Jumat, 15 Agustus 2025
Rabu, 13 Agustus 2025
Sabtu, 26 Maret 2022
KISAH SEKOLAH RAKYAT JAMAN BOKAP
Senin, 13 Desember 2021
"MELIHAT ILMU DARI GUNUNG"
Saya mulai dengan sebuah catatan
tentang kebenaran sejati. Pengandaian gunung, biasanya ada pada puisi-puisi
cinta remaja, atau para petualang yang suka mendaki gunung. Semakin tinggi
gunung biasanya akan banyak memiliki cerita-cerita rakyat, misalnya legenda
gunung Galunggung, Karakatau, Rinjani, Semeru, Bromo, dan lain-lain. Begitu
banyak kisah yang berkaitan dengan gunung.
Namun, pada catatan harian
tanggal 22 Desember 2015 ini, Sang Guru Besar menggunakan gunung sebagai simbol
pengetahuan manusia. Saya sangat menyukai pada detail bagian-bagian gunung yang
dijabarkan untuk penggambaran segala hal terkait dengan ilmu. Yang pertama, Tanah
datar adalah luasnya ilmu. Ilmu yang ada di dunia tak sebanding dengan
luasnya ilmu Tuhan yang menciptakan alam dunia ini. Namun, yang sedikit itupun mustahil
bisa dikuasai semuanya oleh manusia. Sungguh, ilmu manusia ini sangat sedikit
dan amat terbatas. Seumpama tanah datar yang seolah tiada bertepi. Sejauh mata
memandang hanya hamparan rumput hijau dan pepohonan yang tumbuh di beberapa
tempat. Tidak semua yang ada di sekitar kita dapat kita ketahui, apalagi apa
yang ada dipandangan mata kita saat memandang di tanah yang datar. Oleh karena
itu, penggambaran tanah data sebagai luasnya ilmu akan sangat mudah difahami
oleh siapapun yang membaca catatan harian ini, karena tidak semua orang pernah
naik ke gunung, namun pasti tidak ada satupun manusia yang tidak pernah
berjalan dan memandang di tanah yang datar.
Kedua, Puncang gunung
adalah bagian tertinggi dari sebuah gunung. Sehebat apapun kita belajar, ilmu
kita ada baatasnya. Hal ini juga terkait dengan karakteristik ilmu yang
meskipun nampak terbatas tetap menjulang tinggi ke langit. Ilmu itu yang
menjadi syarat orang bisa menembus awan. Ilmu yang tinggi akan membuat manusia
yang memiliki ilmu tersebut dihormati dan diberikan kedudukan secara sosial
dalam kedudukan yang tinggi.
Ketiga, lereng gunung adalah
cara memperoleh ilmu. Lereng adalah bagian gunung yang memiliki kemiringan
tertentu. Semakin ke atas semakin sulit dilalui karena akan semakin tinggi tingkat
kemiringannya. Tepat sekali apa yang Prof. Marsigit tuliskan, begitulah kita
menuntut ilmu, ibarat lereng, dimulai dari yang tingkat rendah (mudah), lalu berlanjut
secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi (sulit). Ada juga yang mengatakan
belajar itu dari yang kongkrit (nyata) menuju kepada kajian yang lebih abstrak.
Keempat, Lembah gunung
adalah fondasi ilmu. Lembah menahan tingginya gunung menjulang. Lembah seolah
mengikat gunung pada bumi agar tidak bergeser kemana-mana. Lembah gunung membuat
gunung-gunung tetap berada di tempatnya dari dulu hingga kini.
Kelima, mata air, lava dan
letusan gunung adalah manfaat ilmu. Manusia berilmu tidak akan bermanfaat untuk
orang lain sebelum ia mengamalkan ilmunya. Air dan lava tersimpan dalam perut
gunung sama dengan ilmu yang tersimpan dalam diri manusia. Setelah air memancar
melalui mata air, barulah para petani dan manusia dapat memanfaatkan air untuk
beragam kebutuhan, seperti mengairi sawah dan kebun, mandi dan lain sebagainya.
Begitu juga lava, setelah keluar melalui letusan gunung, lava akan mengalir
menutupi tanah di kaki gunung. Saat lava panas sudah mulai dingin, maka areal
pertanian di kaki gunung yang terkena lava akan menjadi lahan yang subur dan
bisa memberikan hasil pertanian lebih baik dari sebelumnya. Begitulah manusia,
jika ilmu disimpan saja dan tidak pernah diamalkan, maka tidak ada manfaat
untuk orang lain. Gunung membentuk mata air dan meledak untuk muntahkan lava
agar memberi untuk sekitarnya, maka manusia juga harus mengamalkan ilmunya agar
dapat bermanfaat untuk sesamanya.
Keenam, magma gunung adalah
hakekat ilmunya. Asala lava adalah magma. Magma tersimpan dalam perut gunung
dan hanya akan keluar saat gunung meletus. Saat magma keluar seiring letusan
gunung, magma tetap berada di perut gunung, magma yang keluar dari perut gunung
disebut sebagai lava. Maka asal lava adalah magma. Itulah umpama hakekat ilmu. Ketika
ilmu diamalkan, maka ilmu tidak akan habis, ilmu tetap ada dalam diri manusia
yang beramal, bukan berkurang malah akan bertambah. Amal adalah buah dari ilmu
yang dipraktekkan. Seumpama magma adalah asal dari lava, maka itulah ilmu, asal
dari amal.
Ketujuh, tanaman dan
binatangnya adalah objek ilmunya. Tanaman dan binatang hidup diatas perut
gunung. Merekalah penikmat dari semua yang dihasilkan oleh gunung. Unsur hara
kesuburan diberikan oleh gunung melalui lava untuk tumbuhan. Lalu hewan-hewan
herbivora memakan tanaman-tenaman yang hijau. Hewan Karnivora dan omnivora
memakan hewan herbivora, dan terciptalah rantai makanan. Hewan-hewan yang mati
akan memberikan materi organik tubuhnya menjadi hara bagi tanah dan
dimanfaatkan oleh tumbuhan herbivora. Dari situ terciptalah daur biogeokimia
alamiah karean Kuasa Tuhan. Bukankah manusia juga diciptakan menjadi rahmat untuk
sekalian alam. Semua yang berada di luar diri manusia bisa dikatakan alam (alam
dunia). Pada alam ini manusia memberikan “buah” dari ilmu yang dimilikinya. Kita
bisa berbagi untuk sesama manusia, tumbuhan, dan hewan serta benda-benda tak
hidup di sekitar kita. Meski sebagai ojek, namung semua objek tersebutlah yang
menjaga kelangsungan hidup kita sebagai manusia.
Kedelapan, pemandangannya
adalah estetika ilmunya. Semua gunung indah saat dipandang. Nampak kehijauan yang
meneduhkan mata. Saat berada di gunung, sejak dari lembah hingga ke puncak kita
mendapati keindahannya yang khas. Suara-suara hewan menambah indahnya nuansa
hijau. Keletihan mendaki tiada terasa tatkala jiwa dapat menemukan keindahan
dan kedamaian yang ada di sepanjang perjalanan menuju puncak. Manusia berilmu
juga demikian. Ilmu yang ada pada manusia akan menjadikan manusia menjadi
pribadi yang indah karena ilmunya. Semakin banyak ilmu yang diamalkan, akan
semakin membuat pribadi manusia semakin dinilai baik (indah) oleh manusia
lainnya. Karenanya jangan berhenti belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya,
agar semakin lama kita hidup akan semakin indah dalam pandangan sesama hidup.
Kesembilan, asapnya naik
ke atas, mencari kebenaran sejati milik Allah SWT. Asap dari kawah yang selalu
mengepul merangkak naik ke atas. Pelan tapi pasti asap tersebut bersatu dengan penghuni
angkasa, terbang mencari kebenaran sejati. Semakin tinggi ilmu, semakin banyak
ilmu yang dimiliki setiap insan, hendaknya tidak membuat ia lupa bahwa siapa
pemiliki kebenaran ilmu yang sebenarnya. Adalah Allah SWT, Tuhan pemilik semua
kebenaran itu. Dialah yang memberikan ilmu kepada hambanya yang mencari maupun
yang dikehendakinya. Seumpama asap yang naik ke langit, begitupula doa yang
dipanjatkan manusia yang berilmu. Jadi, semakin tinggi ilmu mestinya akan
semakin dekat dengan Allah SWT, seumpama gunung yang tertinggi akan lebih dekat
menyentuh awan dibandingkan gunung-gunung yang lebih rendah daripadanya.
Kamis, 25 November 2021
DARI ATAS INNOVASI, DARI BAWA BISA ANARKI
Senin, 08 November 2021
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PEMBELAJARAN
Sebagaimana tulisan saya tanggal 29 Oktober 2021, tentang 18 Koreksi Kritis Bagi Kurikulum Baru, terdapat sebuah kritik atau usulan dari Prof. Marsigit, tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran. Alhamdulillah pada Kuliah Kamis lalu, tanggal 4 Nopember 2021, saya langsung meminta penjelasan beliau tentang apa yang dimaksud dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSPBl).
"apa yang dimaksud dengan KTSPBl?"
Kurikulum Tingkat Satua eEndidikan (KTSP) itu sudah bersifat otonom atau desentralisasi. Pemerintah Pusat hanya memberikan ketentuan Kompetensi yang harus dicapai untuk seluruh sekolah, ada Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Otonom di tingkat sekolah walaupun pada pelaksanaannya sekolah jarang yang mampu memasukkan kompetensi lain selaian kompeensi-komeptensi yang sudah ditentukan oleh Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Dikti
Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran, otonominya berada pada kegiatan pembelajaran dan ditentukan oleh kebutuhan guru dan siswa dalam pembelajaran. Gambaran sederhanya seperti ini. Misalkan hari ini, Selasa, 9 Nopember 2021 Kita mengajar di kelas XI, IPA. Sebelum pembelajaran berakhir, guru memberikan pertanyaan tentang "apa yang ingin dipelajari siswa pada pertemuan berikutnya (Hari Selasa yang akan datang).
Jawaban-jawaban siswa lalu dipealari oleh guru. Guru mengelompokkan daftar kegiatan yang ingin dilakukan oleh siswa pada pertemuan berikutnya. Guru lalu menyiapkan media-media yang akan digunakan, menyiapkan srategi dan metode yang sesai dengan keinginan dan kebutuhan Siswa. Dalam hal ini guru juga membuat Lembar Kegiatan Siswa untuk membantu siswa belajar sesuai dengan daftar usulan tadi. sehingga LKS itupun nantinya benar-benar memuat apa yang dibutuhkan dan ingin dipelajari oleh para siswa.
Dalam KTSPBl, semua benar-benar berorientasi pada siswa, sehingga apersepsi pun itu adalah kegiatan siswa, bukan kegiatan guru. begitu juga dengan kegiatan pembelajaran dalam kegiatan inti, sudah merupakan materi yang diminta atau diinginkan oleh siswa pada minggu sebelumnya. dalam hal ini guru menjadi punya otoritas untuk mengembangkan desain pembelajaran. dan ini unik, karena kegiatan pembelajaran di sekolah yang sama tetapi pada kelas paralel yang berbeda, kegaitan pembelajaran bisa berbeda.
KTSPBl akan membuat para siswa berkembang sesuai dengan tuntutan kompetensi nasional yang telah ditetapkan dalam KI dan KD dari pusat, dan ditambah dengan Kompetensi Dasar lain yang berasal dari para siswa sesuai dengan kebutuhan siswa masing-masing. Dan sayup-sayup saya berharap KTPSPBl akan bisa saya lakukan di waktu yang tidak lama lagi.
SAlam Luruh Ego, Kamis, 4 Nopember 2021
Rabu, 03 November 2021
Refleksi Kuliah Filsafat "BIOLOGI SEBAGAI ILMU ATAU KEGIATAN?"
Kamis, 28 Oktober 2021 ada yang spesial dalam Kulih Filsafat bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A. Dari sekian banyak interaksi, pada hari inilah ada satu bahasan yang bingin mindset saya bergeser, mereng ke kanan dan ke kiri. Bagaimana tidak merek, keyankin dan faham yang sudah bertahun-tahun sejak saya kuliah dan jadi guru Biologi, ternyata harus "digeser".
Pak Nurdin, menurut anda "apa itu Biologi"
Pertanyaan yang gampang banget jawabannya karena ini pertanyaan dasar pun waktu kuliah tempo hari. saya langsung jawab
"Biologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk makhluk hidup, prof".
Prof. Marsigit tersenyum dan mulai melakukan pembahasan. Panjang ulasan beliau, tetapi secara ringkas saya tuliskan seperti di bawah ini.
Itulah "kesalahan" kita selama ini. Ilmu itu adalah diskusi para pakar, seperti diksusi kita hari ini antara calon doktor dengan guru besar (profesor). Ilmu itu konsumsinya orang-orang dewasa yang kuliah di S1, S2, dan S3. Anak SD, anak SMP dan SMP untuk apa ilmu itu, mereka belum butuh ilmu. Benar apa yang Prof. Marsigit katakan, ilmu itu kebutuhannya orang tua, kita guru ini yang butuh ilmu. Ketika kita memaksakan anak harus menerima ilmu, anak belajar ilmu, itu sama dengan kita memaksakan keinginan orang tua kepada anak-anak. Apakah ini yang disebut pendidikan? Tentu bukan. Pendidikan tidak bisa berjalan dengan jalan main paksa, termasuk paksa (wajib) belajar 6 tahun, 9 tahun dan juga 12 tahun.
lalu, kalau Biologi itu bukan ilmu jadi apakah dia? Biologi untuk level SD, SMP dan SMA adalah kegiatan sosial untuk memahami makhluk hidup. Berbentuk kegiatan, dikemas dalam berbagai kegiatan, jadi bukan diskusi ilmu. Bagaimana anda mau berdiskusi tentang ilmu kepada anak-anak yang belum berilmu. Anak-anak punya hak untuk melakukan kegiatan sosial. Begitulah sebaiknya, karena memang Ideologi Pendidikan Publik menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran (student oriented). Selama kita mengartikan Biologi sebagai ilmu di level SD, SMP dan SMA, maka itu bisa dikatakan bahwa kita sebagai orang tua sedang "menjajah", "memaksakan kehendak" kepada anak-anak kita di bangku sekolah.
Prof melanjutkan kuliahnya. Matematika saja sudah berani mengatakan bahwa matematika adalah kegiatan sosial. sehingga pembelajaran matematika di sekolah-sekolah tidak lagi menakutkan. anak belajar matematika sesuai kebutuhannya dan sesuai dengan usia mereka masing-masing. Matematika bukanlah ilmu yang harus diturunkan, atau dipaksakan untuk dipelajari kepada semua siswa meskipun mereka tidak butuh itu dan belum saatnya menguasai ilmu itu.
Jujur, penjelasan ini awalnya membebani pikiran saya. Menjadi beban karean mengingat betapa gigihnya saya selama ini memaksakan ilmu yang ada dalam pikiran saya harus ada juga di dalam pikiran siswa-siswi saya. untuk itu saya mohon maaf kepada semua siswa-siswi saya yang telah terpaksa belajar Biologi sebagai ilmu.
Salam Luruh Ego
Babeh Nurdin, Peureulak 4 Nopember 2021
Jumat, 29 Oktober 2021
18 KOREKSI KRITIS BAGI KURIKULUM BARU
Saya terlambat mendapatkan informasi ini. Sebuah koreksi kritis yang berisi masukan-masukan yang sangat penting bagi Insan Pendidikan di Indonesia. Ada 18 Koreksi Kritis (saya menyebutnya begitu) yang dituliskan dan telah diseminarkan di beberapa Perguruan Tinggi. Usulan-usulan yang fundamental terhadap Kurikulum 2013 sebelum kurikulum ini resmi diberlakukan Kemendikbud. Ini bisa jadi bahan masukan bagi kita yang masih mau memikirkan perbaikan Pendidikan di Indonesia.
Anda semua boleh setuju dan terbuka ruang untuk memberi tambahan. Begitu juga anda semua boleh tidak setuju dan menolak sebagian atau semua usulan ini. Silahkan tuliskan komen anda di kolom komentar. Bagi saya, ini patut kita jadikan pembelajaran apabila Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berencana mengganti Kurikulum Lama dengan Kurikulum yang baru.
Berikut 18 Koreksi Kritis dari Prof. Dr. Marsigit, M.A. dalam sebuah seminar Seminar dan Workshop dengan Tema "Membangun Karakter Bangsa dengan Pendidikan Melalui Kurikulum 2013" yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, pada Hari Jumat, dan Sabtu, Tanggal 13 dan 14 September 2013.
- Janganlah disebut sebagai Kurikulum 2013, tetapi lebih baik disebut sebagai Revisi Kurikulum 2006, agar masyarakat tidak menganggap Kurikulum baru sebagai asing sama sekali dengan Kurikulum 2006.
- Janganlah menyebut kurikulum berpendekatan Sain, karena istilah ini sangat asing dan dapat mengejutkan masyarakat dan para guru. Sebagai gantinya saya mengusulkan agar digunakan istilah “Pendekatan Eksploratif”
- Perlu pendefinisian secara jelas baik secara konseptual maupun filosofis pengertian Kurikulum pada masing-masing Jenjang Pendidikan. Saya mengusulkan agar ada 1 (satu) lagi jenis kurikulum sebagai ujung tombak operasional dilapangan yaitu yang saya sebut sebagai “Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pembelajaran” atau disingkat “KTSPbl”. Alasannya agar persiapan, RPP, silabus, bahan ajar, metode, lebih operasional dan lebih kongkrit serta bersifat kontekstual.
- Untuk mendukung adanya KTSPbl, guru perlu mengembangkan 10 (sepuluh) langkah: a. Mengembangkan RPP yang memfasilitasi siswa untuk membangun hidup (ilmu)-Lile Skill, b. Mengembangkan Apersepsi sebagai kegiatan siswa dan bukan kegiatan guru, c. Mengembangkan Kegiatan Diskusi Kelompok, karena hakekat Ilmu bagi siswa SD dan SMP adalah Kegiatan Diskusi, d. Mengembangkan Skema Pencapaian Ketrampilan Hidup (lebih tinggi dari Kompetensi), e. Mengembangkan LKS yang memfasilitasi siswa agar memperoleh Ketrampilan Hidup (LKS harus dibuat sendiri oleh guru dan bukan dari membeli; LKS bukan sekedar kumpulan soal), f. Mengembangkan kegiatan assessment (bukan sekedar penilaian), berupa Portfolio dan Authentics Assessment, g, . Mengembangkan Kegiatan Refleksi Siswa untuk menyampaikan dan menjelaskan kesimpulan diskusi kelompoknya, h. Mengembangkan dan mendorong agar Siswa sendiri yang memperoleh Kesimpulan, i. Mengembangkan Media atau Alat Peraga yang menunjang, j. Menembangkan Metode Pembelajaran yang Dinamis, Kreatif, Fleksibel, dan Kontekstual.
- Agar perbaikan Kurikulum memperhatika sistem-sistem atau sub-sistem yang sudah dikembangkan misalnya adanya berbagai sekolah: SSN, RSBI, SBI, KNSI.
- Agar dilakukan perubahan-perubahan Paradigma atau Teori-teori agar sesuai dengan tuntutan jaman
- Agar Kurikulum baru mampu menjawab 2 (dua) pertanyaan besar dan fundamental yaitu: a. Akuntabilitas Pendidikan, dan b. Sustainabilitas Pendidikan (termasuk CPD=Continuing Professional Development bagi para Guru)
- Hendaknya Karakter yang dikembangkan diturunkan dari sila-sila Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung pada UUD 45
- Diperlukan redefinisi tentang hakekat keilmuan (Mapel), yaitu bahwa untuk Jenjang Pendidikan Menengah dan Rendah, Keilmuan merupakan proses berpikir atau kegiatan social. Diperlukan redefinisi matematika untuk sekolah yaitu Matematika Sekolah yang didefinisikan sebagai Proses Berpikir atau Kegiatan Sosial. Ebbutt and Straker (1995) mendefinisikan School Mathematics sebagai: Kegiatan mencari pola, Kegiatan menyelesaikan masalah, Kegiatan eksplorasi, dan Kegiatan berkomunikasi. Demikian juga untuk maple-mapel yang lain
- Nilai Karakter harusnya diturunkan dari butir-butir Sila Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
- Agar dilakukan redefinisi tentang Orientasi Kurikulum yaitu bukan Pengembangan Kompetensi melainkan Pengembangan Ketrampilan Hidup
- Redefinisi Hakekat Belajar dan Hakekat Mengajar, yaitu bahwa Belajar adalah kegiatan eksplorasi dan Mengajar juga adalah Kegiatan Penelitian. Hal ini belum cukup, perlu ditambah bahwa Belajar adalah Membangun Hidup (Life Skill)
- Redefinisi Metode Mengajar menuju Mngembangkan Ketrampilan Hidup (Life Skill), sehingga Metode Mengajar yang tepat adalah bersifat kontekstual, fleksibel, dinamis dan kreatif, misal : Metode Investigasi/Eksplorasi (yang disebut sebagai Metode Sain) dan Metode Diskusi.
- Perlunya kewajiban bagi guru untuk membuat LKS nya sendiri. Karena LKS selama ini hanya membeli dari Penerbit atau bantuan dari Pemerintah, dan itu belum termasuk criteria LKS yang benar, karena hanya merupakan Kumpulan Soal. RPP danLKS yang benar adalah RPP dan LKS yang membantu siswa mengembangkan Ketrampilan Hidup.
- Pemerintah harus berani melangkah untuk menghapuskan UAN
- Perlu redifinisi hakekat siswa yaitu bahwa Siswa adalah makhluk yang bersifat Hidup, oleh karena itu maka hakekat siswa adalah diri subyek belajar yang berusaha membangun hidupnya (Life Skill)
- Perlu dipromosikan bahwa Kompetensi Siswa berkaitan dengan Kebutuhannya dan berkaitan dengan Aspek Budayanya. Maka untuk memperoleh kompetensi ketramilan hidup, siswa perlu melalui tahap-tahap hirarkhis sebagai berikut: WILL, ATTITUDE, KNOWLEDGE, SKILL, and EXPERIENCE, Untuk mencapai Kompetensi tersebut guru perlu membuat Skenario Pembelajaran yaitu Skenario Pencapaian Kompetensi.
- Dikembangkan komunikasi agar diperoleh kejelasan tentang perihal tersebut di atas. Sudah saatnya dipromosikan Pendidikan Kontekstual yaitu sesuai dengan Daerah masing-masing; sehingga Pendidikan akan mengembangkan Multi Solusi dan Multi Budaya
Kamis, 28 Oktober 2021
AKHIRNYA UJIAN AKHIR
Ujian Nasional sebagai Ujian Akhir di Sekolah-sekolah Format resmi dihapuskan. Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2021 telah menyatakan secara resmi UN tahun 2021 ditiadakan. Ini menandakan berakhirnya era Ujian Nasional yang telah berlangsung cukup lama. Ujian Nasional malahan pernah memiliki beberapa nama, tahun 80an saat saya menamatkan pendidikan Dasar, Ujian Akhir Nasional ini dikenal dengan istilah Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Etanas). berikutnya beberapa kali terjadi perubahan nama, seperti Ujian Akhir Nasional dan Ujian Nasional. Kini pelaksanaan ujian yang dimaksud sudah tidak ada lagi. Lalu bagaimana sikap Publik terhadap kejadian ini
Pro-Kontra Ujian Nasional
Pihak yang mendukung adanya Ujian Nasional tentu kecewa terhadap penghapusan Ujian Nasional (UN). Mereka menganggap selama ini UN menjadi alat yang bisa digunakan untuk "memaksa" siswa kelas akhir tetap fokus belajar. Para siswa dilatih dengan berbagai program, seperti les sore, agar para siswa bisa lulus UN dan lulus sekolah. Setelah UN dihapus, sekarang anak-anak di kelas akhir, kelas 6, Kelas 9, dan kelas 12 tidak serius lagi belajar, karena tidak ada UN lagi. siswa merasa bebas dan tidak mau belajar lagi secara serius. tanpa UN sepertinya guru tidak punya alasan untuk "memaksa" siswa belajar.
Sementara pihak yang mendukung penghapusan UN (penentang UN) menganggap bahwa UN itu "menyiksa" siswa. Menghakimi siswa. Kenapa? karena kelulusan siswa selama berbulan-bulan belajar hanya ditentukan oleh UN yang dilaksanakan selama 4 hari. UN membuat anak stress, malah ada kasus yang bunuh diri karena stress setelah menerima hasil UN di bawah rata-rata. UN itu begitu mengerikan bagi para pihak yang tidak menyetujuinya. Mereka pun sepakat mendukung SE Nomor 1 Tahun 2021.
Perdebatan kedua pihak yang pro dan kontra tentang ada tidaknya UN ini tentu tiada akhir. seperti rel kereta api yang sampai stasiun akhir pun tetap tidak bertemu. lalu bagaimanan jika kita tinjau dari sisi ideologi pendidikan.
Kita mengenal setidaknya ada lima ideologi pendidikan yaitu:: 1) industrial trainer, 2) technological pragmatism, 3) old humanism, 4) progressive educator, dan 5) public educator, penggunaan ujian sejenis Ujian Nasional ini ditemukan pada ideologi nomor 1, 2, dan 3. sedangkan pada ideologi pendidikan yang 4) progressive educator dan yang kelima yaitu public educator, sudah tidak ditemukan lagi teknik evaluasi seperti UN. Sebagaimana kita tahu, ideologi pendidikan Industrial trainer itu muncul saat awal-awal revolusi industri, dan selanjutnya diikuti oleh ideologi yang kedua yaitu technological pragmatism dan yang ketiga yaitu old humanism.
Progressive educator dengan public educator adalah dua ideologi yang saat ini banyak diadopsi oleh negara-negara yang demokratis. Indonesia sebagai salah satu negara demokratis memang mestinya menggunakan cara-cara evaluasi sesuai dengan dengan Ideologi Negara kita yang mengusung Demokrasi Pancasila. di dalam sebuah negara yang demokratis, ideologi pendidikannya umumnya progressive educator dan public educator dengan sistem penilaiannya menggunakan Portofolio dan social context. sehingga sebagai negara berkembang yang menuju menjadi negara maju, sistem penilaian di Negara Kita ini pun sudah layak menggunakan portofolio atau social context.
Namun, sudah sering kita menemukan sebuah perdebatan tentang apa yang terjadi di Indonesia, "ganti pimpinan ganti kebijakan", sehingga kadang pendidikan kita ini seperti mengadopsi kelima ideologi pendidikan yang ada, Misalnya, kita menginginkan pembelajaran kita berorientasi pada siswa (progressive educator) tetapi evaluasi kita masih external test (seperti UN) yang masuk dalam kategori evalusi dalam ideologi Industrial trainer.
Namun demikian, kita tepat harus optimistis sekaligus berdoa dan selalu beri dukungan agar pendidikan Indoenesia semkain baik dan semakin maju.
Inspirasi saya dari cuplikan makalah "Pergulanan memperebutkan Filsafat Ideologi dan Paradigma: "Sebuah Kesadaran untuk Lembaga Pendidikan Ke Islaman dalam rangka ikut Membangun Karakter Bangsa (Melalui KKNI dan Kurikulum 2013?)" karya Prof. Dr. Marsigit, M.A.
|
Technological Pragmatism |
Kamis, 23 September 2021
LURUH EGO 3
Kemarin, Kamis 23 September 2021 saya dan teman-teman di PPs. S3 PEP UNY kembali masuk ruang zoom. Tepat pukul 11.10 perkuliahan dimulai. Dosen yang mengampu mata kuliah ini adalah Prof. Dr. Marsigit, M.A. Ini salah satu ruang zoom yang plaing ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, kenapa?
Kuliah ini sebetulnya berat. Matakuliahnya adalah Filsafat PEP. Mendengar kata filsafat saja sudah terbayang kalau ruang kuliah akan diisi wajah-wajah tegang, serius mendengarkan penjelasan dosen tentang teori-teori Filsfat. Pembahasan dimulai dari abad-abad lampau saat Filsafat mulai dikenal dan tumbuh. Kita pasti akan terbayang dengan Tokoh-tokoh Filsafat seperti Socrates, Aristoteles, Hume, Heraclitos, dll. Intinya para mahasiswa kemungkinan akan tertidur.
Tapi di ruang zoom ini tidak. Dijamin tidak akan tertidur. Setelah masuk ruang zoom, Prof. Marsigit akan langsung menyapa semua mahasiswa yang hadir dengan sapaan khasnya. Setelah itu beliau akan meminta para mahasiswa berdoa menurut agamanya masing-masing. setelah berdoa selesai, dilanjutkandengan luruh EGO. Nah, luruh Ego inilah yang jadi obat anti ngantuk di kelas Filsafat bersama Prof. Marsigit.
Luruh Ego pada Kamis, 23 September 2021 berisi 40 pertanyaan yang harus dijawab langsung sesaat setelah soal dibacakan oleh Prof. Marsigit. tidak ada waktu untuk nyontek, liat buku, apalagi telpon kawan yang jago filsafat. Kita harus jawab real time. Langsung dijawab di kertas. Lalu kertas jawaban difoto, dan dikirimkan ke Japri WA Prof. Marsigit. Semua yang ada di ruang zoom Filsafat ini dijamin gak ngantuk dan gak bosen. Sebab hampir bisa dipastikan soal tidak bisa dijawab dengan benar Yang dapat Nol mungkin 98,5%. Sisanya ada yang betul 1 atau 2. itupun tidak banyak jumlahnya. Kata Prof, tujuan diberikan soal ini memang untuk meluruhkan ego mahasiswa supaya bisa belajar dengan ihklas.
Jika kita cermati, memang seluruh pertanyaan yang diberikan adalah judul-judul materi yang akan dibahas dalam perkuliahan. Oleh karena itu, luruh ego ini memiliki banyak fungsi:
1. Menjadi apersepsi sekaligus pre test.
2. Menjadi instrumen kehadiran. Mahasiswa yang tidak hadir akan langsung terdata karean tidak memiliki bukti jawaban luruh ego yang dikirim langsung ke nomor WA Prof.
3. Tersedianya bahan atau topik diskusi yang melimpah.
Begitulah kegiatan hari keempat kemarin. Prof. Marsigit tampil dengan selalu bersama senyuman khasnya. Hal ini membuat belajar Filsafat seperti sedang melaksanakan tour ke dalam alam pikiran Prof Marsigit dan disana kita bisa menjumpai banyak pikiran para tokoh Filsafat yang memang telah lama ada.
Salam Luruh Ego
Nurdin, 21701261010
Kamis, 04 April 2019
VISI, MISI, VALUE, DAN CULTURE
Setengah percaya sebelum kita melakukannya! ini pengalaman yang biasa tetapi maknya begitu jauh bila kita mau mencermatinya. Yaitu tentang Visi.
Kalau anda seorang guru atau mungkin kepala sekolah, cobalah tanyakan ke guru-guru anda, "apakah mereka ingat apa visi sekolahnya". Jujur, jawabannya hampir seragam. Guru-guru jarang yang bisa mengingat visi di sekolahnya dengan sempurna. Bahkan tidak jarang blank alias gak inget sedikit pun apa visi sekolahnya. Aneh memang, ada guru yang sudah lama mengabdi di seuatu sekolah tapi tidak tahu apa visi sekolah tempatnya bertugas.
Mengapa banyak guru tidak ingat visi dan misi sekolah? ada bebera jawaban yang dilontarkan saat kita tanyakan masalah ini. Alasan itu antar lain:
- Rumusan Visi terlalu panjaaaaaaang, susah dihafalnya. Kenapa bisa panjang begitu? Itu karena visinya hasil copy paste dari sekolah lain. Supaya Visi itu jadi Visi kita, maka harus dimodifikasilah dulu. Makanya setelah dimodif jadi tambah panjang itu visinya.
- Rumusan visi tidak dipajang di tempat-tempat umum. Ini alasan bagi sekolah yang gak punya cukup anggaran bikin spanduk Visi yang gede dan di tempel di dinding-dinding sekolah. Padalah ada yang selalu dipanjang di tiap sekolah, yaitu tata tertib sekolah. Meskipun tata tertib sekolah sudah dipasang dan tidak pernah diganti atau diubah posisinya, banyak yang tidak hafal juga. Buktinya masih ada yang prilakunya tidak tertib seperti di tata tertib tadi.
- Memang sekolahnya belum punya visi. ini alasan yang lumayan serem. Visi dan Misi adanya dalam proposal-proposal atau dokumen-dokumen sekolah saja. Guru jarang ada yang tahu, karean memang dokumen tersebut sifatnya rahasia. Hehehehe.
- Disiplin
- Kejujuran
- Keikhlasan
- Kerja sama
- Tanggung jawab
- Salam
- Senyum
- Bersih
- Rapih
- Indah
Senin, 24 April 2017
NGOMONGIN RPP
Sabtu, 22 April 2017
UANG DAN SEKOLAH
Banyak organisasi yang dibentuk untuk kepentingan profit. Organisasi bisnis adalah salah satu contoh nyata bahwa pembentukannya memang untuk mencari keuntungan. Segala keuntungan yang bisa lebih mudahnya diganti dengan sebutan uang. Ya, hanya uang yang dikumpulkan dan uang juga yang dijadikan sebagai alat berjalannya organisasi profit. Bila uang sudah tidak bisa didapat lagi berarti organisasi teresbut dikatakan bangkrut dan akan "gulung tikar" segera mungkin.
Lalu bagaimanakah dengan sekolah, Apakah sekolah termasuk organisasi profit?
Sejarah panjang sekolah tentu bisa kita dapat dari berbagai referensi. Tetapi yang paling sederhana sekolah adalah organisasi atau institusi negara yang dibentuk untuk memberi pelayanan kepada warga negara di bidang pendidikan. Pelayanan ini tentu tidak didasari mencari keuntungan secara finansial berupa uang. Tidak ada sekolah yang dibentuk untuk mencari uang. Jika ada sekolah yang dibentuk oleh siapapun dan ditujukan untuk mendapatkan keuntungan berupa uang tanpa mempertimbangkan aspek-aspek pelayanan publik, maka sesungguhnya yang sedang dibangun itu bukan sekolah, melainkan pabrik pendidikan.
Sekolah sebagai sebuah institusi negara tentu dibentuk oleh negara. Negara punya kuasa untuk membangun sekolah di setiap tempat dimana warga negara membutuhkan pelayanan publik di bidang pendidikan. Masyarakat boleh membantu membangun di tempat-tempat yang belum ada sekolah karena keterbatasan pemerintah. Tetapi ini juga mestinya tidak boleh terjadi. Bila masyarakat yang membangun sekolah, biasanya visi misi sekolah akan disesuaikan dengan keinginan pendiri sekolah, tidak murni lagi untuk memberikan pelayanan publik di bidang pendidikan.
Sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah diberi gelar sekolah negeri. Semua fasilitas disediakan oleh negara. Inilah yang sekarang masih menjadi persoalan dasar, betapa pemerintah belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan dasar yang harus ada di seklah, misalnya; guru, sarana, dan pembiyaan yang memadai. SEringkali kita temui sekolah yang baru dibangun dengan cepat akan punya gedung, dilengkapi dengan satu orang kepala sekolah. TEtapi sekolah baru tersebut akan lama sekali memiliki guru yang lengkap, sarana yang memadai, dan pembiayaan yang cukup. Dengan berbagai kekurangan itulah sekolah-sekolah negeri memulai operasionalnya, serba keterbatasan dalam jangka waktu yang tidak terbatas juga, bisa lama namun bisa juga hanya beberapa tahun.
Hal yang berbeda terjadi ketika sekolah dibangun oleh pihak swasta yang punya banyak uang. Gedung sekolahnya belum rampung tetapi mereka sudah memiliki kepala sekolah, guru, dan stat tata usaha hasil seleksi. Tak tanggung-tanggung malah, seleksinya bisa terjadi secara nasional. Tetapi sekolah seperti ini biasanya juga banyak diisi oleh para siswa dari kalangan tertentu terutama yang memiliki uang banyak, keluarga pejabat, atau keluarga para elit di negeri ini.
Sekolah-sekolah negeri yang tidak punya guru cukup, tentu harus menerima guru honor atau guru bakti. para guru non PNS ini melakukan pekerjaan sama seperti PNS tetapi mendapatkan penghasilan yang lebih rendah dari upah pekerja kasar. ADa daerah yang hanya membayar 5 ribu rupiah bagi guru yang telah melaksanakan tugas mengajar 4 x 45 menit. Itupun dibayarnya per triwulan. KEnapa tiap 3 bulan? Itu disebabkan sumber honorarium mereka berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah.
Juknis Penggunaan dana BOS pun selalu berubah. Hampir setiap tahun ada perubahan. Syukur kalau perubahannya itu makin membuat sejahtera sekolah. Beberapa tahun yang lalu para kepala sekolah sempat dibuat pusing oleh dana BOS ini. Masalahnya adalah dalam juknis BOS dilarang membayar honor guru non PNS. TErus dari mana honor para guru non PNS ini! Minta uang dari masyarakat gak boleh, katanya itu pungli. sedangkan di sekolah jumlah guru honor melebihi guru PNS. Tidaklah mungkin tugas negara ini dilakukan secara kerja bakti oleh para guru honor yang jelas-jelas melaksanakan tugas negara dalam memberikan pelayanan pendidikan di negeri ini.
Uang atau pembiayaan memang telah diatur menjadi salah satu standar yang wajib dipenuhi. Siapakah yang wajib memenuhi standar pembiayaan ini? Kalau memang sekolah tidak boleh minta apapun lagi dari orang tua, maka negara secepatnya harus memenuhi kebutuhan biaya operasional sekolah dengan layak. Kalau biaya yang diberikan ala kadar saja, bagaimana mau nuntut mutu yang tinggi. Persoalan biaya, masalah kutip mengutip, kini masih menjadi isu yang sering muncul ke publik disamping berita yang terkait dengan pelaksanaan UJian Nasional (UN).
Ulah oknum sekolah juga bisa saja terjadi. Melakukan aksi-aksi untuk keuntungan pribadi. Selalu ada kemungkinan manipulasi penggunaan dana-dana yang ada di sekolah untuk kepentingan pribadi. Hal ini tentu menjadi tugas pemerintah untuk melakukan pengawasan dan pembinaan di setiap institusinya termasuk di sekolah. Kalau ada kepala sekolah atau pun guru yang "nyeleweng", itu berarti ada kesalahan negara juga dalam melakukan pengawasan dan pembinaan aparatnya di sekolah.
Uang bisa jadi penyelesaian, tetapi uang juga bisa menjadi sumber konflik. Perbedaan penghasilan sesama guru honor atau tenaga kependidikan honor di suatu sekolah bisa menimbulkan kecemburuan. Oleh karena itu, penting dimiliki oleh kita yang saat ini berkecimpung di dunia pendidikan, khususnya di sekolah, janganlah menjadi uang sebagai tujuan keberadaan kita di sekolah. Percayalah, bila kita menjadikan uang sebagai target dan tujuan, bukan sifat pendidik yang ada pada kita, melainkan sifat penjilat dan serakah yang menguasai rongga dada kita. Naudzubillah.
Salam literasi kawan.
Selasa, 18 April 2017
DUNIA SMK
Hari Senin tanggal 27 Maret 2017 merupakan hari penting. Pada hari itu, saya dan teman-teman kepala sekolah menengah atas juga kepala sekolah menengah kejuruan dikukuhkan kembali sebagai kepala sekolah. Hal ini merupakan konsekuensi dari berlakunya UU Nomor 23 Tahun 2014 dimana salah satu ketentuannya mengatur tentang penyerahan pengelolaan SMA dan SMK serta SLB dari pemerintah kabupaten/kota ke Provinsi.
Selain pengukuhan, ada juga yang pelantikan sebagai kepala sekolah baru. Dalam bahasa resminya bisa dikatakan promosi dari guru menjadi kepala sekolah. Memang tidak banyak yang promosi, tergantung dari jumlah unit sekolah baru yang memang belum ada kepala sekolah definitif nya.
Lalu bagaimana dengan saya? Saya datang bukan dikukuhkan, atau promosi, tetapi saya dilantik dalam rangka mutasi dari SMA ke SMK. Loh kok bisa nyebrang dari dunia SMA ke SMK? Saya pun tidak tahu, unik. Ada yang bilang katanya tidak sesuai jalurlah, macam-macam. Kenyataannya saya memang nyebrang "lapak". Semoga yang punya lapak gak marah terlalu lama.
Terkejut itu wajar. Saya sendiri tidak menyangka dimutasi dari kepala SMA menjadi kepala SMK. Dunia yang jauh berbeda meskipun sama-sama di level sekolah menengah atas. Inilah realita karir seorang ASN. Dimanapun ditempatkan harus siap, hehehe. Meskipun kadang ada ASN yang lempar handuk bila ditempatkan pada tempat tugas yang tidak dikehendakinya. Saya terima keputusan ini dan belajar untuk bisa menjalaninya dengan baik. Lagi pula, apasih perbedaannya? kalau dari sisi manajemen saya yakin tidak terlalu banayk beda antara SMA dengan SMK.
Pada tanggal 1 April 2017, saya resmi masuk ruang kepala SMK Negeri Taman Fajar. Sebuah SMK Favorit di Aceh Timur yang membuka jurusan Farmasi dan Analisis kesehatan sebagai jurusan andalannya. Sebuah sekolah yang tenang karena dikeliingi oleh persawahan di bagian depan, belakang dan sebelah kiri (utara). Angin persawahan masih bebas hilir mudik mengisi ruang-ruang kelas dan kantor sekolah ini. Senang rasanya, bisa menatap areal persawahan yang tentunya tidak mudah saya temukan lagi pemandangan sawah begini di desa asal saya di tanah Banten.
Minggu pertama ini saya langsung dihadapkan pada agenda nasional tahunan yaitu UNKP. Berlalu dengan baik, meskipun belum ada anggaran yang masuk ke rekening sekolah saat itu. Tentu saja ini terjadi karena tim di sekolah ini begitu kompak. Salut juga melihat kenyataan mereka dapat bertahan tanpa figur kepala sekolah selama hampir 3 bulan. Ya, kepala SMKN Taman Fajar meninggal dunia 3 bulan lalu. Semoga kekompakan dan keikhlasan yang mereka tunjukkan selama ini bisa tetap dipertahankan.
Kini, mimpi membangun sebuah SMK yang berlevel nasional mulai kami rintis. Perlahan namun pasti sebuah perencanaan bersama untuk jangka panjang, menengah, dan jangka pendek pun telah disusun draftnya. Besar harapan kami bahwa Dunia SMK di Kabupaten Aceh Timur khususnya dapat tumbuh lebih baik dengan hadirnya saya sebagai orang baru dari Dunia SMA. Semoga semua upaya yang maksimal pada gilirannya akan memberikan hasil terbaik dan membuat keberadaan saya benar-benar diterima Dunia SMK.
Salam SMK...Bisa
Senin, 17 April 2017
SEJARAH SMAN UNGGUL
Rabu, 15 Februari 2017
MAU APA SETELAH UNBK?
Penting menentukan langkah yang benar setelah para siswa menyelesaikan Ujian Nasional dan ujian lain sampai dinyatakan lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Lulus SMA bearti tamat pendidikan menengah, selanjutnya meniti pendidikan lain yang lebih tinggi levelnya yaitu di Perguruan Tinggi. Tidak semua alumni SMA bisa sampai di perguruan tinggi, ada yang terpaksa mengubur impian mengenyam pendidikan tinggi, misalnya karena faktor biaya, kemampuan akademik, dan lain sebagainya. Bagi yang punya keinginan serta ada kesempatan lanjut ke perguruan tinggi, tentu harus benar-benar menyiapkan langkah tepat, bila salah langkah bukan mustahil impian duduk di bangku kuliah hanya ada dalam angan-angan.
Dalam sebuah amanat pembina upacara, Senin 13 Februari 2017, pemimpin upacara saat di lapangan upacara bendera SMA Negeri Unggul Aceh Timur adalah Bu Poppy Elviani, menurut Bu Poppy, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh calon alumni SMAN Unggul Aceh Timur, antara lain :
- Perhatikan kecendrungan nilai di raport. Nilai di buku raport menunjukkan potensi yang ada pada siswa. Ini modal awal para siswa memperoleh informasi awal mau lanjut ke mana. Bagi siswa peminatan IPA misalnya, jangan lah memilih fakultas Ekonomi, tapi pilihlah sesuai dengan peminatan yang telah digeluti sejak 3 tahun lalu. Bukan tidak boleh masuk fakultas ekonomi dan menjadi ahli ekonomi, akan lebih maksimal jika pendidikan tinggi yang akan ditempuh sejalan dengan apa yang telah dipersiapkan di SMA. Begitupun sebaliknya. Tetapi ini hanya informasi awal.
- Lihat hobby. Apa yang menjadi hobby para siswa. Kalau hobby menolong orang yang sakit, suka membantu meringankan beban orang lain, senang dikehiupdan bermasyarakat, siswa bisa memilih fakultas kedokteran, atau mungkin Fakultas Kesehatan Masyarakat, atau jurusan lain yang nantinya banyak melakukan kegiatan kemasyarakatan. Begitupan kalau siswa hobby dengan hal-hal yang berhubungan dengan mesin, silahkan ambil teknik mesin, atau jurusan lain yang serumpun.
- Kemampuan ekonomi keluarga. Pilih jurusan, lokasi kampus, yang memang terjangkau secara ekonomi. lain halnya kalau siswa mendapat beasiswa, tentu bebas memilih dimana saja dan jurusan apa saja. Jangan sampai pendidikan di kampus berakhir di tengah jalan lantaran tidak cukup pembiayaannya.
Minggu, 29 Januari 2017
BELAJAR ADALAH PERUBAHAN
Pembina upacara hari ini adalah Mrs. Harpilla Disky. Penugasa pembina di sini terjadwal dengan baik, semua guru, baik itu PNS maupun non PNS akan mendapatkan giliran menjadi pembina upacara dan jadwalnya pun disusun sampai semua guru mendapat kesempatan menjadi pembina. Kalau ada yang berhalangan di semester ini, maka bisa dipastikan semester depan akan melaksanakan tugas sebagai pembina.
Ada yang menarik saat penyampaian amanat pembina upacara hari ini. Mrs. Pilla mengurai tentang situasi kekinian yang terjadi diunggul. Mrs. Pilla mengingatkan pada siswa bahwa belajar adalah proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak baik menjadi baik, dari yang kurang menjadi lebih. Utamanya pada persoalan etika (moralitas). Siswa di SMA Negeri Unggul adalah orang-orang yang terpilih, manusia unggulan, maka harus memiliki etika yang sesuai dengan predikatnya itu. Tidak layak siswa di sekolah ini melakukan sesuatu yang tidak etis, tidak sesuai dengan standar moralitas negeri ini. Apalagi kalau dikaitkan dengan ahklaqur karimah, tentu lebih tidak sesuai lagi.
Pembina upara yang sangat bersemangat juga menyampaikan sebuah perumpaan cerdas tentang jati diri siswa unggulan. Umpama sebuah botol, akan dihargai sebagaimana isi di dalam botol. dengan kandungan isinya sebagai berikut:
- Bila botol kita isi air minum, mungkin harganya hanya Rp. 3000.
- Bila botol diisi dengan jus, harganya bisa Rp. 10.000,
- Bila botol diisi dengan madu, mungkin saja harganya lebih dari Rp. 100.000,- dan
- Bila botol tersebut diisi dengan parfum (parfume) tentu harganya lebih mahal lagi.










