali ke fokus keheranan kami tadi, lalu dimana buku-buku yang dibawa bokap, apa gak basah. Kami tanyakan itu langsung ke bokap. Jawabannya adalah ternyata bokap gak pake buku. Saat itu yang menjadi alat tulis disebut grip dan bukunya bernama sabak. Sabak merupakan batu yang gak masalah kalaupun basah akibat terendam air. jadi pakaian bokap diikat di atas sabak dan baru diikatkan keatas kepala (dijunjung). Ini rutin bokap lakukan setiap hari sekolah.

Menjelang pergantian milenial, mendengar cerita bokap tentang sabak dan grip seperti mimpi masa lalu. Jadul banget perasaan waktu itu. Kami sudah menggunakan buku, baik itu buku tulis, buku gambar dan buku kotak-kotak. Saat buku sudah digunakan di sekolah, maka grip dan sabak menjadi barang kuno yang tidak relevan lagi digunakan. Kata bokap, dulu pelajaran itu ditulis di sabak, lalu dihafal dan setelah hafal maka tulisan harus dihapus karena akan diganti dengan tulisan baru untuk materi baru. dan ini terjadi setiap hari. Makanya wajar meski hanya kelas 3 SR, pengetahuan bokap luas dan dalam. 

Apa yang dialami bokap saat sekolah meskipun hanya terkait dengan alat tulis, semua itu tidak kami alami lagi. grip dan sabak digantikan dengan buku dan pulpen. Dan sekarang, buku dan pulpen itu bernasib sama dengan grip dan sabak, mereka menjadi jadul dan perlahan mulai banyak ditinggalkan para pelajar. Para pelajar saat ini, apalagi yang bersekolah di kota-kota besar, bisa membaca tanpa buku dan bisa menulis tanpa pulpen. Semua peran buku dan pulpen sudah diambil alih oleh tablet, laptop (komputer) dan ponsel.

Senasib dengan buku dan pulpen, di masa depan bisa saja ruang kelas dan guru akan digantikan juga. Meski saat ini banyak yang meyakini bahwa guru tidak bisa digantikan dengan robot. Melihat kenyataan yang ada, kelak bisa saja orang akan malas belajar terjadwal dari jam 7.30 sampai pukul 13.30 di dalam ruangan. Dengan perkembangan teknologi pembelajaran saat ini, para siswa bisa belajar jam berapa saja sesuai kemauan mereka, dan bisa belajar dimana saja tidak mesti harus di dalam ruang kelas. Ruangan yang dulu kita sebut sebagai ruang maya (online/daring) mulai sering dikunjungi. 

Perkembangan teknologi yang pesat dan kini telah berada di era RI 4.0, memungkinkan orang mengganti guru ril dengan guru maya, dan mengganti ruang kelas dengan ruang belajar maya. Lalu, pertanyaan besarnya adalah apakah kita sudah mengantisipasi ini semua dengan membelajarkan anak didik kita agar kelak siap menghadapi situasi ini saat anak-anak mereka atau cucu-cucu kita memasuki era tersebut dan bersekolah di zaman itu. Semoga kita tidak terlambat dan tidak pernah lupa untuk selalu melakukan adaptasi seperlunya, termasuk dalam membentuk sistem pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman.



Senin, 13 Desember 2021

"MELIHAT ILMU DARI GUNUNG"


 

Saya mulai dengan sebuah catatan tentang kebenaran sejati. Pengandaian gunung, biasanya ada pada puisi-puisi cinta remaja, atau para petualang yang suka mendaki gunung. Semakin tinggi gunung biasanya akan banyak memiliki cerita-cerita rakyat, misalnya legenda gunung Galunggung, Karakatau, Rinjani, Semeru, Bromo, dan lain-lain. Begitu banyak kisah yang berkaitan dengan gunung.

Namun, pada catatan harian tanggal 22 Desember 2015 ini, Sang Guru Besar menggunakan gunung sebagai simbol pengetahuan manusia. Saya sangat menyukai pada detail bagian-bagian gunung yang dijabarkan untuk penggambaran segala hal terkait dengan ilmu. Yang pertama, Tanah datar adalah luasnya ilmu. Ilmu yang ada di dunia tak sebanding dengan luasnya ilmu Tuhan yang menciptakan alam dunia ini. Namun, yang sedikit itupun mustahil bisa dikuasai semuanya oleh manusia. Sungguh, ilmu manusia ini sangat sedikit dan amat terbatas. Seumpama tanah datar yang seolah tiada bertepi. Sejauh mata memandang hanya hamparan rumput hijau dan pepohonan yang tumbuh di beberapa tempat. Tidak semua yang ada di sekitar kita dapat kita ketahui, apalagi apa yang ada dipandangan mata kita saat memandang di tanah yang datar. Oleh karena itu, penggambaran tanah data sebagai luasnya ilmu akan sangat mudah difahami oleh siapapun yang membaca catatan harian ini, karena tidak semua orang pernah naik ke gunung, namun pasti tidak ada satupun manusia yang tidak pernah berjalan dan memandang di tanah yang datar.

Kedua, Puncang gunung adalah bagian tertinggi dari sebuah gunung. Sehebat apapun kita belajar, ilmu kita ada baatasnya. Hal ini juga terkait dengan karakteristik ilmu yang meskipun nampak terbatas tetap menjulang tinggi ke langit. Ilmu itu yang menjadi syarat orang bisa menembus awan. Ilmu yang tinggi akan membuat manusia yang memiliki ilmu tersebut dihormati dan diberikan kedudukan secara sosial dalam kedudukan yang tinggi.

Ketiga, lereng gunung adalah cara memperoleh ilmu. Lereng adalah bagian gunung yang memiliki kemiringan tertentu. Semakin ke atas semakin sulit dilalui karena akan semakin tinggi tingkat kemiringannya. Tepat sekali apa yang Prof. Marsigit tuliskan, begitulah kita menuntut ilmu, ibarat lereng, dimulai dari yang tingkat rendah (mudah), lalu berlanjut secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi (sulit). Ada juga yang mengatakan belajar itu dari yang kongkrit (nyata) menuju kepada kajian yang lebih abstrak.

Keempat, Lembah gunung adalah fondasi ilmu. Lembah menahan tingginya gunung menjulang. Lembah seolah mengikat gunung pada bumi agar tidak bergeser kemana-mana. Lembah gunung membuat gunung-gunung tetap berada di tempatnya dari dulu hingga kini.

Kelima, mata air, lava dan letusan gunung adalah manfaat ilmu. Manusia berilmu tidak akan bermanfaat untuk orang lain sebelum ia mengamalkan ilmunya. Air dan lava tersimpan dalam perut gunung sama dengan ilmu yang tersimpan dalam diri manusia. Setelah air memancar melalui mata air, barulah para petani dan manusia dapat memanfaatkan air untuk beragam kebutuhan, seperti mengairi sawah dan kebun, mandi dan lain sebagainya. Begitu juga lava, setelah keluar melalui letusan gunung, lava akan mengalir menutupi tanah di kaki gunung. Saat lava panas sudah mulai dingin, maka areal pertanian di kaki gunung yang terkena lava akan menjadi lahan yang subur dan bisa memberikan hasil pertanian lebih baik dari sebelumnya. Begitulah manusia, jika ilmu disimpan saja dan tidak pernah diamalkan, maka tidak ada manfaat untuk orang lain. Gunung membentuk mata air dan meledak untuk muntahkan lava agar memberi untuk sekitarnya, maka manusia juga harus mengamalkan ilmunya agar dapat bermanfaat untuk sesamanya.

Keenam, magma gunung adalah hakekat ilmunya. Asala lava adalah magma. Magma tersimpan dalam perut gunung dan hanya akan keluar saat gunung meletus. Saat magma keluar seiring letusan gunung, magma tetap berada di perut gunung, magma yang keluar dari perut gunung disebut sebagai lava. Maka asal lava adalah magma. Itulah umpama hakekat ilmu. Ketika ilmu diamalkan, maka ilmu tidak akan habis, ilmu tetap ada dalam diri manusia yang beramal, bukan berkurang malah akan bertambah. Amal adalah buah dari ilmu yang dipraktekkan. Seumpama magma adalah asal dari lava, maka itulah ilmu, asal dari amal.

Ketujuh, tanaman dan binatangnya adalah objek ilmunya. Tanaman dan binatang hidup diatas perut gunung. Merekalah penikmat dari semua yang dihasilkan oleh gunung. Unsur hara kesuburan diberikan oleh gunung melalui lava untuk tumbuhan. Lalu hewan-hewan herbivora memakan tanaman-tenaman yang hijau. Hewan Karnivora dan omnivora memakan hewan herbivora, dan terciptalah rantai makanan. Hewan-hewan yang mati akan memberikan materi organik tubuhnya menjadi hara bagi tanah dan dimanfaatkan oleh tumbuhan herbivora. Dari situ terciptalah daur biogeokimia alamiah karean Kuasa Tuhan. Bukankah manusia juga diciptakan menjadi rahmat untuk sekalian alam. Semua yang berada di luar diri manusia bisa dikatakan alam (alam dunia). Pada alam ini manusia memberikan “buah” dari ilmu yang dimilikinya. Kita bisa berbagi untuk sesama manusia, tumbuhan, dan hewan serta benda-benda tak hidup di sekitar kita. Meski sebagai ojek, namung semua objek tersebutlah yang menjaga kelangsungan hidup kita sebagai manusia.

Kedelapan, pemandangannya adalah estetika ilmunya. Semua gunung indah saat dipandang. Nampak kehijauan yang meneduhkan mata. Saat berada di gunung, sejak dari lembah hingga ke puncak kita mendapati keindahannya yang khas. Suara-suara hewan menambah indahnya nuansa hijau. Keletihan mendaki tiada terasa tatkala jiwa dapat menemukan keindahan dan kedamaian yang ada di sepanjang perjalanan menuju puncak. Manusia berilmu juga demikian. Ilmu yang ada pada manusia akan menjadikan manusia menjadi pribadi yang indah karena ilmunya. Semakin banyak ilmu yang diamalkan, akan semakin membuat pribadi manusia semakin dinilai baik (indah) oleh manusia lainnya. Karenanya jangan berhenti belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya, agar semakin lama kita hidup akan semakin indah dalam pandangan sesama hidup.

Kesembilan, asapnya naik ke atas, mencari kebenaran sejati milik Allah SWT. Asap dari kawah yang selalu mengepul merangkak naik ke atas. Pelan tapi pasti asap tersebut bersatu dengan penghuni angkasa, terbang mencari kebenaran sejati. Semakin tinggi ilmu, semakin banyak ilmu yang dimiliki setiap insan, hendaknya tidak membuat ia lupa bahwa siapa pemiliki kebenaran ilmu yang sebenarnya. Adalah Allah SWT, Tuhan pemilik semua kebenaran itu. Dialah yang memberikan ilmu kepada hambanya yang mencari maupun yang dikehendakinya. Seumpama asap yang naik ke langit, begitupula doa yang dipanjatkan manusia yang berilmu. Jadi, semakin tinggi ilmu mestinya akan semakin dekat dengan Allah SWT, seumpama gunung yang tertinggi akan lebih dekat menyentuh awan dibandingkan gunung-gunung yang lebih rendah daripadanya.


Kamis, 25 November 2021

DARI ATAS INNOVASI, DARI BAWA BISA ANARKI

 

)


Innovasi adalah kata yang mudah diucapkan tapi sulit saat dilaksanakan. Apalagi innovasi dalam bidang pendidikan. Persoalan pendidikan yang kompleks menjadikan banyak persoalan pendidikan tidak dapat dikenakan innovasi. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari salah satu bahasan padat saat zoom kuliah Filsafat dengan Prof. Marsigit. Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 11 Nopember 2021, Hari Kamis lalu berisi banyak pokok bahasan. Salah satunya adalah tentang Innovasi pendidikan di Indonesia. Selain itu Prof. juga memaparkan tentang pemanfaatan budaya sebagai sarana pembelajaran matematika.

Diselingi senyum khas Prof (saya rasa rekan-rekan mahasiswa kelas A tidak akan bisa lupakan) terkadang masuk kritik membangun. Membangun pemahaman tentang bagaimana merubah mindset mahasiswa S3 yang setelah tamat nanti bisa saja akan menjadi pemimpin di setiap instansinya masing-masing. Ini yang paling ditunggu-tunggu setiap kali zoom berlangsung. Teman-teman menunggu buah pikir yang dalam dan dipadukan dengan pengalaman Prof. Marsigit yang begitu luas, sehingga saat kritik membangun itu mengalir enteng saja dari bibir akademiknya, kami tak bisa memberi komentar, apalagi membantah. Kami hanya bisa tersenyum-senyum malu. Apalagi saat beliau mengatakan bahwa tanpa sadar, kita ini dianggap sebagai bangsa yang kurang kompeten (kira-kira begitu) karena cuma bisa tersenyum. Memang senyum itu ibadah, tetapi senyum-senyum saat ada masalah itu bisa diartikan kita tidak mampu. 

Kita ini bangsa yang paling sering lupa, kata Prof. sambil tersenyum. Kami pun agar merasa gimana gitu, dibilang kita ini bangsa pelupa. Lah, tapi Prof. malah senyum-senyum. "Jangan marah kalau ada yang bilang kita ini pelupa, kalau tidak gampang lupa, mungkin kita saat ini sudah jadi Belanda atau jadi Jepang, karean dijajah bertahun-tahun lamanya. Untung kita pelupa, jadinya kita tetap sebagai Bangsa Indoensia saja. 

Mendengar penjelasan Prof. tentang pemanfaatan budaya dalam pembelajaran matematika juga menarik menurut saya. Budaya kita yang beragam ini kalau digunakan sebagai media beajar matematika pasti akan lebih bermakna dan membuat siswa bisa berkegiatan sosial melalu pembelajaran matematika. dicontohkan juga oleh Prof. bagaimana beliau menyampaikan budaya Palembang yang dijadikan sebagai contoh pemanfaatan dalam pembelajaran matematika. asyik memang, malah sangat menarik dan membuat 2 SKS itu berlalu begitu singkat.

Lalu bagaimana dengan Innovasi pendidikan?  Ada pendapat Prof. yang sulit sekali dibantah argumentasinya. Innovasi itu, di setiap organisasi dimulai dari atas. Perubahan harus dimulai dari pemimpin, bukan dari bawah. Kalau innovasi itu dimulai dari bawah, bisa-bisa akhirnya menjadi anarki. Apalagi di Indonesia. Contoh yang bisa beliau sampaikan adalah tentang persoalan juara PISA dan perankingan pendidikan tingkat Dunia. TErnyata Kunci sukses Finlandia sebagai negara terbaik di bidang pendidikan, adalah CBSA. Bukankah CBSA ini sudah pernah kita lakukan? Memang, sudah qodrat bahwa dalam pembelajaran itu yang akitf adalah siswa, tapi menurut Prof. Marsigit, di Finlandia, CBSA dilakukan karena itu disepakati sebagai kebutuhan metodelogis untuk para siswanya. Beda dengan di Indonesia, CBSA di kita berjalan karena masuk sebagai program Kementrian bidang pendidikan, sehingga saat programnya selesai, CBSA pun berhenti. Begitulah bangsa kita, cepat bosan walau belum ahli.

Jadi jika dalam kelas ingin terjadi perubahan dan ada innovasi-innovasi terbaru, itu harus dimulai dari guru sebagai pemimpin pembelajaran. Bila dalam satu unit sekolah ingin dilakukan perubahan terhadap kinerja guru menjadi lebih baik, maka kepala sekolah harus mulai melakukan perubahan lebih dulu. begitu seterusnya hingga ke Pucuk pimpinan tertinggi. Namun, semua innovasi ini harus juga diikuti oleh adanya motivasi dari siswa saat gurunya berinnovasi. Motivasi guru mendukung innovasi kepala sekolah, dan begitu seterusnya sampai kepada pimpinan tertinggi di Negara kita.

Semoga, di Hari Guru Nasional tahun 2021 ini, semua kita mampu melakukan innovasi sesuai dengan level yang kita miliki saat ini.

Salam Luruh Ego





Senin, 08 November 2021

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PEMBELAJARAN

 Sebagaimana tulisan saya tanggal 29 Oktober 2021, tentang 18 Koreksi Kritis Bagi Kurikulum Baru, terdapat sebuah kritik atau usulan dari Prof. Marsigit, tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran. Alhamdulillah pada Kuliah Kamis lalu, tanggal 4 Nopember 2021, saya langsung meminta penjelasan beliau tentang apa yang dimaksud dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSPBl). 

     "apa yang dimaksud dengan KTSPBl?"


Kurikulum Tingkat Satua eEndidikan (KTSP) itu sudah bersifat otonom atau desentralisasi. Pemerintah Pusat hanya memberikan ketentuan Kompetensi yang harus dicapai untuk seluruh sekolah, ada Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Otonom di tingkat sekolah walaupun pada pelaksanaannya sekolah jarang yang mampu memasukkan kompetensi lain selaian kompeensi-komeptensi yang sudah ditentukan oleh Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Dikti

Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran, otonominya berada pada kegiatan pembelajaran dan ditentukan oleh kebutuhan guru dan siswa dalam pembelajaran. Gambaran sederhanya seperti ini. Misalkan hari ini, Selasa, 9 Nopember 2021 Kita mengajar di kelas XI, IPA. Sebelum pembelajaran berakhir, guru memberikan pertanyaan tentang "apa yang ingin dipelajari siswa pada pertemuan berikutnya (Hari Selasa yang akan datang). 

Jawaban-jawaban siswa lalu dipealari oleh guru. Guru mengelompokkan daftar kegiatan yang ingin dilakukan oleh siswa pada pertemuan berikutnya. Guru lalu menyiapkan media-media yang akan digunakan, menyiapkan srategi dan metode yang sesai dengan keinginan dan kebutuhan Siswa. Dalam hal ini guru juga membuat Lembar Kegiatan Siswa untuk membantu siswa belajar sesuai dengan daftar usulan tadi. sehingga LKS itupun nantinya benar-benar memuat apa yang dibutuhkan dan ingin dipelajari oleh para siswa.

Dalam KTSPBl, semua benar-benar berorientasi pada siswa, sehingga apersepsi pun itu adalah kegiatan siswa, bukan kegiatan guru. begitu juga dengan kegiatan pembelajaran dalam kegiatan inti, sudah merupakan materi yang diminta atau diinginkan oleh siswa pada minggu sebelumnya. dalam hal ini guru menjadi punya otoritas untuk mengembangkan desain pembelajaran. dan ini unik, karena kegiatan pembelajaran di sekolah yang sama tetapi pada kelas paralel yang berbeda, kegaitan pembelajaran bisa berbeda.

KTSPBl akan membuat para siswa berkembang sesuai dengan tuntutan kompetensi nasional yang telah ditetapkan dalam KI dan KD dari pusat, dan ditambah dengan Kompetensi Dasar lain yang berasal dari para siswa sesuai dengan kebutuhan siswa masing-masing. Dan sayup-sayup saya berharap KTPSPBl akan bisa saya lakukan di waktu yang tidak lama lagi.


SAlam Luruh Ego, Kamis, 4 Nopember 2021



Rabu, 03 November 2021

Refleksi Kuliah Filsafat "BIOLOGI SEBAGAI ILMU ATAU KEGIATAN?"


 Kamis, 28 Oktober 2021 ada yang spesial dalam Kulih Filsafat bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A. Dari sekian banyak interaksi, pada hari inilah ada satu bahasan yang bingin mindset saya bergeser, mereng ke kanan dan ke kiri. Bagaimana tidak merek, keyankin dan faham yang sudah bertahun-tahun sejak saya kuliah dan jadi guru Biologi, ternyata harus "digeser".

                        Pak Nurdin, menurut anda "apa itu Biologi"

Pertanyaan yang gampang banget jawabannya karena ini pertanyaan dasar pun waktu kuliah tempo hari. saya langsung jawab 

                    "Biologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk makhluk hidup, prof".

Prof. Marsigit tersenyum dan mulai melakukan pembahasan. Panjang ulasan beliau, tetapi secara ringkas saya tuliskan seperti di bawah ini.

Itulah "kesalahan" kita selama ini. Ilmu itu adalah diskusi para pakar, seperti diksusi kita hari ini antara calon doktor dengan guru besar (profesor). Ilmu itu konsumsinya orang-orang dewasa yang kuliah di S1, S2, dan S3. Anak SD, anak SMP dan SMP untuk apa ilmu itu, mereka belum butuh ilmu. Benar apa yang Prof. Marsigit katakan, ilmu itu kebutuhannya orang tua, kita guru ini yang butuh ilmu. Ketika kita memaksakan anak harus menerima ilmu, anak belajar ilmu, itu sama dengan kita memaksakan keinginan orang tua kepada anak-anak. Apakah ini yang disebut pendidikan? Tentu bukan. Pendidikan tidak bisa berjalan dengan jalan main paksa, termasuk paksa (wajib) belajar 6 tahun, 9 tahun dan juga 12 tahun.

lalu, kalau Biologi itu bukan ilmu jadi apakah dia? Biologi untuk level SD, SMP dan SMA adalah kegiatan sosial untuk memahami makhluk hidup. Berbentuk kegiatan, dikemas dalam berbagai kegiatan, jadi bukan diskusi ilmu. Bagaimana anda mau berdiskusi tentang ilmu kepada anak-anak yang belum berilmu. Anak-anak punya hak untuk melakukan kegiatan sosial. Begitulah sebaiknya, karena memang Ideologi Pendidikan Publik menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran (student oriented). Selama kita mengartikan Biologi sebagai ilmu di level SD, SMP dan SMA, maka itu bisa dikatakan bahwa kita sebagai orang tua sedang "menjajah", "memaksakan kehendak" kepada anak-anak kita di bangku sekolah.

Prof melanjutkan kuliahnya. Matematika saja sudah berani mengatakan bahwa matematika adalah kegiatan sosial. sehingga pembelajaran matematika di sekolah-sekolah tidak lagi menakutkan. anak belajar matematika sesuai kebutuhannya dan sesuai dengan usia mereka masing-masing. Matematika bukanlah ilmu yang harus diturunkan, atau dipaksakan untuk dipelajari kepada semua siswa meskipun mereka tidak butuh itu dan belum saatnya menguasai ilmu itu.

Jujur, penjelasan ini awalnya membebani pikiran saya. Menjadi beban karean mengingat betapa gigihnya saya selama ini memaksakan ilmu yang ada dalam pikiran saya harus ada juga di dalam pikiran siswa-siswi saya. untuk itu saya mohon maaf kepada semua siswa-siswi saya yang telah terpaksa belajar Biologi sebagai ilmu.


Salam Luruh Ego


Babeh Nurdin, Peureulak 4 Nopember 2021

Jumat, 29 Oktober 2021

18 KOREKSI KRITIS BAGI KURIKULUM BARU


Saya terlambat mendapatkan informasi ini. Sebuah koreksi kritis yang berisi masukan-masukan yang sangat penting bagi Insan Pendidikan di Indonesia. Ada 18 Koreksi Kritis (saya menyebutnya begitu) yang dituliskan dan telah diseminarkan di beberapa Perguruan Tinggi. Usulan-usulan yang fundamental terhadap Kurikulum 2013 sebelum kurikulum ini resmi diberlakukan Kemendikbud. Ini bisa jadi bahan masukan bagi kita yang masih mau memikirkan perbaikan Pendidikan di Indonesia. 

Anda semua boleh setuju dan terbuka ruang untuk memberi tambahan. Begitu juga anda semua boleh tidak setuju dan menolak sebagian atau semua usulan ini. Silahkan tuliskan komen anda di kolom komentar. Bagi saya, ini patut kita jadikan pembelajaran apabila Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berencana mengganti Kurikulum Lama dengan Kurikulum yang baru.

Berikut 18 Koreksi Kritis dari Prof. Dr. Marsigit, M.A. dalam sebuah seminar Seminar dan Workshop dengan Tema "Membangun Karakter Bangsa dengan Pendidikan Melalui Kurikulum 2013" yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, pada  Hari Jumat, dan Sabtu, Tanggal  13 dan 14 September 2013. 

  1. Janganlah disebut sebagai Kurikulum 2013, tetapi lebih baik disebut sebagai Revisi Kurikulum 2006, agar masyarakat tidak menganggap Kurikulum baru sebagai asing sama sekali dengan Kurikulum 2006.
  2.  Janganlah menyebut kurikulum berpendekatan Sain, karena istilah ini sangat asing dan dapat mengejutkan masyarakat dan para guru. Sebagai gantinya saya mengusulkan agar digunakan istilah “Pendekatan Eksploratif”
  3. Perlu pendefinisian secara jelas baik secara konseptual maupun filosofis pengertian Kurikulum pada masing-masing Jenjang Pendidikan. Saya mengusulkan agar ada 1 (satu) lagi jenis kurikulum sebagai ujung tombak operasional dilapangan yaitu yang saya sebut sebagai “Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pembelajaran” atau disingkat “KTSPbl”. Alasannya agar persiapan, RPP, silabus, bahan ajar, metode, lebih operasional dan lebih kongkrit serta bersifat kontekstual.
  4. Untuk mendukung adanya KTSPbl, guru perlu mengembangkan 10 (sepuluh) langkah: a. Mengembangkan RPP yang memfasilitasi siswa untuk membangun hidup (ilmu)-Lile Skill, b. Mengembangkan Apersepsi sebagai kegiatan siswa dan bukan kegiatan guru, c. Mengembangkan Kegiatan Diskusi Kelompok, karena hakekat Ilmu bagi siswa SD dan SMP adalah Kegiatan Diskusi, d. Mengembangkan Skema Pencapaian Ketrampilan Hidup (lebih tinggi dari Kompetensi), e. Mengembangkan LKS yang memfasilitasi siswa agar memperoleh Ketrampilan Hidup (LKS harus dibuat sendiri oleh guru dan bukan dari membeli; LKS bukan sekedar kumpulan soal), f. Mengembangkan kegiatan assessment (bukan sekedar penilaian), berupa Portfolio dan Authentics Assessment, g, . Mengembangkan Kegiatan Refleksi Siswa untuk menyampaikan dan menjelaskan kesimpulan diskusi kelompoknya, h. Mengembangkan dan mendorong agar Siswa sendiri yang memperoleh Kesimpulan, i. Mengembangkan Media atau Alat Peraga yang menunjang, j. Menembangkan Metode Pembelajaran yang Dinamis, Kreatif, Fleksibel, dan Kontekstual.
  5. Agar perbaikan Kurikulum memperhatika sistem-sistem atau sub-sistem yang sudah dikembangkan misalnya adanya berbagai sekolah: SSN, RSBI, SBI, KNSI.
  6. Agar dilakukan perubahan-perubahan Paradigma atau Teori-teori agar sesuai dengan tuntutan jaman
  7. Agar Kurikulum baru mampu menjawab 2 (dua) pertanyaan besar dan fundamental yaitu: a. Akuntabilitas Pendidikan, dan b. Sustainabilitas Pendidikan (termasuk CPD=Continuing Professional Development bagi para Guru)
  8. Hendaknya Karakter yang dikembangkan diturunkan dari sila-sila Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung pada UUD 45
  9. Diperlukan redefinisi tentang hakekat keilmuan (Mapel), yaitu bahwa untuk Jenjang Pendidikan Menengah dan Rendah, Keilmuan merupakan proses berpikir atau kegiatan social. Diperlukan redefinisi matematika untuk sekolah yaitu Matematika Sekolah yang didefinisikan sebagai Proses Berpikir atau Kegiatan Sosial. Ebbutt and Straker (1995) mendefinisikan School Mathematics sebagai: Kegiatan mencari pola, Kegiatan menyelesaikan masalah, Kegiatan eksplorasi, dan Kegiatan berkomunikasi. Demikian juga untuk maple-mapel yang lain
  10. Nilai Karakter harusnya diturunkan dari butir-butir Sila Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
  11. Agar dilakukan redefinisi tentang Orientasi Kurikulum yaitu bukan Pengembangan Kompetensi melainkan Pengembangan Ketrampilan Hidup
  12. Redefinisi Hakekat Belajar dan Hakekat Mengajar, yaitu bahwa Belajar adalah kegiatan eksplorasi dan Mengajar juga adalah Kegiatan Penelitian. Hal ini belum cukup, perlu ditambah bahwa Belajar adalah Membangun Hidup (Life Skill)
  13. Redefinisi Metode Mengajar menuju Mngembangkan Ketrampilan Hidup (Life Skill), sehingga Metode Mengajar yang tepat adalah bersifat kontekstual, fleksibel, dinamis dan kreatif, misal : Metode Investigasi/Eksplorasi (yang disebut sebagai Metode Sain) dan Metode Diskusi.
  14. Perlunya kewajiban bagi guru untuk membuat LKS nya sendiri. Karena LKS selama ini hanya membeli dari Penerbit atau bantuan dari Pemerintah, dan itu belum termasuk criteria LKS yang benar, karena hanya merupakan Kumpulan Soal. RPP danLKS yang benar adalah RPP dan LKS yang membantu siswa mengembangkan Ketrampilan Hidup.
  15. Pemerintah harus berani melangkah untuk menghapuskan UAN
  16. Perlu redifinisi hakekat siswa yaitu bahwa Siswa adalah makhluk yang bersifat Hidup, oleh karena itu maka hakekat siswa adalah diri subyek belajar yang berusaha membangun hidupnya (Life Skill)
  17. Perlu dipromosikan bahwa Kompetensi Siswa berkaitan dengan Kebutuhannya dan berkaitan dengan Aspek Budayanya. Maka untuk memperoleh kompetensi ketramilan hidup, siswa perlu melalui tahap-tahap hirarkhis sebagai berikut: WILL, ATTITUDE, KNOWLEDGE, SKILL, and EXPERIENCE, Untuk mencapai Kompetensi tersebut guru perlu membuat Skenario Pembelajaran yaitu Skenario Pencapaian Kompetensi.
  18. Dikembangkan komunikasi agar diperoleh kejelasan tentang perihal tersebut di atas. Sudah saatnya dipromosikan Pendidikan Kontekstual yaitu sesuai dengan Daerah masing-masing; sehingga Pendidikan akan mengembangkan Multi Solusi dan Multi Budaya
Demikianlah koreksi kritis terhadap Kurikulum 2013 yang saat itu baru akan diberlakukan. Semoga jika Mendikbud melakukan pemberlakuan Kurikulum baru, bisa benar-benar menjawab apa yang sedang dibutuhkan oleh Dunia Pendidikan Indoensia khususnya para siswa di sekolah-sekolah.

Salam perubahan

Kamis, 28 Oktober 2021

AKHIRNYA UJIAN AKHIR

 Ujian Nasional sebagai Ujian Akhir di Sekolah-sekolah Format resmi dihapuskan. Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2021 telah menyatakan secara resmi UN tahun 2021 ditiadakan. Ini menandakan berakhirnya era Ujian Nasional yang telah berlangsung cukup lama. Ujian Nasional malahan pernah memiliki beberapa nama, tahun 80an saat saya menamatkan pendidikan Dasar, Ujian Akhir Nasional ini dikenal dengan istilah Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Etanas). berikutnya beberapa kali terjadi perubahan nama, seperti Ujian Akhir Nasional dan Ujian Nasional. Kini pelaksanaan ujian yang dimaksud sudah tidak ada lagi. Lalu bagaimana sikap Publik terhadap kejadian ini

Pro-Kontra Ujian Nasional

Pihak yang mendukung adanya Ujian Nasional tentu kecewa terhadap penghapusan Ujian Nasional (UN). Mereka menganggap selama ini UN menjadi alat yang bisa digunakan untuk "memaksa" siswa kelas akhir tetap fokus belajar. Para siswa dilatih dengan berbagai program, seperti les sore, agar para siswa bisa lulus UN dan lulus sekolah. Setelah UN dihapus, sekarang anak-anak di kelas akhir, kelas 6, Kelas 9, dan kelas 12 tidak serius lagi belajar, karena tidak ada UN lagi. siswa merasa bebas dan tidak mau belajar lagi secara serius. tanpa UN sepertinya guru tidak punya alasan untuk "memaksa" siswa belajar.

Sementara pihak yang mendukung penghapusan UN (penentang UN) menganggap bahwa UN itu "menyiksa" siswa. Menghakimi siswa. Kenapa? karena kelulusan siswa selama berbulan-bulan belajar hanya ditentukan oleh UN yang dilaksanakan selama 4 hari. UN membuat anak stress, malah ada kasus yang bunuh diri karena stress setelah menerima hasil UN di bawah rata-rata. UN itu begitu mengerikan bagi para pihak yang tidak menyetujuinya. Mereka pun sepakat mendukung SE Nomor 1 Tahun 2021. 

Perdebatan kedua pihak yang pro dan kontra tentang ada tidaknya UN ini tentu tiada akhir. seperti rel kereta api yang sampai stasiun akhir pun tetap tidak bertemu. lalu bagaimanan jika kita tinjau dari sisi ideologi pendidikan.

Kita mengenal setidaknya ada lima ideologi pendidikan yaitu:: 1) industrial trainer, 2) technological pragmatism, 3) old humanism, 4) progressive educator, dan 5) public educator, penggunaan ujian sejenis Ujian Nasional ini ditemukan pada ideologi nomor 1, 2, dan 3. sedangkan pada ideologi pendidikan yang 4) progressive educator dan yang kelima yaitu public educator, sudah tidak ditemukan lagi teknik evaluasi seperti UN. Sebagaimana kita tahu, ideologi pendidikan Industrial trainer itu muncul saat awal-awal revolusi industri, dan selanjutnya diikuti oleh ideologi yang kedua yaitu technological pragmatism dan yang ketiga yaitu old humanism. 

Progressive educator dengan public educator adalah dua ideologi yang saat ini banyak diadopsi oleh negara-negara yang demokratis. Indonesia sebagai salah satu negara demokratis memang mestinya menggunakan cara-cara evaluasi sesuai dengan dengan Ideologi Negara kita yang mengusung Demokrasi Pancasila. di dalam sebuah negara yang demokratis, ideologi pendidikannya umumnya progressive educator dan public educator dengan sistem penilaiannya menggunakan Portofolio dan social context. sehingga sebagai negara berkembang yang menuju menjadi negara maju, sistem penilaian di Negara Kita ini pun sudah layak menggunakan portofolio atau social context.

Namun, sudah sering kita menemukan sebuah perdebatan tentang apa yang terjadi di Indonesia, "ganti pimpinan ganti kebijakan", sehingga kadang pendidikan kita ini seperti mengadopsi kelima ideologi pendidikan yang ada, Misalnya, kita menginginkan pembelajaran kita berorientasi pada siswa (progressive educator) tetapi evaluasi kita masih external test (seperti UN) yang masuk dalam kategori evalusi dalam ideologi Industrial trainer.

Namun demikian, kita tepat harus optimistis sekaligus berdoa dan selalu beri dukungan agar pendidikan Indoenesia semkain baik dan semakin maju.


Inspirasi saya dari cuplikan makalah "Pergulanan memperebutkan Filsafat Ideologi dan Paradigma: "Sebuah Kesadaran untuk Lembaga Pendidikan Ke Islaman dalam rangka ikut Membangun Karakter Bangsa (Melalui KKNI dan Kurikulum 2013?)" karya Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Technological

Pragmatism

Kamis, 23 September 2021

LURUH EGO 3



Kemarin, Kamis 23 September 2021 saya dan teman-teman di PPs. S3 PEP UNY kembali masuk ruang zoom. Tepat pukul 11.10 perkuliahan dimulai. Dosen yang mengampu mata kuliah ini adalah Prof. Dr. Marsigit, M.A. Ini salah satu ruang zoom yang plaing ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, kenapa?

Kuliah ini sebetulnya berat. Matakuliahnya adalah Filsafat PEP. Mendengar kata filsafat saja sudah terbayang kalau ruang kuliah akan diisi wajah-wajah tegang, serius mendengarkan penjelasan dosen tentang teori-teori Filsfat. Pembahasan dimulai dari abad-abad lampau saat Filsafat mulai dikenal dan tumbuh. Kita pasti akan terbayang dengan Tokoh-tokoh Filsafat seperti Socrates, Aristoteles, Hume, Heraclitos, dll. Intinya para mahasiswa kemungkinan akan tertidur. 

Tapi di ruang zoom ini tidak. Dijamin tidak akan tertidur. Setelah masuk ruang zoom, Prof. Marsigit akan langsung menyapa semua mahasiswa yang hadir dengan sapaan khasnya. Setelah itu beliau akan meminta para mahasiswa berdoa menurut agamanya masing-masing. setelah berdoa selesai, dilanjutkandengan luruh EGO. Nah, luruh Ego inilah yang jadi obat anti ngantuk di kelas Filsafat bersama Prof. Marsigit.

Luruh Ego pada Kamis, 23 September 2021 berisi 40 pertanyaan yang harus dijawab langsung sesaat setelah soal dibacakan oleh Prof. Marsigit. tidak ada waktu untuk nyontek, liat buku, apalagi telpon kawan yang jago filsafat. Kita harus jawab real time. Langsung dijawab di kertas. Lalu kertas jawaban difoto, dan dikirimkan ke Japri WA Prof. Marsigit. Semua yang ada di ruang zoom Filsafat ini dijamin gak ngantuk dan gak bosen. Sebab hampir bisa dipastikan soal tidak bisa dijawab dengan benar Yang dapat Nol mungkin 98,5%. Sisanya ada yang betul 1 atau 2. itupun tidak banyak jumlahnya. Kata Prof, tujuan diberikan soal ini memang untuk meluruhkan ego mahasiswa supaya bisa belajar dengan ihklas.

Jika kita cermati, memang seluruh pertanyaan yang diberikan adalah judul-judul materi yang akan dibahas dalam perkuliahan. Oleh karena itu, luruh ego ini memiliki banyak fungsi:

1. Menjadi apersepsi sekaligus pre test. 

2. Menjadi instrumen kehadiran. Mahasiswa yang tidak hadir akan langsung terdata karean tidak memiliki bukti jawaban luruh ego yang dikirim langsung ke nomor WA Prof.

3. Tersedianya bahan atau topik diskusi yang melimpah. 

Begitulah kegiatan hari keempat kemarin. Prof. Marsigit tampil dengan selalu bersama senyuman khasnya. Hal ini membuat belajar Filsafat seperti sedang melaksanakan tour ke dalam alam pikiran Prof Marsigit dan disana kita bisa menjumpai banyak pikiran para tokoh Filsafat yang memang telah lama ada.


Salam Luruh Ego


Nurdin, 21701261010


Kamis, 04 April 2019

VISI, MISI, VALUE, DAN CULTURE


Setengah percaya sebelum kita melakukannya! ini pengalaman yang biasa tetapi maknya begitu jauh bila kita mau mencermatinya. Yaitu tentang Visi.
Kalau anda seorang guru atau mungkin kepala sekolah, cobalah tanyakan ke guru-guru anda, "apakah mereka ingat apa visi sekolahnya". Jujur, jawabannya hampir seragam. Guru-guru jarang yang bisa mengingat visi di sekolahnya dengan sempurna. Bahkan tidak jarang blank alias gak inget sedikit pun apa visi sekolahnya. Aneh memang, ada guru yang sudah lama mengabdi di seuatu sekolah tapi tidak tahu apa visi sekolah tempatnya bertugas.

Mengapa banyak guru tidak ingat visi dan misi sekolah? ada bebera jawaban yang dilontarkan saat kita tanyakan masalah ini. Alasan itu antar lain:

  1. Rumusan Visi terlalu panjaaaaaaang, susah dihafalnya. Kenapa bisa panjang begitu? Itu karena visinya hasil copy paste dari sekolah lain. Supaya Visi itu jadi Visi kita, maka harus dimodifikasilah dulu. Makanya setelah dimodif jadi tambah panjang itu visinya.
  2. Rumusan visi tidak dipajang di tempat-tempat umum. Ini alasan bagi sekolah yang gak punya cukup anggaran bikin spanduk Visi yang gede dan di tempel di dinding-dinding sekolah. Padalah ada yang selalu dipanjang di tiap sekolah, yaitu tata tertib sekolah. Meskipun tata tertib sekolah sudah dipasang dan tidak pernah diganti atau diubah posisinya, banyak yang tidak hafal juga. Buktinya masih ada yang prilakunya tidak tertib seperti di tata tertib tadi.
  3. Memang sekolahnya belum punya visi. ini alasan yang lumayan serem. Visi dan Misi adanya dalam proposal-proposal atau dokumen-dokumen sekolah saja. Guru jarang ada yang tahu, karean memang dokumen tersebut sifatnya rahasia. Hehehehe.
Seberapa pentingkah Visi buat sekolah?
Menurut apa yang kita fahami, kalau saya mungkin ada tambahan pemahaman dikit dari NIE Singapura, Visi itulah yang menjadi targetan utama kita dalam beraktivitas. Aktivitas tanpa visi hanya akan menjadi sebuah rutinitas yang tidak punya tujuan sistematis. Sehingga sulit dievaluasi karean memang hanya rutin saja. Yang lebih parah lagi kalau ada visi tapi tidak aksi. visi hanya cantik di dalam spanduk, baliho atau dokumen-dokumen yang dibuat seklah, tetai tidak ada aksi untuk mencapai itu. maka Visi itu akan menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud nyata.

Pertemuan hari ini, ternyata kawan-kawan di SMK Negeri Taman Fajar berhasil mendiskusikan 4 hal penting ini, yaitu : Visi, Misi, Value and Culture SMKN Taman Fajar. Berikut adalah rumusan yang disepakati untuk digunakan dalam 3 tahun kedepan.

Visi Sekolah
Menyiapkan siswa agar memiliki skill, percaya diri, dan mandiri

Misi sekolah
Menyelenggarakan pembelajaran berkukaltias, sesuai dengan kejuruan dan berkarakter.

Value (DK3T)
  • Disiplin
  • Kejujuran
  • Keikhlasan
  • Kerja sama
  • Tanggung jawab
sedangkan Culture nya adalah S2BRI
  • Salam
  • Senyum
  • Bersih
  • Rapih
  • Indah
Semoga bisa dicapai selama 3 tahun ke depan. 

Salam 

Senin, 24 April 2017

NGOMONGIN RPP




Saya belum pernah secara khusus melihat Rencana Pelaksanaan Pembelajaranm milik negara-negara yang telah maju pendidikannya. Katakanlah misalnya RPP guru dari Finlandia, New Zealand, Australia, Jepang, Korea, atau Inggris. Sehingga saya belum bisa memastikan apakah RPP di negara-negara maju tersebut mirip atau berbeda dengan RPP yang dibuat oleh guru-guru di sekolah yang saya pimpin. RPP yang dibuat oleh guru-guru yang baru saja pulang pelatihan dengan tutor atau fasilitator handal binaan Kemendikbud RI.

Riset tentang kemiripan RPP ini ingin saya lakukan kalau ada kesempatan dan ada yang bantu, terutama bantuin duitnya..hehehe. Karena hampir sering saya temui di berbagai kegiatan guru, misalnya Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), didominasi oleh materi pembuatan RPP. Kenapa ya Perencanaan  pembelajaran kok gak selesai-selesai dibuat guru! Kalau persoalan kualitas RPP yang jadi masalah, tentunya para ahli di Kemnedikbud dapat menyelesasikannya gak pake lama. Kalau memang masalah utama dunia pendidikan adalah buruknya RPP, saya rasa dengan kecanggihan teknologi saat ini kita bisa dapat RPP dari banyak sumber. Kalaupun gak bisa langsung dipakai, paling modifikasi sedikit sudah oke digunakan guru. Jadi, kalau memang kita berpedoman perencanaan pembelajaran menentukan kualitas hasil belajar, berarti negara negara maju tadi punya perencanaan pembelajaran yang mantap. Perlu diteliti, mana tahu justru RPP yang dihasilkan guru kita jauh lebih baik, karena dibuat dalam forum forum kegiatan guru yang profesional seperti MGMP dan KKG.

Salah seorang kepala dinas pendidikan pernah menyampaikan bahwa RPP kita sudah sangat tebal, tetapi kenapa mutu pendidikan kita tidak setebal RPP nya. Benar gak ya kualitas pendiidkan kita disebabkan oleh RPP yang tebal itu namun gak bisa diterapkan. Kalau kita mau jujur, berapa persen guru yang mengajar sesuai dengan RPP yang telah disusunnya? Berapa persenkah RPP itu mampu disajikan oleh para guru sekaliber IN, IP, atau IK? Pertanyaan yang gampang-gampang susah jawabnya. Gak perrcaya, cobalah diriset.

Miris jadinya apabila pemerintah ngasih biaya, kadang biaya itu adalah hasil ngutang dari luar negeri duitnya, terus dipake untuk kegiatan penyusunan RPP. Lah, setelah RPP selesai disusun, bukan diterapkan di kelas tetapi disimpan dilemari kaca. RPP ini akan keluar saat guru yang bersangkutan disupervisi oleh pengawas atau kepala sekolahnya. Tahun depan, RPP itu akan dibongkar oleh pemiliknya. Nama kepala sekolah, tahun pelajaran disesuaikan agar saat diperiksa tetap dianggap up-todate. Terus ngajarnya gimana? Anda bisa jawab sendiri ya pembaca semua, guru lebih nyaman ngikutin materi buku paket yang ada padanya, plus LKPD yang juga disediakan oleh penerbit. Biasanya LKPD nya sepaket dengan buku teksnya.

Saya pernah ditantang untuk menyederhanakan RPP di suatu sekolah pada  tahun 2008. Saat itu saya masih seorang guru yang semangat bikin administrasi guru (bukan sombong). Sampai sekarang tantangan itu masih terngiang di benak saya. Ingin saya buat RPP ini jadi 1 lembar saja. Selembar tapi benar-benar bisa jadi pedoman guru dalam melaksanakan Pembelajaran di kelas. Persoalan sering muncul saat kita melakukan kreatifitas dalam bentuk penyederhanan perencanaan pembelajaran ini. Bila tak sesuai standar akan dianggap salah, menyimpang dan tidak standar nasional. Orang tidak mau atau jarang melihat keterpakaiannya. Tidak standar tapi kalau bisa dimanfaatkan dan justru dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, kenaapa tidak kita coba. Hayo yang sudah dipanggil bimtek menulis, siapa yang bisa bantuin saya menyederhanakan RPP.

Haruskah kita menghabiskan waktu sampai seminggu untuk menyusun RPP, padahal itu hanya digunakan untuk waktu yang lebih singkat, 90 menit. Jadi wajar kalau guru mengeluh gak sempat belajar karena waktunya habis digunakan untuk bikin RPP. Saatnya memangkas waktu dan menyederhanakan perencanaan terapi hasilnya bisa mengimbangi kualitas pendidikan di Finland sana. Mungkinkah?

Ngomongin RPP akan menghasilkan suatu telaah positif bagi perbaikan dan penyederhanaan RPP. Kalau bisa, perencanaan pembelajaran bisa dimasukan ke saku baju para guru dan bisa dibuka saat akan digunakan. Ringan namun memuat rangakain kegiatan terstruktur dalam pembelajaran. Perenanaan seperti ini bisa selesai dibuat dalam waktu 15 menit tapi dapat digunakan untuk durasi pembelajaran 180 menit. Inovasi kurikulum yang berubah setiap 10 tahun mestinya makin menyederhanakan tugas guru dalam membuat RPP, bukan sebaliknya.


Kita menunggu ada guru yang berani membuat perencanaan pembelajaran sendiri yang sederhana tapi efektif dalam meningkatkan kualitas hasil belajar para siswanya. Selamat mencoba.

SMK...BISA!!!

Sabtu, 22 April 2017

UANG DAN SEKOLAH






Banyak organisasi yang dibentuk untuk kepentingan profit. Organisasi bisnis adalah salah satu contoh nyata bahwa pembentukannya memang untuk mencari keuntungan. Segala keuntungan yang bisa lebih mudahnya diganti dengan sebutan uang. Ya, hanya uang yang dikumpulkan dan uang juga yang dijadikan sebagai alat berjalannya organisasi profit. Bila uang sudah tidak bisa didapat lagi berarti organisasi teresbut dikatakan bangkrut dan akan "gulung tikar" segera mungkin.

Lalu bagaimanakah dengan sekolah, Apakah sekolah termasuk organisasi profit?

Sejarah panjang sekolah tentu bisa kita dapat dari berbagai referensi. Tetapi yang paling sederhana sekolah adalah organisasi atau institusi negara yang dibentuk untuk memberi pelayanan kepada warga negara di bidang pendidikan. Pelayanan ini tentu tidak didasari mencari keuntungan secara finansial berupa uang. Tidak ada sekolah yang dibentuk untuk mencari uang. Jika ada sekolah yang dibentuk oleh siapapun dan ditujukan untuk mendapatkan keuntungan berupa uang tanpa mempertimbangkan aspek-aspek pelayanan publik, maka sesungguhnya yang sedang dibangun itu bukan sekolah, melainkan pabrik pendidikan.

Sekolah sebagai sebuah institusi negara tentu dibentuk oleh negara. Negara punya kuasa untuk membangun sekolah di setiap tempat dimana warga negara membutuhkan pelayanan publik di bidang pendidikan. Masyarakat boleh membantu membangun di tempat-tempat yang belum ada sekolah karena keterbatasan pemerintah. Tetapi ini juga mestinya tidak boleh terjadi. Bila masyarakat yang membangun sekolah, biasanya visi misi sekolah akan disesuaikan dengan keinginan pendiri sekolah, tidak murni lagi untuk memberikan pelayanan publik di bidang pendidikan.

Sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah diberi gelar sekolah negeri. Semua fasilitas disediakan oleh negara. Inilah yang sekarang masih menjadi persoalan dasar, betapa pemerintah belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan dasar yang harus ada di seklah, misalnya; guru, sarana, dan pembiyaan yang memadai. SEringkali kita temui sekolah yang baru dibangun dengan cepat akan punya gedung, dilengkapi dengan satu orang kepala sekolah. TEtapi sekolah baru tersebut akan lama sekali memiliki guru yang lengkap, sarana yang memadai, dan pembiayaan yang cukup.  Dengan berbagai kekurangan itulah sekolah-sekolah negeri memulai operasionalnya, serba keterbatasan dalam jangka waktu yang tidak terbatas juga, bisa lama namun bisa juga hanya beberapa tahun.

Hal yang berbeda terjadi ketika sekolah dibangun oleh pihak swasta yang punya banyak uang. Gedung sekolahnya belum rampung tetapi mereka sudah memiliki kepala sekolah, guru, dan stat tata usaha hasil seleksi. Tak tanggung-tanggung malah, seleksinya bisa terjadi secara nasional. Tetapi sekolah seperti ini biasanya juga banyak diisi oleh para siswa dari kalangan tertentu terutama yang memiliki uang banyak, keluarga pejabat, atau keluarga para elit di negeri ini.

Sekolah-sekolah negeri yang tidak punya guru cukup, tentu harus menerima guru honor atau guru bakti. para guru non PNS ini melakukan pekerjaan sama seperti PNS tetapi mendapatkan penghasilan yang lebih rendah dari upah pekerja kasar. ADa daerah yang hanya membayar 5 ribu rupiah bagi guru yang telah melaksanakan tugas mengajar 4 x 45 menit. Itupun dibayarnya per triwulan. KEnapa tiap 3 bulan? Itu disebabkan sumber honorarium mereka berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah.

Juknis Penggunaan dana BOS pun selalu berubah. Hampir setiap tahun ada perubahan. Syukur kalau perubahannya itu makin membuat sejahtera sekolah. Beberapa tahun yang lalu para kepala sekolah sempat dibuat pusing oleh dana BOS ini. Masalahnya adalah dalam juknis BOS dilarang membayar honor guru non PNS. TErus dari mana honor para guru non PNS ini! Minta uang dari masyarakat gak boleh, katanya itu pungli. sedangkan di sekolah jumlah guru honor melebihi guru PNS. Tidaklah mungkin tugas negara ini dilakukan secara kerja bakti oleh para guru honor yang jelas-jelas melaksanakan tugas negara dalam memberikan pelayanan pendidikan di negeri ini.

Uang atau pembiayaan memang telah diatur menjadi salah satu standar yang wajib dipenuhi. Siapakah yang wajib memenuhi standar pembiayaan ini? Kalau memang sekolah tidak boleh minta apapun lagi dari orang tua, maka negara secepatnya harus memenuhi kebutuhan biaya operasional sekolah dengan layak. Kalau biaya yang diberikan ala kadar saja, bagaimana mau nuntut mutu yang tinggi. Persoalan biaya, masalah kutip mengutip, kini masih menjadi isu yang sering muncul ke publik disamping berita yang terkait dengan pelaksanaan UJian Nasional (UN).

Ulah oknum sekolah juga bisa saja terjadi. Melakukan aksi-aksi untuk keuntungan pribadi. Selalu ada kemungkinan manipulasi penggunaan dana-dana yang ada di sekolah untuk kepentingan pribadi. Hal ini tentu menjadi tugas pemerintah untuk melakukan pengawasan dan pembinaan di setiap institusinya termasuk di sekolah. Kalau ada kepala sekolah atau pun guru yang "nyeleweng", itu berarti ada kesalahan negara juga dalam melakukan pengawasan dan pembinaan aparatnya di sekolah.

Uang bisa jadi penyelesaian, tetapi uang juga bisa menjadi sumber konflik. Perbedaan penghasilan sesama guru honor atau tenaga kependidikan honor di suatu sekolah bisa menimbulkan kecemburuan. Oleh karena itu, penting dimiliki oleh kita yang saat ini berkecimpung di dunia pendidikan, khususnya di sekolah, janganlah menjadi uang sebagai tujuan keberadaan kita di sekolah. Percayalah, bila kita menjadikan uang sebagai target dan tujuan, bukan sifat pendidik yang ada pada kita, melainkan sifat penjilat dan serakah yang menguasai rongga dada kita. Naudzubillah.

Salam literasi kawan.

Selasa, 18 April 2017

DUNIA SMK


Hari Senin tanggal 27 Maret 2017 merupakan hari penting. Pada hari itu, saya dan teman-teman kepala sekolah menengah atas juga kepala sekolah menengah kejuruan dikukuhkan kembali sebagai kepala sekolah. Hal ini merupakan konsekuensi dari berlakunya UU Nomor 23 Tahun 2014 dimana salah satu ketentuannya mengatur tentang penyerahan pengelolaan SMA dan SMK serta SLB dari pemerintah kabupaten/kota ke Provinsi.

Selain pengukuhan, ada juga yang pelantikan sebagai kepala sekolah baru. Dalam bahasa resminya bisa dikatakan promosi dari guru menjadi kepala sekolah. Memang tidak banyak yang promosi, tergantung dari jumlah unit sekolah baru yang memang belum ada kepala sekolah definitif nya.

Lalu bagaimana dengan saya? Saya datang bukan dikukuhkan, atau promosi, tetapi saya dilantik dalam rangka mutasi dari SMA ke SMK. Loh kok bisa nyebrang dari dunia SMA ke SMK? Saya pun tidak tahu, unik. Ada yang bilang katanya tidak sesuai jalurlah, macam-macam. Kenyataannya saya memang nyebrang "lapak". Semoga yang punya lapak gak marah terlalu lama.

Terkejut itu wajar. Saya sendiri tidak menyangka dimutasi dari kepala SMA menjadi kepala SMK. Dunia yang jauh berbeda meskipun sama-sama di level sekolah menengah atas. Inilah realita karir seorang ASN. Dimanapun ditempatkan harus siap, hehehe. Meskipun kadang ada ASN yang lempar handuk bila ditempatkan pada tempat tugas yang tidak dikehendakinya. Saya terima keputusan ini dan belajar untuk bisa menjalaninya dengan baik. Lagi pula, apasih perbedaannya? kalau dari sisi manajemen saya yakin tidak terlalu banayk beda antara SMA dengan SMK.

Pada tanggal 1 April 2017, saya resmi masuk ruang kepala SMK Negeri Taman Fajar. Sebuah SMK Favorit di Aceh Timur yang membuka jurusan Farmasi dan Analisis kesehatan sebagai jurusan andalannya. Sebuah sekolah yang tenang karena dikeliingi oleh persawahan di bagian depan, belakang dan sebelah kiri (utara). Angin persawahan masih bebas hilir mudik mengisi ruang-ruang kelas dan kantor sekolah ini. Senang rasanya, bisa menatap areal persawahan yang tentunya tidak mudah saya temukan lagi pemandangan sawah begini di desa asal saya di tanah Banten.

Minggu pertama ini saya langsung dihadapkan pada agenda nasional tahunan yaitu UNKP. Berlalu dengan baik, meskipun belum ada anggaran yang masuk ke rekening sekolah saat itu. Tentu saja ini terjadi karena tim di sekolah ini begitu kompak. Salut juga melihat kenyataan mereka dapat bertahan tanpa figur kepala sekolah selama hampir 3 bulan. Ya, kepala SMKN Taman Fajar meninggal dunia 3 bulan lalu. Semoga kekompakan dan keikhlasan yang mereka tunjukkan selama ini bisa tetap dipertahankan.

Kini, mimpi membangun sebuah SMK yang berlevel nasional mulai kami rintis. Perlahan namun pasti sebuah perencanaan bersama untuk jangka panjang, menengah, dan jangka pendek pun telah disusun draftnya. Besar  harapan kami bahwa Dunia SMK di Kabupaten Aceh Timur khususnya dapat tumbuh lebih baik dengan hadirnya saya sebagai orang baru dari Dunia SMA. Semoga semua upaya yang maksimal pada gilirannya akan memberikan hasil terbaik dan membuat keberadaan saya benar-benar diterima Dunia SMK.

Salam SMK...Bisa


Senin, 17 April 2017

SEJARAH SMAN UNGGUL


(BAGIAN #3)




Sabtu cerah ini, tepat tanggal 15 April 2017 saya menghadiri acara perpisahan Generasi 8 SMAN Unggul Aceh Timur. Acara yang perencanaannya saya desain, tapi saat pelaksanaannya saya datang sebagai tamu yang akan dilepas kepergiannya. Hari ini adalah minggu ketiga saya resmi tidak menjabat kepsek lagi di sekolah yang telah 9 tahun bersama saya, baik sebagai guru, pengawas, konsultan PBM dan terakhir sebagai Kepsek.

Agak telat saya dan rombongan dari SMKN Taman Fajar (tempat tugas saya yang baru) tiba di Unggul. Suasana cerah buah dari doa civa unggul agar acara bisa berjalan lancar. Di depan ruang lobi sekolah, saya berjumpa dengan orang yang sangat berpengaruh bukan hanya pada karir saya sebagai PNS, tetapi beliau adalah tokoh kunci “Hidupnya” SMAN Unggul Aceh Timur yang sempat terbengkalai selama 4 tahun, Dialah Bapak H. Agussalim, SH, MH. Merupakan salah satu tokoh kunci beroperasinya sekolah ini pada tahun 2008.

Sejak dibangun sarana fisiknya (gedung) pada tahun 2004 dan selesai pada tahun 2007, sekolah ini memiliki kepala sekolah pertama (K-1, sebutan di unggul) yang bernama Bapak Drs. M. Thaib M. Syah, M.Pd. Sejak dilantik awal Tahun Pelajaran 2007/2008, Pak Kepsek 1 Unggul tidak memiliki guru dan tidak memiliki murid. Aneh, kan! Inilah kenyataan pahit yang penuh tantangan betapa sebuah sekolah unggul tidak memiliki peminat. Tidak ada satupun wali murid dan murid tamatan sekolah menengah pertama yang mau masuk menjadi siswa SMAN Unggul Aceh Timur. Satu tahun beliau berstatus Kepala Sekolah “Jomblo” dan tunggal. Hehehehe.

Tahun 2008, Jabatan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur dipegang oleh Bapak H. Agussalim. Putera Peureulak yang sangat konsern pada peningkatan kualitas pendidikan di Aceh Timur. Betapa tidak, sejak Kota Langsa dan Aceh Tamiang menjadi daerah otonomi dan lepas dari Aceh Timur sebagai kabupaten induk, prestasi kabupaten Aceh Timur di bidang pendidikan sepertinya mengalami penurunan dan kalah bersaing dengan Kota Langsa dan Tamiang yang secara fasilitas pendidikan memang telah lebih baik. Dalam rapat pertama kepala sekolah di rumah beliau, seluruh kepala sekolah diminta untuk menyebutkan nama, nama sekolah, dan jumlah murid. Tiba giliran Kepsek 1 Unggul tersebutlah bahwa Jumlah Murid NOL. Spontan Bapak Kepala Dinas Terkejut mendengar ada sekolah unggul yang tidak punya murid.

Langkah cepat diambil pak Kadisdik Aceh Timur ini. Esoknya beliau meninjau langsung lokasi sekolah yang masih terisolir, belum punya jalan sendiri. Jalan menuju sekolah masih pinjam pakai jalan kampung. Kenapa terisolir, karena meskipun ditemani oleh Kabid Dikmen saat itu, Pak Bustami, Pak Kadis tersesat, salah jalan dan bukan menuju ke unggul tapi masuk ke dapur bata. Begitulah misteriusnya lokasi sekolah ini, sampai-sampai kepala dinas tersesat salah masuk.

Setelah mencari jalan yang benar, pak kadis pun berhasil masuk ke unggul dan melihat kondisi nyata sekolah yang sedikit mengerikan. Halaman tengah ditumbuhi semak yang tingginya di atas kepala kita. Tidak ada jaringan listrik, air, dan akses antar gedung juga putus. Selain gedung, maka sekeliling sekolah adalah tanah lumpur yang hanya bisa dipijak pada saat musim panas, ketika musim hujan datang, maka tanah yang ada kembali ke wujud aselinya sebagai tanah persawahan.

Pak kadis yang nekat ini lalu menerapkan strategi unik. Anggaran yang ada di Dinas pendidikan Kab. Aceh Timur diplot khusus untuk mengaktifkan SMAN Unggul Aceh Timur. Dilakukan seleksi guru dari sekolah-sekolah yang ada di Atim. Terpilihlah 17 guru pertama yang menjadi guru perintis unggul. Sejak seleksi penerimaan guru yang saat itu diadakan di SMAN 1 Rantau Seulamat, status Jomblo Pak Thaib pun hilang, sekarang Sang Kepala Sekolah ini sudah memiliki mitra kerja, yaitu para guru ditambah dengan staf tata usaha yang berjumlah 2 orang. Kalau tidak salah saya, nama Ka. TU adalah Pak Efri, dan Bendahara Sekolah adalah Bu Nazla Khairani. Tapi tetap saja sekolah ini aneh. Dibantu pak Kadis, sekolah sudah punya kepala sekolah, guru, TU, dan juga anggaran yang melimpah, tapi sayangnya belum punya siswa.

 H. Agussalim, Pak Kadis yang sangat lincah dalam mengambil kebijakan ini tidak kehabisan akal. Tahun Pelajaran 2008/2009 dibuatlah promosi penerimaan siswa baru sman unggul aceh timur. Selain itu, beliau menjemput para siswa dari SMA-SMA yang ada di Aceh Timur. Usaha ini berhasil. Unggul punya murid, 1 lokal kelas XI MIPA, dan 2 Lokal Kelas X. Kelas XI pertama ada 20 orang. Tetapi lama-lama siswanya gak betah dan balik lagi ke sekolah asal. Siswa yang bertahan hingga tamat dan menjadi alumni pertama berjumlah 10 orang. Kami menyebutnya laskar pelangi unggul jilid 1. Hehehehe, karena tahun berikutnya ada lokal yang jumlah siswanya juga 10 orang. Alumni pertama ini sekarang sudah banyak yang sukses. Alumni Generasi I ini sekarang memimpin ikatan Alumni, yaitu Bang T. Ighfar. Sekarang sudah bekerja di Bank BTN Aceh.

Sejak tahun 2008 inilah, pak Kepsek 1 memiliki status yang sempurna, punya guru, ada murid, tersedia anggaran, dan dukungan kuat dari Kadisdik Atim. Inilah geliat unggul yang berhasil dihidupkan oleh Kadisdik Aceh Timur yang begitu fenomenal. Kami para guru sangat hormat pada beliau.

Setelah memulai ajaran baru di tahun 2008, berbagai cobaan belum berhenti. Hujan lebat mngirimkan air bah laksana Tsunami dan merobohkan tembok belakang asrama putera. Kejadian tengah malam yang menengangkan. Unggul banjir dan mati lampu. Gelap gulita tak ada cahaya lampu sedikitpun. Beda dengan sekarang, bila mati lampu langsung nyala mesin genset sekolah. Tapi tantangan ini pun bisa diatasi dengan baik atas dukungan Sang Kadis yang “pasang badan” demi jalannya PBM di unggul.

Terakhir, sebelum kisah ini saya tutup. Ada satu hal yang para guru ingat tentang apa yang pak kadis lakukan untuk kami. Beliau kalau datang ke unggul masuk ke semua kelas dan melakukan supervisi PBM. Entah beliau mau belajar atau memang mau melakukan supervisi. Yang jelas, bila beliau datang kami para guru selalu meminta beliau untuk masuk ke kelas kami. Rasa bangga bila beliau masuk dan melihat kami belajar. Tidak seperti para pejabat lain, biasanya kalau ada pejabat yang masuk kelas maka PBM akan dihentikan. Kami tidak, kalau pak Kadis datang ke kelas, maka kami akan menunjukkan kegiatan pmbelajaran yang terbaik. Kalau perlu semua siswa bicara pake bahasa inggris…hehehehe.

Itulah, sekelumit kisah tentang peran salah seorang tokoh kunci “hidupnya” SMAN Unggul Aceh Timur. Dari kubang bui (tempat babi mandi lumpur) hingga menjadi menara ilmu. Dari tanah berlumpur, menjadi tempat yang nyaman untuk beraktivitas, dari tak diminati menjadi sekolah yang kebanjiran pelamar siswa baru tiap tahun. Untuk semua yang telah Bapak H. Agussalim, SH, MH, berikan, kami seluruh Civa Unggul Mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Teriring doa semoga bapak bisa tetap mempertahikan kami meskpun sekarang sudah bertugas di Kota Langsa.

Salam hangat kami untuk pak Kadisdik Aceh Timur yang luar biasa.

Aceh Timur, 17 April 2017
Babe Nurdin

Kepsek 2 Unggul

Rabu, 15 Februari 2017

MAU APA SETELAH UNBK?




Penting menentukan langkah yang benar setelah para siswa menyelesaikan Ujian Nasional dan ujian lain sampai dinyatakan lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Lulus SMA  bearti tamat pendidikan menengah, selanjutnya meniti pendidikan lain yang lebih tinggi levelnya yaitu di Perguruan Tinggi. Tidak semua alumni SMA bisa sampai di perguruan tinggi, ada yang terpaksa mengubur impian mengenyam pendidikan tinggi, misalnya karena faktor biaya, kemampuan akademik, dan lain sebagainya. Bagi yang punya keinginan serta ada kesempatan lanjut ke perguruan tinggi, tentu harus benar-benar menyiapkan langkah tepat, bila salah langkah bukan mustahil impian duduk di bangku kuliah hanya ada dalam angan-angan.

Dalam sebuah amanat pembina upacara, Senin 13 Februari 2017, pemimpin upacara saat di lapangan upacara bendera SMA Negeri Unggul Aceh Timur adalah Bu Poppy Elviani, menurut Bu Poppy, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh calon alumni SMAN Unggul Aceh Timur, antara lain :

  1. Perhatikan kecendrungan nilai di raport. Nilai di buku raport menunjukkan potensi yang ada pada siswa. Ini modal awal para siswa memperoleh informasi awal mau lanjut ke mana. Bagi siswa peminatan IPA misalnya, jangan lah memilih fakultas Ekonomi, tapi pilihlah sesuai dengan peminatan yang telah digeluti sejak 3 tahun lalu. Bukan tidak boleh masuk fakultas ekonomi dan menjadi ahli ekonomi, akan lebih maksimal jika pendidikan tinggi yang akan ditempuh sejalan dengan apa yang telah dipersiapkan di SMA. Begitupun sebaliknya. Tetapi ini hanya informasi awal.
  2. Lihat hobby. Apa yang menjadi hobby para siswa. Kalau hobby menolong orang yang sakit, suka membantu meringankan beban orang lain, senang dikehiupdan bermasyarakat, siswa bisa memilih fakultas kedokteran, atau mungkin Fakultas Kesehatan Masyarakat, atau jurusan lain yang nantinya banyak melakukan kegiatan kemasyarakatan. Begitupan kalau siswa hobby dengan hal-hal yang berhubungan dengan mesin, silahkan ambil teknik mesin, atau jurusan lain yang serumpun.
  3. Kemampuan ekonomi keluarga. Pilih jurusan, lokasi kampus, yang memang terjangkau secara ekonomi. lain halnya kalau siswa mendapat beasiswa, tentu bebas memilih dimana saja dan jurusan apa saja. Jangan sampai pendidikan di kampus berakhir di tengah jalan lantaran tidak cukup pembiayaannya.
Ada beberapa hal lagi yang disampaikan Bu Poppy selaku pembina upacara hari itu, tapi ada satu kata yang beliau sampaikan kepada peserta upacara yaitu siswa unggul jangan sampai SALJU. Apa itu SALJU? Salju adalah singktan dari Salah Jurusan. Hehehe, bisa aja Bu Poppy ini. Kalau sampai Salju, maka kalian akan sulit mencapai kesuksesan.

Oleh karena itu, supaya gak ada SALJU, maka harus persiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Para siswa pun senyum-senyum sambil menyusun rencana persiapan dalam hati. Maklum, 2 bulan terakhir ini persiapan akhir supaya gak kena SALJU akan digulirkan secara terjadwal dan simultan di SMA Negeri Unggul Aceh Timur.

Semoga semua civa unggul mencapai hasil yang gemilang. Amiiin

Minggu, 29 Januari 2017

BELAJAR ADALAH PERUBAHAN



Upacara pagi ini di SMA Negeri Unggul Aceh Timur berlangsung khidmat. Pelaksanaan tepat waktu meskipun ada beberapa siswa yang tidak sempat makan pagi. Kalau tidak makan pagi tentu ada saja siswa yang keluar dari barisan karena tidak cukup stamina. Namun secara umum semua berjalan lancar, tertib dan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Pembina upacara hari ini adalah Mrs. Harpilla Disky. Penugasa pembina di sini terjadwal dengan baik, semua guru, baik itu PNS maupun non PNS akan mendapatkan giliran menjadi pembina upacara dan jadwalnya pun disusun sampai semua guru mendapat kesempatan menjadi pembina. Kalau ada yang berhalangan di semester ini, maka bisa dipastikan semester depan akan melaksanakan tugas sebagai pembina.

Ada yang menarik saat penyampaian amanat pembina upacara hari ini. Mrs. Pilla mengurai tentang situasi kekinian yang terjadi diunggul. Mrs. Pilla mengingatkan pada siswa bahwa belajar adalah proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak baik menjadi baik, dari yang kurang menjadi lebih. Utamanya pada persoalan etika (moralitas). Siswa di SMA Negeri Unggul adalah orang-orang yang terpilih, manusia unggulan, maka harus memiliki etika yang sesuai dengan predikatnya itu. Tidak layak siswa di sekolah ini melakukan sesuatu yang tidak etis, tidak sesuai dengan standar moralitas negeri ini. Apalagi kalau dikaitkan dengan ahklaqur karimah, tentu lebih tidak sesuai lagi.

Pembina upara yang sangat bersemangat juga menyampaikan sebuah perumpaan cerdas tentang jati diri siswa unggulan. Umpama sebuah botol, akan dihargai sebagaimana isi di dalam botol. dengan kandungan isinya sebagai berikut:

  1. Bila botol kita isi air minum, mungkin harganya hanya Rp. 3000. 
  2. Bila botol diisi dengan jus, harganya bisa Rp. 10.000,
  3. Bila botol diisi dengan madu, mungkin saja harganya lebih dari Rp. 100.000,- dan
  4. Bila botol tersebut diisi dengan parfum (parfume) tentu harganya lebih mahal lagi.
Jadi, isi didalam botol menentukan penghargaan orang terhadap botol. Bila botol tersebut kita isi air comberan, tentu orang akan membuang botol itu dalam tong sampah. Begitulah diri kita. bila diri kita ini kita isi dengan etika yang jelek, bisa jadi orang-orang tidak akan menghargai kita dan akan mungkin saja akan memperlakukan kita seperti sampah. Apakah kalian mau diperlukan seperti itu?, tanya Mrs. Pilla dalam amatannya. Spontan para siswa menjawab "Tidak". 

Oleh karena itu, lanjut Mrs. Pilla, jika ingin dihargai orang lain, jika ingin berguna untuk orang lain, selalulah isi diri kita ini dengan yang baik-baik. Diisi dengan yang baik belum tentu kita berprilaku baik, apalagi kalau isi kepala dan hati ini yang jelek-jelek, tentu lebih rusak lagi.

Saya menedengar apa yang disampaikan oleh salah seorang guru di Sekolah ini. Amanat-amanat yang disampaikan begitu ril, mengena dengan apa yang terjadi di sekolah dan bermanfaat untuk mereka hidup di masa depan. Tinggal lagi apakah para siswa mau menerima semua nasehat para guru ini dengan sebaik-baiknya.

Di akhir amanatnya, Mrs. Pilla mengajar para siswa untuk tidak menyentuh barang yang bukan milik kita. Jagalah milik sendiri dan jangan ganggu kepunyaan orang lain. Kalau kita tidak mengambil milik orang lain, tentu sekolah akan aman. 

Saya senang hari ini, semua berjalan lancar. Cuma gangguan kecil adalah pada audio system, ini menjadi PR untuk senin yang akan datang. Terima kasih untuk guru-guru, para staf TU, siswa-siswa, serta seluruh warga SMA Negeri Unggul yang telah membantu saya mengelola sekolah ini menjadi sekolah yang terbaik.

Salam.

Jumat, 06 Januari 2017

JIKA PENGELOLAAN SMA/SMK KEMBALI KE PROPINSI, SIAPA YANG DIUNTUNGKAN?





(Kepala SMAN Unggul Aceh Timur dan Waketum IGI Pengembangan Regional Sumatera). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 2 Ayat (1) menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas Daerah Provinsi dan Daerah Provinsi itu dibagi atas Daerah kabupaten dan kota. Pembagian daerah ini tentu juga diikuti dengan pembagian wewenang dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan.
Urusan pemerintahan berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 terdiri atas urusan pemerintahan absolut, konkuren, dan urusan pemerintahan umum. Sehubungan dengan judul tulisan ini, maka tulisan akan fokus pada urusan pemerintahan yang kedua saja, yaitu urusan pemerintahan konkuren saja.  Urusan pemerintahan konkuren adalah urusan pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi dan daerah kabupaten/kota. Berdasarkan urusan pemerintahan konkuren yang diserahkan ke Daerah inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Otonomi Daerah.
Salah satu Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) adalah menyangkut urusan pendidikan. Meskipun belum ada Peraturan Pemerintah yang menjelaskan tentang detail proses pengelolaan SMA / SMK ke Propinsi, nyatanya pelimpahan data P3D (Personil, Peralatan, Pembiayaan, dan Dokumen) terus berjalan. Artinya jika tidak ada perubahan terhadap proses verifikasi dan pelimpahan data P3D dari kabupaten/kota ke Propinsi, pada 1 Januar 2017 semua pengelolaan pendidikan menengah (SMA dan SMK) akan sepenuhnya menjadi wewenang propinsi.
Siapakah yang diuntungkan jika hal ini benar-benar terjadi?
Bicara untung rugi dalam pengelolaan pendidikan ini tentu tidak hanya tertuju pada aspek pengelolaan anggaran, ada hal-hal lain yang mengikuti proses pengalihan wewenang pengelolaan urusan pendidikan menengah ini. Pertama, bila kita tinjau dari sisi pengelolaan anggaran, tentu saja Pemerintah Propinsi akan menerima berkah. Betapa Tidak, anggaran yang selama ini tersebar di kabupaten/kota, akan dipusatkan pengelolaannya di propinsi. Berdasarkan data BPS Aceh, pada tahun 2014 jumlah SMA di Propinsi Aceh sebanyak 373 unit. Bila selama ini anggaran untuk sekolah tersebut dikelola oleh 23 Kabupaten/Kota, maka mulai tahun 2017 pengelolaannya ada di propinsi.
Kedua, dari sisi penjaminan mutu, khususnya pada Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), sekolah akan memiliki kualitas dengan standar yang sama antar kabupaten/kota. Hal ini karena perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi SPMI berlaku sama. Propinsi tentu akan memberikan dukungan yang sama kepada semua sekolah yang sejak 1 Januari 2017 nanti berada di bawah wewenangnya. Kualitas sumberdaya insan pendidikan menengah juga akan bisa ditingkatkan  secara menyeluruh oleh Pemerintah Aceh. Saat masih berada di bawah naungan pemerintah kabupaten/kota, terdapat kesenjangan peningkatan sumberdaya insan pendidikan yang tentu saja disebabkan perbedaan PAD tiap daerah, ke depan semua bisa diminimalisir karena sumber pembiyaan program-program peningkatan sumberdaya insan pendidikan berasal dari kas Pemprop Aceh.
Ketiga, distribusi guru lebih mudah dilakukan. Hal ini disebabkan perpindahan guru berada pada kebijakan gubernur. Guru-guru yang menumpuk di daerah perkotaan seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, dan kota-kota lainnya, bisa didistribusikan ke kabuapten/kota yang membutuhkan. Pendistribusian guru ini penting dilakukan, karena selain kurang dari sisi jumlah, ada daerah-daerah yang kekurangan dari segi kualifikasi jenis mata pelajaran yang diampu. Apalagi untuk sekolah-sekolah kejuruan yang baru dibangun. Mengapa bisa kekurangan guru? Karena selama ini, kabupaten/kota banyak mendapatkan bantuan Unit Sekolah Baru (USB) tetapi tidak diiringi dengan pengangkatan guru (PNS) baru di sekolah tersebut. Selain itu, sekolah-sekolah tertentu yang memiliki jumlah rombel besar, banyak yang mengalami kekurangan guru. Jika dikelola oleh propinsi, kita berharap bahwa Gubernur melalui Dinas Pendidikan Aceh dapat mengatasi kekurangan guru ini, minimal dengan mengeluarkan SK guru Kontrak Propinsi. Ini penting, karena guru-guru honor murni yang selama ini mengabdi di sekolah-sekolah di kabupaten/kota mendapatkan honor yang jauh dari besaran Upah Minimum. SK Guru Kontrak setidaknya bisa memberikan penghasilan para guru minimal sebesar UMP.
Tentu masih ada keuntungan-keuntungan lain yang bisa kita dapatkan dari proses pengalihan ini. Disamping keuntungan tersebut, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita anggap sebagai kerugian. Pertama, kabupaten/kota yang selama ini telah melakukan investasi di SMA akan “kehilangan” asetnya. Artinya ada perpindahan kepemilikan aset dari kabupaten/kota ke propinsi.
Kedua, sekolah yang selama ini mendapatkan bantuan pembiayaan operasional pendamping dari kabuapten/kota – meskipun tidak semua daerah memberikan ini – tentu tidak akan mendapatkannya lagi. Hal ini tidak menjadi persoalan apabila Pemerintah propinsi mau menganggarkan bantuan operasional pendamping dana BOS Pusat. Bila tidak ada anggaran pengganti dari Propinsi, dampaknya adalah pelaksanaan program pendidikan di sekolah akan terganggu. Mudah-mudahan hal ini sudah diantisipasi oleh pemerintah Propinsi. Menjadi terganggu karena ini terjadi di semester genap, sementara semua perencanaan termasuk penggajian guru honorer selama ini dibiaya oleh dana bantuan operasional pendamping dari kabupaten/kota. Bila ini tidak ada, sumber anggaran untuk membayar guru honorer tidak ada. Sebagaimana kita ketahui, dana BOS pusat yang terbatas jumlahnya itu tidak bisa digunakan untuk membayar guru honor murni di sekolah menengah atas.
Ketiga,rantai adminstrasi menjadi panjang. Selama ini semua urusan selesai sampai ibu kota kabupaten/kota, malahan ada urusan yang cukup diselesaikan di tingkat kecamatan, yaitu di UPTD. Bila telah berada di bawah kendali propinsi, tentu semua administrasi sekolah berakhirnya di Ibukota Propinsi. Banyak yang berharap dihidupkan lagi Kantor perwakilan Dinas Pendidikan Propinsi di setiap kabupaten/kota. Wacana ini pernah mencuat saat rakor dengan Kepala Dinas Pendidikan di Banda Aceh, dimana nanti akan ada kantor bidang pendidikan menengah Dinas Pendidkan Aceh yang lokasinya ada di daerah kabupaten/kota. Bisa jadi satu kantor pewakilan itu melayani 2 atau 3 kabupaten/kota sebagaimana posisi PPMG saat ini.

Apapun yang terjadi, semua kita berharap agar pengalihan urusan pendidikan dari kabupaten/kota ke Propinsi dapat menguntungkan kita semua, khususnya insan sekolah di seluruh Aceh. Semoga.

(sudah dimuat di media Citra Aceh)