Jumat, 06 Desember 2013

EMERGENCY PROGRAM PENDIDIKAN MAROKO

Saat hasil TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) Negara Maroko diumumkan tahun 2003, capaian siswa  negara ini berada di bawah rata-rata internasional. Rata-rata nilai matematika siswa maroko tidak melebihi angka 347 (rata-rata internasional adalah 495) dan memperoleh skor rata-rata 304 di bidang science (rata-rata internasionalnya adalah 474). Nilai kemampuan membaca siswa maroko juga tidak terlalu tinggi, hanya mencapai rata-rata 323 dari nilai tertinggi 500 dan sekitar 74% memiliki keterampilan yang rendah berdasarkan data PIRLS.

Hasil evaluasi nasional yang dilakukan Kementerian Pendidikan Maroko Tahun 2008 menunjukkan bahwa 50% siswa kelas IV, VI, VIII, dan IX memperoleh hasil yang rendah untuk mata pelajaran Bahasa Arab, Bahasa Prancis, Matematika dan Sains (Fisik dan Kimia).

Menyikapi hasil yang dicapai oleh dunia pendidikannya, Pemerintah Maroko menyusun “Emergency Program”. Emergency Program ini berisi 27 buah proyek (kegiatan). Berikut ini beberapa program bidang pendidikan yang masuk dalam Emergency Program tersebut, yaitu:

E1.P1. Promoting and democratizing preschool education. Proyek ini dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan di rumah dengan pendidikan yang berlangsung di sekolah.

E1.P5. Combating school wastage. Proyek ini termasuk di dalamnya  mengurangi siswa tinggal kelas atau drop out, khususnya siswa yang berasal dari pedalaman dan pelajar puteri.

E.1.P8. Improving the curriculum.  Tujuan dari proyek ini adalah : 1) pembuatan lembaga pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (CBA). 2) menghubungkan penelitian tentang inovasi pendidikan dengan kebutuhan nyata. 3) peningkatan pembelajaran sains dan teknologi.

E1.P10. Integrating ICT and innovation in student’s learning. Kegiatannya berupa penyediaan sarana dan prasarana ICT serta pelatihan guru dan pengembangan bahan ajar digital.

E1.P12. Improving ‘School Life’. Penguatan dalam pelaksanaan nmanajemen sekolah, pengayaan kegiatan ekstra kurikuler yang bekerjasama dengan klub-klub profesional.

E.2.P2. Promoting excellence. Memberikan wadah bagi pelajar dengan prestasi/bakat luar biasa. Termasuk didalamnya menyediakan sekolah lanjutan yang sesuai bagi siswa berprestasi.

E3.P1. Strengthening the skills of educational personnel. Memperbaiki sistem pendidikan keguruan. Proyek ini juga memperbaiki sistem pelatihan guru sehingga sesuai dengan kebutuhan sekolah.

E3.P2. Strengthening the mechanismes of inspection and teacher supervision. Proyek ini fokus pada peningkatan keahlian pengawas sekolah dan prsedur pelaksanaan supervisi guru.

E3.P6. Improving the teaching of languages. Peningkatan kemampuan komunikasi menggunakan bahasa nasional dan bahasa asing melalui konten yang bervariasi.

Itulah 9 dari keseluruhan 27 Emergency Program Negara Maroko dalam rangka memperbaiki mutu pendidikan mereka. Tulisan ini bukan untuk membandingkan apa yang telah Maroko lakukan dengan program-program peningkatan mutu di Indonesia. Meski saat ini Maroko masih berada di bawah Indonesia, tetapi untuk jangka panjang rasanya kita perlu juga merumuskan emegency program yang bukan hanya sekedar ganti kurikulum, melainkan program secara menyeluruh untuk mengangkat kualitas pendidikan Indonesia dalam menyiapkan generasi emas di masa depan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar