Minggu, 07 Juni 2015

MEMAKNAI LOMBA GURU, KEPALA, DAN PENGAWAS BERPRESTASI


Kegiatan tahunan ini berlangsung di Asrama Haji Banda Aceh, dimulai sejak tanggal 1 Juni s.d 5 Juni 2015. Ajang tertinggi di Level propinsi untuk memilih siapakah guru dan tenaga kependidikan terbaik yang layak mewakili Propinsi Aceh ke level Nasional. Sebuah ajang yang mempertemukan guru, kepala, dan pengawas sekolah dari 23 Kabupaten / Kota se Aceh. Acara yang semestinya sudah familiar di kalangan pendidik, karena gaungnya memang sudah lama sekali didengungkan, sejak era orde baru hingga sekarang. Inilah satu-satunya kegiatan resmi yang berjenjang, dari level sekolah hingga level nasional untuk memilih guru, kepala, dan pengawas terbaik yang ada di republik ini.

Lomba sederhana ini menilai peserta dalam 4 aspek penilaian, 1) portofolio, 2) ujian tulis (sesuai dimensi kompetensi), 3) presentasi karya tulis ilmiah, dan 4) wawancara. Selain keempat aspek tersebut, ada satu lagi mata penilaian yaitu pengamatan selama kegiatan berlangsung. Pengamatan ini dilakukan oleh tim panitia untuk memantau sikap yang ditunjukkan oleh peserta selama kegiatan berlangsung. Jadi, peserta tidak bisa seenaknya meninggalkan jadwal kegiatan yagn telah ditentukan panitia. Harus patuh dan taat, bila melanggar maka hilanglah peluang juara.

Pelaksanaan kegiatan ini di level Kabupaten Aceh Timur sendiri "miskin" peserta. Para pendidik, baik guru, kepala, dan pengawas sekolah sepertinya enggan mengikuti kegiatan dengan hadiah jutaan rupiah ini. Betapa tidak, untuk juara I di aceh timur, sang juara akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 8.000.000,-, juara II sebesar 1 juta, dan juara ketiga diberikan dana pembinaan sebesar setengah juta rupiah. Kompensasi yang besar untuk seorang guru, tetapi lomba ini di Aceh Timur kian tidak ada penambahan jumlah peserta secara signifikan. Bukanlah lomba namanya, bila peserta yang ikut  hanya satu atau dua orang. Namun, itulah kondisi yang ada dalam pelaksanaan lomba guru prestasi tahun 2015 ini di Kabupaten Aceh Timur.

Hal yang tidak jauh berbeda juga berlaku di lomba sejenis pada level propinsi. Dari 23 Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Aceh, tidak semua Kabupaten / Kota mengirimkan wakilnya, malah ada daerah yang hanya diwakili oleh satu orang peserta. Ironi. Padahal, hadiah yang ditawarkan untuke kegiatan ini luar biasa, juara 1 akan mendapatkan fasilitas umroh plus mewakili propinsi ke level nasional. Juara 2, mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 10.000.000,-, Juara 3 Rp. 8.000.000, Juara 4 (harapan 1) mendapatkan 6 Juta rupiah, dan terakhir juara ke 5 (harapan 2) mendapatkan uang sebesar empat juta rupiah.


Sebagian pendidik ada yang kurang sependapat dengan kegiatan lomba ini, "masa guru berprestasi ditentukan oleh tebalnya dokumen portofolio, itukan tidak mencerminkan kinerja guru yang sesungguhnya". Begitulah komentar umum yang saya terima. Secara luas tentu banyak komentar lain yagn kurang sependapat dengan kegiatan ini. Bagi saya pribadi,kegiatan ini ada sisi positifnya, pertama, saya bisa bertemu dengan rekan guru,kepala sekolah, dan pengawas sekolah se Aceh. Ini tentu kesempatan yang baik untuk berbagi dan menimba pengalaman mereka. Saya malahan datang ke ajang ini tanpa ada membawa misi untuk menjadi juara, maklum, masa kerja saya masih begitu muda untuk menjadi duta pengawas berprestasi Aceh di level nasional. Oleh karena itu, selama kegiatan ini saya betul-betul menikmatinya meskipun menu makanan tidak bisa dinikmati setiap hari

Kedua, kegiatan ini menjadi ajan uji diri. Seberapa berkualitaskah diri saya ini. Maklum, saat di Kabupaten tidak begitu teruji dengan jelas, karean peserta yang ikut sangat sedikit..

Dari sisi tempat pelaksanaan, tahun ini yang paling tidak ideal. Lomba paling bergengsi ini biasanya diadakan di hotel berbintang, tetapi kali ini dilaksanakan di sebuah asrama, yaitu asrama haji. Pemilihan asrama haji ini mungkin ada hubungan dengan hadiah berangkat umroh bagi juaara pertama...hehehe.

Ada satu hal yang bisa diambi pelajaran dari lomba guru prestasi ini, bahwa tidak ada prestasi instan.Para juara  harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Tetapi persiapan itu bukan TC, persiapan itu hanyalah menuntut para peserta untuk melaksanakan tupoksi dengan sebaik-baiknya. Berprestasilah dalam bekerja, insya Allah anda akan menjadi juara di Lomba ini.


Salam Prestasi

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Sukaa sekali dengan tulisannya pak Nurdin
    Kalau bagi saya, yang belum pernah ikut (ya iyalah saya guru Kemenag :) ), ajang ini bisa jadi bahan belajar dan refleksi untuk lebih baik. Terus semangaat pak, fokusnya tetap untuk kemajuan anak bangsa

    BalasHapus
  3. terima kasih bu Amel, masih belajar...ia, kemarin waktu juri menanyai saya tentang umroh bagi juara I, saya bilang bahwa saya datang bukan untuk itu saja, ada hal lain yaitu belajar di even ini...

    BalasHapus
  4. Doakan saya pak pengawas.. semoga dpt kesempatan untuk ikut ajang ini....

    BalasHapus
  5. Doakan saya pak pengawas... semoga dapat kesempatan ikut ajang ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga dapat kesempatan itu...

      Hapus