Selasa, 22 April 2014

MEWUJUDKAN MIMPI KECIL

Saat ditunjuk sebagai peserta lomba FLS2N mewakili sekolahnya dia begitu senang. Memang setiap tahun dia selalu menjadi duta berbagai kegiatan kesiswaan tingkat sekolah dasar di Kecamatan Peureulak. Mulai dari lomba berhitung, menyanyi sampai lomba sinopsis. Semua diikuti dengan penuh optimisme dan rasa senang. 
Juara I Phantomim dan Harapan I Nyanyi Sendiri
Menjadi peserta berbagai lomba -- yang terkadang dadakan penunjukkannya -- membuat dia begitu padat dengan aktivitas. Pagi berlatih, sedangkan siang hari sekolah sampai sore. Kedua orang tuanya mengkhawatirkan kesehatannya yang sejak kecil memang sering kena sakit, panas dalam. Sebelumnya, kedua orang tua dia sempat membujuk agar si anak tidak usah lagi ikut kegiatan lomba-lomba kesiswaan tahun 2014 ini, "nanti kamu capek neuk, gak cukup istirahat, harus latihan, lebih baik ditolak saja tawaran bu guru itu."
Bukannya nurut, dia malah bilang "gak apa-apa nyak, adek bisa kok bagi waktu," katanya.
Jawabannya itu tentu membuat kedua orang tuanya tidak bisa berbuat banyak selain memberikan izin dan doa agar semua program latihan dapat diikutinya dengan baik. Meskpun terkadang tak tega melihat tubuh kecilnya kecapean. Sejak latihan rutin di bulan ini, setiap pulang sekolah di sore hari dia nampak kelelahan.
"Adek gak usah maen lagi, kalo pulang sekolah di rumah aja istriahat", kata Ibunya.
"Gak apanya, adek kan cuma mau main bulutangkis di belakang, sama teman."
"Ia, tapi kemarin enyak liat adek main petak umpet juga, kan capek lari-lari." kata enyaknya.

Tepat tanggal 17 April 2014, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, Lomba Festival Seni Siswa Nasional tingkat SD se Kecamatan Peureulak dimana dia saat itu menjadi salah seorang peserta. Nomor lomba yang diikutinya adalah menyanyi sendiri (vocal solo). Meski kedua orang tuanya tahu bahwa kemampuan menyaninya tidaklah terlalu bagus, tapi dia tetap memaksakan diri mengikuti cabang tersebut. Padahal ada cabang lain yang boleh dia pilih namun ternyata diabaikannya, yaitu : menganyam, pantomim, pidato, dan cerita bergambar.
"adek gak mau ikut yang lain, adek mau ikut nyanyi," ucapnya kepada ibunya.
ibunya membeirkan masukan lagi "kalau nyanyi adek kan capek,harus hafal lagu, nada, musiknya. kalo gak bisa gimana?"
Dia tak menerima pendapat ibunya. Hari Rabu, 17 April 2014 adalah pembuktian hasil kerja kerasnya selama 1 bulan berlatih. Dia pun tampil dengan nomor urut 9. Ayahnya yang menyaksikan lomba hari itu nampak yakin bahwa untuk menembus target 3 besar sangat berat. Kualitas bernyanyi siswa SD di kota perlak ternyata lebih baik dibandingkan tahun 2010 lalu. Saat itu anaknya berhasil menjadi juara 2, TANPA PIALA.
Panggilan kepada peserta urutan 9, harap naik ke pentas. Dagdigdug hati sang ayah, "mampukah anakku tampil dengan baik," gumamnya dalam hati.
Tepukan tangan dan sorak sorai penonton bergemuruh, Alhamdulillah, dia telah selesai menunaikan tugasnya. Si ayah pun pamit pada anaknya dan guru-guru pendamping, pulang sebentar untuk shalat zuhur dan makan siang.

Diluar perkiraan, ternyata lomba ditutup lebih cepat dari jadwal. Saat ayahnya menjemput, sudah tidak ada lagi peserta lomba di lokasi lomba yang berada di SDN 1 Dama Tutong. Ternyata ananda itu telah kembali ke sekolah bersama rombangan. 
Saat si ayah menjemput di sekolah anaknya, dengan bangga anak itu pun berkata "babeh tunggu sebentar ya, adek mau ke kantor," katanya setengah berpesan.
"ia neuk, beh tunggu".
"Babeh, sekarang foto adek lah!" pintanya.
"Oh itu piala Adek" tanya sang bapak.
"Ia, ini piala adek yang pertama, seharusnya sudah ada 4, tapi yang lalu gak dikasih piala."
Sukses Mewujudkan Mimpi Kecil
Luar biasa, dia korbankan waktu bermainnya, menukar kesenangan bermain dengan kesibukan berlatih. Semua dia lakukan karena ingin memiliki Piala. Ya, piala yang mestinya sudah dia koleksi sejak tahun 2010 lalu. Piala-piala yang terpajang di lemari teman dan sudaranya telah menginspirasi dia untuk pantang menyerah. Sekarang, lelaki kecil ini adalah sang juara, meski hanya juara Harapan 1, itupun telah membuat kedua orang tuanya sadar bahwa sehebat apapun argumen intelektualitas orang tua, tidak bisa memadamkan semangat impian lelaki kecil. 
Ketulusan dan kejujuran dalam "bermimpi" adalah faktor penting keberhasilannya. Dia tidak punya misi lain, dia tidak ingin sesuatu yang lain, dia hanya ingin dihargai sebagai SANG JUARA. 

Selamat ya nak, semoga sukses dunia mu dan sukses juga buat akherat mu kelak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar